KABARIKA.ID, NEW YORK — Amerika Serikat (AS) yang selalu vokal menyuarakan hak asasi manusia, berani tampil sendirian tanpa nurani kemanusiaan di antara para anggota Dewan Keamanan Perserikan Bangsa-Bangsa (DK PBB).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seluruh anggota DK PBB, kecuali AS, pada hari Rabu (27/08/2025), menyatakan bahwa kelaparan akut di Gaza merupakan krisis buatan manusia (manmade crisis).
Mereka juga memperingatkan bahwa penggunaan kelaparan sebagai senjata perang dilarang berdasarkan hukum humaniter internasional.
Dalam pernyataan bersama, ke-14 anggota DK PBB menyerukan gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen, membebaskan semua sandera yang ditahan oleh Hamas dan kelompok-kelompok lain, meningkatkan jumlah bantuan substansial masuk ke seluruh wilayah Gaza, dan agar Israel segera dan tanpa syarat mencabut semua pembatasan pengiriman bantuan.
“Kelaparan di Gaza harus segera dihentikan. Waktu sangat penting. Darurat kemanusiaan harus ditangani tanpa penundaan dan Israel harus mengubah arah,” bunyi pertanyaan mereka.
Anggota DK PBB tahun 2025 berjumlah 14 negara, terdiri dari lima anggota tetap, yaitu 1. Tiongkok,
2. Prancis,
3. Federasi Rusia,
4. Inggris, dan
5. Amerika Serikat.
Sedangkan sepuluh negara anggota tidak tetap adalah:
1. Aljazair,
2. Denmark,
3. Yunani,
4. Guyana,
5. Korea Selatan,
6. Pakistan,
7. Panama,
8. Sierra Leone,
9. Slovenia, dan
10. Somalia.
Kota Gaza dan sekitarnya secara resmi mengalami kelaparan akut, dan kemungkinan akan menyebar, demikian yang ditetapkan oleh pemantau kelaparan global, pada Jumat (22/08/2025).
Sistem Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) menyatakan 514.000 orang atau hampir seperempat dari total warga Palestina di Gaza, mengalami kelaparan akut dan jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 641.000 pada akhir September.

Pada hari Rabu (27/08/2025), Israel meminta pemantau kelaparan global (IPC) untuk mencabut penilaian tersebut.
Israel menolak temuan tersebut karena dianggap bias, dengan mengatakan bahwa IPC mendasarkan surveinya pada data parsial yang sebagian besar disediakan oleh Hamas, yang tidak memperhitungkan masuknya makanan baru-baru ini.
Pada pertemuan DK PBB mengenai Gaza, pada Rabu (27/08/2028) di Markas Besar PBB di New York City, AS, Duta Besar AS untuk PBB, Dorothy Shea, mempertanyakan kredibilitas dan integritas laporan IPC, dengan mengatakan bahwa laporan tersebut tidak memenuhi kedua kriteria tersebut.
“Kita semua menyadari bahwa kelaparan adalah masalah nyata di Gaza dan ada kebutuhan kemanusiaan yang signifikan yang harus dipenuhi. Memenuhi kebutuhan tersebut merupakan prioritas bagi Amerika Serikat,” ujar Shea di depan para 15 anggota DK PBB.
Sikap AS yang berani tampil sendirian menolak fakta kelaparan akut di Gaza, menunjukkan keberpihakannya yang nyata kepada Israel dan dukungan tak terlihat atas perang dan tindakan genosida di Gaza. (rus)
