KABARIKA.ID, TEL AVIV — Keluarga sandera dan anggota parlemen oposisi pada hari Rabu (6/08/2025) mengecam rencana Peredana Menteri (PM) Netanyahu yang alkan menduduki seluruh Jalur Gaza. Sebab, keputusan berisiko membahayakan para sandera yang masih ditawan di Gaza oleh Hamas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Arah yang dituju kabinet dan pemerintah akan menyebabkan semua sandera mati karena kelaparan, pemukulan, dan penyiksaan atau dibunuh selama operasi IDF,” kata Pemimpin Oposisi Israel, Yair Lapid dalam sebuah pernyataan.

Lapid juga memperingatkan bahwa kelompok Hamas memiliki sensor untuk mendeteksi pasukan yang mendekat dan bom yang siap meledak.

“Sebagai gantinya, kami akan memerintah dua juta warga Palestina, membayar listrik dan air mereka, membangun sekolah dan rumah sakit untuk mereka dengan uang pajak Israel. Anda mencaplok, Anda membayar. Sejak saat itu, semuanya menjadi tanggung jawab kami,” ujar Lapid.

Ia juga memperingatkan bahwa langkah tersebut akan mengisolasi Israel secara internasional dan menghapus harapan akan dukungan regional untuk rekonstruksi pascaperang.

Sementara itu, pemimpin Partai Demokrat, Yair Golan, dalam sebuah video yang diunggah ke media sosial, mengatakan, “Para orang tua terkasih, lihatlah anak-anak kalian. Jika visi mesianis Smotrich dan Ben Gvir yang terganggu terwujud, anak-anak kalian juga, yang baru masuk kelas satu, akan jatuh dalam perang abadi di Gaza,” ujar Golan.

Mantan jenderal tersebut juga menyoroti Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben Gvir, dengan mengatakan bahwa kedua pejabat sayap kanan itu tidak pernah ingin mengembalikan para sandera.

“Smotrich dan Ben Gvir selalu menginginkan pendudukan, pemukiman, dan pemerintahan militer di Gaza. Untuk mewujudkan visi fanatik mereka, mereka akan mengorbankan para sandera, mereka akan mengorbankan para prajurit,” tandas Golan.

Ia memperingatkan bahwa “siapa pun yang menentang kegilaan mesianik total mereka, akan langsung dicap sebagai pengkhianat, persis seperti yang mereka lakukan sekarang terhadap Kepala Staf IDF Eyal Zamir, yang beberapa saat lalu mereka rayakan.

Panglima IDF dilaporkan secara luas menentang pendudukan seluruh Jalur Gaza.

Ibu Sandera: Panglima IDF harus Mengundurkan Diri Jika Rencana Disetujui

Anat Angrest, yang putranya, Matan Angrest, ditawan di Gaza, mengatakan kepada Channel 12 bahwa keluarga para sandera berkomunikasi dengan Zamir, dan bahwa ia tahu Zamir menentang tindakan apa pun yang akan membahayakan nyawa para sandera.

“Jika pemerintah memutuskan untuk memperluas perang ke wilayah-wilayah tempat para sandera ditawan, saya berharap Zamir mengundurkan diri dari jabatannya dan mengatakan dengan tegas, saya tidak akan membahayakan para sandera,” kata Angrest kepada jaringan media tersebut.

Angrest juga mencatat bahwa putranya, Matan, adalah seorang tentara yang menjadi tanggung jawab Zamir.

“Saya tidak percaya bahwa, sebagai komandannya, Zamir akan mengirim tentara, bukan untuk menyelamatkan tentara yang terluka di medan perang, melainkan untuk membahayakan dan membunuhnya,” kata Angrest.

Ia mengaku khawatir pemerintah Israel akan melanjutkan rencana kontroversial tersebut, dengan mencatat bahwa mereka telah mengganti semua pejabat keamanan yang mendukung kesepakatan beberapa waktu lalu.

Pendapat Angrest itu merujuk pada pemecatan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, mantan kepala Shin Bet, Ronen Bar, dan mantan kepala staf IDF Herzi Halevi.

Gal Gilboa-Dalal, yang saudara laki-lakinya, Guy Gilboa-Dalal, ditawan di Gaza, mengatakan kepada Channel 12, “Kita tidak bisa membiarkan diri kita sendiri membahayakan para sandera melalui operasi militer di tempat mereka ditawan. Kita harus membebaskan mereka hidup-hidup yang masih hidup sampai sekarang,” kata Gilboa-Dalal.

“Pada saat yang sama, saya tidak percaya untuk hanya duduk dan menunggu Hamas menyerahkan mereka. Itu tidak akan terjadi. Tanpa tekanan militer, mereka tidak akan kembali. Saya harap kita tahu apa yang kita lakukan,” ujar Gilboa-Dalal.

Demonstrasi di Depan Kantor Kementerian Pertahanan

Sementara itu, ratusan orang berkumpul pada hari Selasa (6/08/2025) untuk melakukan aksi duduk di Jalan Kaplan, Tel Aviv, di luar markas Kementerian Pertahanan yang dipimpin oleh Shift 101, kelompok aktivis berpakaian putih yang sebagian besar diam.

Para pengunjuk rasa yang dipimpin oleh Viki Cohen, ibu sandera Nimrod Cohen dan Maccabit Meir, bibi sandera Ziv dan Gali Berman, bersama dengan yang lainnya, berbaris ke Jalan Kaplan dari Lapangan Dizengoff.

Para aktivis memblokir Jalan Raya Ayalon di Tel Aviv, dalam sebuah protes yang menuntut pembebasan para sandera yang ditawan di Jalur Gaza dan menentang pemerintah, Selasa (5/08/ 2025). (Foto: ToI)

“Pemerintah ini menghancurkan semua nilai-nilai kita. Kita mendengar desas-desus tentang penaklukan Gaza, itu akan menjadi hukuman mati bagi para sandera kita, itu akan mengubah mereka menjadi Ron Arads, merujuk pada navigator Angkatan Udara yang ditangkap di Lebanon pada tahun 1986 dan tidak pernah dibebaskan,” kata Cohen.

“Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi, dan itulah mengapa kita di sini untuk terus berjuang, untuk mengatakan, ‘cukup, hentikan’,” tandas Cohen.

Cohen mengatakan kepada Netanyahu bahwa waktunya telah tiba untuk menghentikan hasratnya akan balas dendam, untuk mendengarkan rakyat dan menghentikan perang, serta memulangkan semua sandera agar masyarakat Israel dapat mulai membangun kembali dirinya dan menguburkan orang-orang yang gugur.

Idit Ohel, ibu dari sandera Alon Ohel, mengatakan ia tak punya banyak hal untuk dikatakan, kecuali bahwa ia sangat merindukan putranya.

Kombinasi enam foto tanpa tanggal menunjukkan para sandera, dari kiri atas: Hersh Goldberg-Polin, Ori Danino, Eden Yerushalmi; dari kiri bawah: Almog Sarusi, Alexander Lobanov, dan Carmel Gat. Mereka dibunuh oleh Hamas yang menculik mereka di Gaza pada Agustus 2024. (Foto: ToI)

“Saya sangat merindukannya sampai terkadang saya lupa bagaimana rasanya menjadi ibu Alon. Sulit untuk berbicara, sulit untuk berdiri, sulit untuk berjalan. Yang paling sulit adalah bernapas, mengetahui putra Anda berada di tempat itu. Saya tidak menginginkan ini terjadi pada siapa pun,” ujar Ohel.

Di akhir demonstrasi, para pengunjuk rasa menyanyikan sebuah lagu untuk memperingati ulang tahun keenam Ariel Bibas, yang ditawan bersama ibu dan adik laki-lakinya pada 7 Oktober 2023, dan dibunuh dalam penahanan. Jenazahnya dikembalikan untuk dimakamkan pada bulan Februari.

Hamas Mampu Mendeteksi Pasukan IDF yang Mendekat

Saluran 12 juga melaporkan pada hari Selasa (5/08/2025) bahwa para sandera yang dibebaskan telah memperingatkan pejabat keamanan, serta keluarga para sandera yang masih ditahan di Gaza, bahwa Hamas memiliki sarana teknologi, seperti kamera dengan sensor atau bom yang siap diledakkan, untuk mendeteksi pasukan IDF yang mendekat.

Ada preseden Hamas membunuh tawanan ketika tentara Israel berada di dekatnya. Musim panas lalu, para penculik Hamas membunuh enam sandera yang ditawan di sebuah terowongan di bawah kota Rafah di selatan, saat IDF beroperasi di daerah tersebut. Beberapa hari kemudian, para sandera ditemukan tewas.

Hingga saat ini, 20 sandera diyakini masih hidup dalam penyanderaan, sementara 28 orang telah dipastikan tewas, dan Israel telah menyatakan keprihatinan mendalam terkait dua orang lainnya.

Angka-angka tersebut mencakup jenazah seorang tentara yang tewas pada 2014.

Hamas membebaskan 30 sandera, 20 warga sipil Israel, lima tentara, dan lima warga negara Thailand, dan jenazah delapan tawanan Israel yang terbunuh selama gencatan senjata antara Januari dan Maret, serta satu sandera tambahan, seorang warga negara ganda Amerika-Israel, pada bulan Mei sebagai isyarat kepada AS.

Kelompok Hamas juga membebaskan 105 warga sipil selama gencatan senjata dalam seminggu pada akhir November 2023, dan empat sandera dibebaskan sebelumnya pada minggu-minggu awal perang.

Sebagai imbalannya, Israel telah membebaskan sekitar 2.000 pejuang Palestina, tahanan keamanan, dan tersangka teroris Gaza yang ditahan selama perang.

Delapan sandera telah diselamatkan hidup-hidup oleh pasukan, dan jenazah 49 orang juga telah ditemukan, termasuk tiga orang yang secara keliru dibunuh oleh militer Israel saat mereka mencoba melarikan diri dari para penculik, dan jenazah seorang tentara yang tewas pada 2014. (Tol/rus)