KABARIKA.ID, NEW YORK — Presiden AS Donald Trump mengklaim pada awal pekan ini bahwa perang Gaza akan mencapai akhir yang konklusif dalam dua atau tiga minggu ke depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Trump mengatakan bahwa ada dorongan diplomatik serius yang sedang berlangsung untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir dua tahun tersebut.

“Saya pikir dalam dua hingga tiga minggu ke depan, Anda akan mendapatkan hasil yang cukup baik, konklusif, sebuah akhir yang konklusif,” kata Trump kepada para wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, Senin (25/08/2025).

Alasan Trump dalam membuat prediksinya masih belum jelas, mengingat Israel telah mengindikasikan bahwa mereka tidak tertarik dengan proposal gencatan senjata bertahap yang disetujui Hamas minggu lalu.

Sebaliknya, pemerintah Israel justru terus melanjutkan rencana untuk menaklukkan Kota Gaza, yang diperkirakan akan memakan waktu setidaknya beberapa bulan.

Trump telah berulang kali menggunakan rentang waktu “dua minggu” untuk memprediksi kapan perkembangan besar akan terjadi, baik di dalam maupun luar negeri, mulai dari perang Rusia-Ukraina, negosiasi nuklir Iran, hingga pembicaraan tarif, meskipun seringkali tidak terbukti.

Sebelumnya di musim panas, Trump berulang kali memprediksi kesepakatan segera untuk membebaskan sandera, namun tidak terwujud.

Meskipun klaimnya tentang akan berakhirnya perang di Gaza dalam waktu hingga tiga minggu ke depan, namun pada saat yang sama Trump membuat pernyataan yang mengambang, tidak mengandung harapan tentang penyelesaian perang Gaza.

“Sulit untuk mengatakannya karena mereka telah berperang selama ribuan tahun. Tapi saya pikir kami melakukan pekerjaan yang sangat baik. Itu memang harus berakhir, tetapi orang-orang tidak boleh melupakan tanggal 7 Oktober,” ujar Trump.

Pernyataan Trump itu muncul di tengah meningkatnya tekanan di dalam Israel agar PM Benjamin Netanyahu menerima gencatan senjata sementara.

Awal bulan ini, menyusul keputusan Israel untuk melanjutkan penaklukan Kota Gaza, Hamas menerima usulan perjanjian yang akan menukar 10 sandera hidup dengan tahanan keamanan Palestina selama gencatan senjata 60 hari yang dapat diperpanjang ke tahap kedua, jika kedua belah pihak menyetujui persyaratan gencatan senjata permanen.

Puluhan ribu pengunjuk rasa berkumpul untuk demonstrasi di luar markas militer Kirya di Tel Aviv, yang diselenggarakan oleh keluarga sandera yang ditawan oleh Hamas di Jalur Gaza, menuntut pemerintah untuk mengamankan pembebasan para sandera, Sabtu (23/08/2025). (Foto: ToI)

Kepala Staf IDF, Eyal Zamir, dilaporkan mengatakan bahwa ada kesepakatan sandera di atas meja, kita harus menerimanya.

Dalam beberapa hari terakhir, anggota Knesset berhaluan tengah, Benny Gantz telah meminta para pemimpin partai oposisi lainnya untuk bergabung dengan pemerintahan Netanyahu agar dapat menerima kesepakatan tersebut dan mengesampingkan mitra sayap kanan Netanyahu, meskipun lawan Netanyahu berhaluan tengah lainnya telah menolak gagasan tersebut.

Keluarga dari 50 sandera yang ditawan oleh Hamas di Gaza dijadwalkan mengadakan protes selama sehari, pada Selasa (26/08/2025) yang bertujuan untuk meningkatkan tekanan bagi pembebasan mereka.

Israel yakin setidaknya 20 sandera masih hidup, meskipun dalam pernyataan terpisah sebelumnya pada hari Senin, Trump mengatakan jumlahnya lebih rendah.

Para ahli mengatakan bahwa Trump memandang negosiasi hanya melalui kacamata pembebasan sandera, dan kurang tertarik untuk menjamin gencatan senjata dan penyelesaian politik yang lebih luas di Jalur Gaza.

“Gencatan senjata bagi Trump, seperti kebanyakan politisi Amerika, selalu berkaitan dengan para sandera. Jika nyawa warga Palestina terselamatkan, itu hal yang baik. Jika perang berakhir, itu tidak masalah. Tapi itu bukan tujuannya. Lagipula, mereka hanyalah warga Palestina. Tidak ada keuntungan bagi Trump,” ujar Khaled Elgindy, seorang peneliti tamu di Pusat Studi Arab Kontemporer Universitas Georgetown.

Kabinet keamanan Israel dilaporkan akan menggelar pertemuan pada Selasa ini, meskipun belum jelas apakah pertemuan tersebut akan berfokus pada pembahasan proposal gencatan senjata atau rencana penaklukan Kota Gaza.

Menyusul prediksi Trump tentang akhir perang, seorang reporter bertanya kepada presiden apakah AS sedang melakukan diplomasi untuk mencapai tujuan tersebut.

“Ada… dorongan diplomatik yang sangat serius,” jawab Trump.

Menlu AS Marco Rubio, yang juga berada di ruangan itu, menambahkan bahwa salah satu syarat berakhirnya perang adalah Hamas tidak lagi memimpin Gaza, yang juga merupakan salah satu tuntutan utama Israel.

“Perang ini tidak pernah berhenti. Kami selalu mencari solusi. Kami ingin perang ini berakhir, tetapi perang ini harus berakhir tanpa Hamas,” kata Rubio.

Netanyahu pada, hari Senin, mengindikasikan bahwa serangan yang direncanakan masih menjadi prioritas, dengan mengatakan bahwa keputusan kabinet keamanannya untuk memerintahkan militer mengambil alih Kota Gaza dalam beberapa bulan mendatang adalah sangat jelas. (rus)