KABARIKA.ID, MAKASSAR — Menurut Copernicus Climate Change Service (C3S) milik Uni Eropa, suhu rata-rata lautan mencapai rekor 21,10 derajat Celsius (69,98 derajat Fahrenheit) pada hari Sabtu (22/08/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lautan dunia mencapai suhu yang lebih panas daripada rekor mana pun yang pernah tercatat sebelumnya, menurut data terbaru tersebut.
Suhu permukaan rata-rata tercatat sebesar 21,1°C. Peningkatan suhu laut ini merupakan indikator nyata dari krisis iklim.
Rekor tertinggi sebelumnya, dengan suhu 21,09 derajat Celsius (69,96 derajat Fahrenheit), terjadi pada bulan Maret 2024, menurut pernyataan dari C3S.
Lebih dari 90% panas yang terperangkap akibat karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil masuk ke dalam lautan.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa suhu laut yang lebih panas memperparah kenaikan permukaan laut dan badai ekstrem yang mengancam miliaran orang.
Juga memicu gelombang panas laut yang memusnahkan kehidupan laut dan mengganggu mata pencaharian masyarakat pesisir.
“Sebagai ilmuwan iklim, hal ini sama sekali tidak mengejutkan bagi saya. Hal ini sejalan dengan penelitian selama beberapa dekade yang menunjukkan bagaimana iklim kita berubah seiring dengan memanasnya planet ini. Dan tanpa adanya pengurangan pembakaran bahan bakar fosil, pemanasan ini akan terus berlanjut,” ujar Zachary Labe, ilmuwan iklim di Climate Central, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang penelitian iklim.

Musim panas di belahan bumi utara telah dilanda gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan yang memecahkan rekor di Eropa dan Amerika Utara, serta hujan lebat dan angin topan di Asia.
Lonjakan suhu panas laut ini diperparah oleh fenomena El Niño yang berkembang pesat, yang diperkirakan akan menjadi yang terpanas setidaknya dalam satu abad terakhir.
El Niño adalah variasi iklim alami yang meningkatkan suhu global dan mengubah pola cuaca, dengan dampak serius di seluruh dunia.
Baca juga: Satelit Sentinel-6 Terus Memantau Perkembangan El Niño yang Semakin Menguat
Fenomena El Niño yang baru ini telah menyebabkan rendahnya curah hujan monsun di India, kebakaran hutan besar di Indonesia, dan meningkatnya kekhawatiran akan kebakaran hutan di Australia.
Rekor suhu laut baru yang tercatat pada bulan Agustus ini sangat luar biasa karena suhu laut global biasanya mencapai titik tertinggi pada bulan Maret dan April, setelah musim panas di belahan bumi selatan.
Belahan bumi selatan memiliki wilayah lautan yang jauh lebih luas dibandingkan belahan bumi utara.
“Rekor ini merupakan satu lagi tanda jelas bahwa lautan sedang mengalami tekanan yang kian meningkat,” ujar Dr. Samantha Burgess dari C3S Uni Eropa, lembaga yang menghasilkan data baru tersebut.
Menurut Burgess , El Niño memang menambah panas pada sistem ini, namun hal itu terjadi di tengah pemanasan akibat aktivitas manusia yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
“Dampaknya sudah terlihat nyata: jumlah hari terjadinya gelombang panas laut secara global telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak awal tahun 1990-an,” tambah Burgess.
Lautan yang lebih hangat berkontribusi terhadap kenaikan permukaan air laut akibat pemuaian termal air, sehingga meningkatkan risiko banjir bagi masyarakat pesisir dan negara-negara kepulauan yang dataran rendah.
Suhu laut yang lebih tinggi juga memperparah peristiwa cuaca ekstrem, karena laut yang lebih hangat mentransfer lebih banyak energi dan uap air ke atmosfer, yang kemudian mengintensifkan curah hujan dan badai.
Sebagian besar CO2 penyebab pemanasan global yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan perusakan hutan diserap oleh lautan. Namun, lautan yang lebih panas memiliki efisiensi yang lebih rendah dalam menyerap CO2.
Para ilmuwan menyatakan bahwa hal ini berpotensi melemahkan salah satu penyangga alami terpenting bumi dalam menghadapi pemanasan global.
Brian O’Donnell, direktur Campaign for Nature mengatakan, dua langkah utama diperlukan untuk mengatasi rekor pemanasan laut ini.
Pertama, emisi bahan bakar fosil harus dikurangi secara cepat.
Kedua, negara-negara wajib melindungi ekosistem laut dan pesisir. Hutan kelp, hutan bakau, dan lahan basah menyerap karbon, sementara terumbu karang memberikan perlindungan dari badai serta menyediakan habitat.
“Lebih dari 190 pemerintah telah berkomitmen untuk melindungi dan melestarikan setidaknya 30% wilayah bumi pada tahun 2030. Kini saatnya mewujudkan komitmen tersebut menjadi tindakan konservasi yang efektif dan berkelanjutan di lapangan,” papar O’Donnell.
Data dari C3S ini mencakup wilayah samudra di luar kawasan kutub. Arktik merupakan wilayah dengan laju pemanasan tercepat di bumi.
Data yang tercatat mencakup periode sejak tahun 1979, saat satelit mulai menghasilkan data berkualitas tinggi. (rus)
