KABARIKA.ID, MAKASSAR — Menurut perkiraan para ilmuwan iklim, lebih dari 450.000 orang diprediksi akan meninggal dunia akibat tambahan suhu panas yang dibawa oleh fenomena “super El Niño” dalam enam bulan ke depan atau hingga Februari 2027.
Jumlah korban jiwa ini merupakan tambahan di luar kematian dini yang sudah terjadi akibat kenaikan suhu yang dipicu oleh krisis iklim.
Dampaknya akan terasa di seluruh dunia, mulai dari Indonesia hingga India, serta dari Nigeria hingga AS. Banyak lagi kematian yang diperkirakan akan terjadi akibat kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir yang dipicu oleh El Niño.
Estimasi kematian akibat suhu panas ini dilakukan pada tingkat regional. Para peneliti menyatakan bahwa proyeksi tersebut dapat membantu mengidentifikasi lokasi penerapan langkah-langkah perlindungan warga guna menyelamatkan nyawa.
Langkah-langkah tersebut dapat mencakup prakiraan suhu panas yang lebih akurat, penyediaan pusat pendingin sebagai tempat berlindung, penambahan staf medis pada saat suhu mencapai puncaknya, serta perlindungan bagi pekerja luar ruangan.
Baca juga: PBB Memperingatkan Dunia akan Kembalinya El Niño yang Kuat, Menyebabkan Suhu Global Tinggi
Fenomena El Niño yang saat ini memanaskan bumi telah melampaui rekor suhu tertinggi yang pernah tercatat untuk fenomena ini pada hari Senin (21/09/2026), beberapa bulan sebelum puncak intensitasnya diperkirakan terjadi.
Tingkat panasnya jauh melampaui peristiwa-peristiwa sebelumnya, hingga para ilmuwan menyebutnya “mencengangkan” dan berskala “Godzilla”.
El Niño merupakan fenomena iklim alami, namun dampaknya dapat diperparah oleh pemanasan global.
“Angka estimasi 451.000 jiwa ini begitu besar hingga mungkin terasa sulit untuk dibayangkan dampaknya secara emosional, namun angka tersebut terdiri dari orang tua dan anak-anak, kakek-nenek dan tetangga, serta orang-orang yang pergi bekerja, merawat keluarga, dan menjalani kehidupan mereka sehari-hari,” ujar Prof. Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab dan akademisi di Universitas Chicago, yang turut menyusun laporan tersebut.
Estimasi jumlah kematian ini mencakup periode dari bulan September hingga Februari 2027, yang merupakan batas akhir dari prakiraan suhu saat ini.
Namun, tingkat kematian akibat suhu panas yang tinggi diperkirakan akan terus berlanjut hingga Juni atau Juli 2027.
Negara-negara yang paling terdampak dalam enam bulan ke depan adalah negara-negara tropis, yaitu Nigeria, Indonesia, Sudan, India, dan Brasil.
Amerika Serikat termasuk dalam 20 negara yang paling terdampak, dengan proyeksi tambahan 3.500 kematian akibat suhu panas. Secara lebih luas, wilayah Sahel di Afrika dan Asia Tenggara juga terdampak parah.
Daftar 10 negara paling terdampak El Niño dan prediksi jumlah kematian akibat suhu panas, sebagaimana dilaporkan The Guardian.
1. Nigeria 31.000 orang,
2. Indonesia 19.251 orang,
3. Sudan 17.430 orang,
4. India 15.670 orang,
5. Brasil 13.271 orang,
6. Kongo 10.014 orang,
7. Nigeria 9.900 orang,
8. Chad 7.953 orang,
9. Filipina 6.504 orang, dan
10. Vietnam 5.566 orang.
El Niño sebagai Gambaran Masa Depan Kita
Para peneliti menyebut El Niño juga sebagai “gambaran masa depan kita”, karena fenomena ini mendorong kenaikan suhu hingga ke tingkat yang diprediksi akan terjadi akibat krisis iklim dalam 20 tahun mendatang.
“Meningkatkan respons darurat dan menargetkan upaya kita dengan lebih baik dapat menyelamatkan banyak nyawa tahun ini,” ujar Dr. Tamma Carleton dari University of California, Berkeley, salah seorang penulis laporan.
“Namun, 20 tahun dari sekarang, saat suhu ekstrem saat ini menjadi kondisi normal yang baru, kita tentu tidak ingin terus-menerus berada dalam situasi darurat. Kita perlu bergerak sekarang untuk merancang, menerapkan, dan mengevaluasi berbagai sarana yang dapat menyelamatkan nyawa di masa mendatang,” tambah Carleton.
Baca juga: Suhu Lautan Dunia Mencapai Rekor Tertinggi pada Agustus, Kondisinya Diperkirakan akan Semakin Parah
Proyeksi ini dibuat menggunakan metode yang telah melalui tinjauan sejawat (peer-reviewed) untuk melacak hubungan bulanan antara suhu dan kematian tambahan akibat panas di 24.378 wilayah di seluruh dunia.
Data tersebut digabungkan dengan prakiraan kenaikan suhu akibat El Niño pada bulan-bulan mendatang. Angka dasar (baseline) yang digunakan adalah jumlah kematian akibat panas pada bulan rata-rata dalam kurun waktu 1996 hingga 2025.
“Selama ini kita sudah bisa memprediksi kapan akan terjadi guncangan pada hasil panen dan memberikan peringatan dini mengenai hal itu. Laporan baru ini membuka peluang untuk melakukan hal serupa bagi dampak yang jauh lebih penting, bahkan bisa saya katakan dampak yang paling penting, yaitu kematian,” papar Greenstone.
Laporan tersebut rencananya akan diserahkan ke jurnal ilmiah yang menerapkan tinjauan sejawat, namun Greenstone menyatakan bahwa mengingat urgensi situasi saat ini, akan menjadi tindakan yang tidak bertanggung jawab jika kami menunda penyampaiannya.
Pasokan Pangan akan Ikut Terdampak
Pasokan pangan juga akan terdampak oleh El Niño dahsyat ini, bahkan sejak bulan Agustus.
Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa dampaknya kemungkinan akan menyebabkan sekitar 50 juta orang mengalami kelaparan akut dan memicu kenaikan harga.
Peristiwa El Niño besar pada tahun 1877–1878 mengakibatkan lebih dari 50 juta kematian akibat kekeringan dan kelaparan, dengan India, Brasil, dan Tiongkok sebagai wilayah yang terdampak paling parah.
Baca juga: Satelit Sentinel-6 Terus Memantau Perkembangan El Niño yang Semakin Menguat
Profesor Friederike Otto dari Imperial College London mengatakan kepada The Guardian pada hari Senin (21/09/2026) bahwa peristiwa El Niño saat ini merupakan redistribusi energi yang sangat besar dalam sistem iklim dan berbahaya, karena terjadi di tengah kondisi sistem iklim yang jauh lebih hangat akibat aktivitas manusia.
“Jadi, di banyak tempat di seluruh dunia, kita akan menyaksikan suhu ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya, beserta segala dampaknya terhadap kesehatan, ketahanan pangan, dan tekanan ketersediaan air. El Niño memang datang dan pergi, namun selama kita terus membakar bahan bakar fosil, fenomena ini terjadi pada kondisi dasar suhu yang semakin panas, sehingga masyarakat akan jauh lebih sulit menghadapi dampaknya,” jelas Otto. (rus)

