KABARIKA.ID, WASHINTONG — Rencana jahat Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, terbongkar ke publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam proposal rencana pengambilalihan Gaza oleh AS pascaperang disebutkan bahwa Trump akan mengubah daerah kantong tersebut menjadi pusat teknologi.

Untuk memuluskan rencananya itu, Trump mendesak PM Netanyahu agar mempercepat operasi militer di Gaza guna mengalahkan Hamas.

Sedangkan untuk memindahkan warga Gaza, Trump mempertimbangkan untuk membayar setiap warga Gaza yang akan pindah sementara maupun permanen sebesar 5.000 Dolar AS atau sekitar Rp82 juta (kurs Rp16.400).

Dalam proposal rencana rahasia AS itu disebutkan, sekitar 375.000 warga Palestina yang akan meninggalkan Gaza untuk selamanya.

Rencananya, Gaza ditempatkan di bawah perwalian yang dikelola oleh AS.

Pemerintahan Trump kini sedang mempertimbangkan proposal rekonstruksi Gaza pascaperang yang akan menempatkan Jalur Gaza di bawah kendali AS selama satu dekade dan membayar sekitar seperempat penduduknya untuk relokasi.

Informasi detail tentang rencana rahasia Trump ini dirilis oleh The Washington Post, Minggu (31/08/2025) menurut sebuah sumber anonim.

Mengubah Gaza Menjadi “Riviera Timur Tengah”

Sumber anonim yang mengetahui proses tersebut mengatakan, aspek-aspek kunci dari proposal tersebut dirancang untuk mewujudkan harapan Presiden Trump untuk mengubah Gaza menjadi “Riviera Timur Tengah.”

Rencana rahasia Trump tersebut akan menempatkan daerah kantong Gaza di bawah perwalian yang dijalankan AS selama kurang lebih 10 tahun, sampai Pemerintahan Palestina yang telah direformasi dan dideradikalisasi siap untuk menggantikannya.

Melansir Washington Post, proposal rencana rahasia Trump setebal 38 halaman itu diberina nana GREAT Trust, yang merupakan akronim dari Gaza Reconstitution, Economic Acceleration, and Transformation (Rekonstitusi Gaza, Akselerasi Ekonomi, dan Transformasi).

Presiden AS Donald Trump, kanan, mendengarkan keterangan utusan khusus Gedung Putih untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, beberapa waktu lalu. (Foto: ToI)

Selama periode 10 tahun itu, daerah kantong Gaza yang dilanda perang tersebut akan dibangun kembali menjadi pusat pariwisata dan manufaktur teknologi yang menguntungkan dengan biaya dari investor publik dan swasta.

Pembangunan kembali itu akan mendanai proyek-proyek konstruksi besar, termasuk pabrik kendaraan listrik, pusat data, resor pantai, dan kompleks apartemen bertingkat tinggi.

Sementara itu, warga Palestina akan didorong untuk pindah ke luar Jalur Gaza. Mereka yang memilih untuk meninggalkan Gaza, baik sementara maupun permanen, akan menerima pembayaran tunai sebesar $5.000 (setara dengan Rp82 juta) dan subsidi untuk menutupi biaya sewa selama empat tahun di tempat lain, serta biaya makanan selama satu tahun, menurut laporan tersebut.

Rencana Trump itu memperkirakan bahwa sekitar seperempat dari lebih dari dua juta penduduk Gaza akan memilih untuk pindah ke luar wilayah tersebut selama masa rekonstruksi.

Dokumen itu menyebutkan, dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen dari jumlah 375.000 orang akan memilih untuk meninggalkan daerah kantong tersebut secara permanen.

Rencana rahasia Trump tersebut didasarkan pada model keuangan yang dikembangkan oleh tim Boston Consulting Group (BCG) yang berbasis di Washington D.C.

Perusahaan itu juga bekerja sama dengan kontraktor utama Amerika di Gaza Humanitarian Foundation yang didukung AS dan Israel.

Para konsultan memperkirakan pengembalian investasi empat kali lipat, yang akan mencapai total sekitar $100 miliar selama periode rekonstruksi berdurasi 10 tahun.

Mereka juga menyarankan dalam presentasi bahwa biaya tambahan dapat dikurangi dengan mendorong lebih banyak warga Gaza untuk beremigrasi dan meminta lebih banyak sumbangan bantuan internasional.

Menurut proposal GREAT Trust tersebut, setelah Gaza didemiliterisasi dan dideradikalisasi, GREAT Trust akan menyerahkan kewenangan kepada Pemerintah Palestina yang independen, yang pada akhirnya akan bergabung dengan Abraham Accords, yaitu perjanjian normalisasi yang ditengahi oleh Trump pada masa jabatan pertamanya antara Israel dan beberapa negara Arab.

Rencana Itu Telah Rampung Sejak April

Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS menolak berkomentar mengenai proposal GREAT Trust itu.

Sementara BCG mengatakan bahwa pekerjaan pada rencana perwalian belum disetujui secara tegas, bahkan dua mitra senior di balik pemodelan tersebut kemudian dipecat.

Seorang sumber yang mengetahui perencanaan tersebut mengatakan kepada Washington Post, bahwa dokumen tersebut telah rampung pada bulan April dan hanya sedikit perubahan sejak saat itu.

“Rencana tersebut tidak bersifat preskriptif, tetapi masih menjajaki kemungkinan-kemungkinan yang ada,” ujar sumber tersebut.

Sumber itu melanjutkan bahwa beberapa aspek dari proposal tersebut pertama kali dilaporkan oleh Financial Times pada bulan Juli lalu.

Laporan tersebut muncul setelah pertemuan Trump di Gedung Putih, pada hari Rabu (27/08/2025) dengan sejumlah pejabatnya, termasuk Menlu Marco Rubio, utusan khusus untuk Timur Tengah Steve Witkoff, mantan PM Inggris Tony Blair, dan menantu Trump, Jared Kushner, untuk membahas cara mengakhiri perang Gaza dan langkah-langkah selanjutnya.

The Sunday Times melaporkan bahwa Blair yang telah menyusun rencana Gaza pascaperang selama beberapa bulan terakhir, mengatakan kepada Trump dalam pertemuan tersebut bahwa warga Gaza sangat membutuhkan kepemimpinan baru dan bermimpi menjadi Dubai berikutnya.

Trump Muak dengan Perundingan Penyanderaan

Sementara terus melanjutkan rencana pascaperang di Gaza, Trump dilaporkan telah kehilangan kepercayaan pada efektivitas negosiasi kesepakatan gencatan senjata sandera.

Menurut laporan Channel 12 pada hari Minggu (31/08/2025), Presiden Trump dilaporkan mendesak PM Netanyahu untuk mempercepat kekalahan Hamas.

Sikap Presiden Trump tersebut dilaporkan telah mendorong Netanyahu untuk melakukan penaklukan militer penuh atas Gaza atau kesepakatan komprehensif yang sepenuhnya sesuai dengan persyaratan Israel, meskipun para pejabat keamanan menentang rencana tersebut.

Trump tampak yakin bahwa Hamas dapat dikalahkan secara telak, bahkan mungkin dalam dua minggu, dan merasa telah memenuhi misi untuk memulangkan sebagian besar sandera, terutama setelah pembebasan sandera Amerika-Israel Edan Alexander pada bulan Mei. (rus)