KABARIKA.ID, PARIS — Kelompok kebebasan media Reporters Without Borders (RWB) melaporkan pada hari Senin (1/09/2025), bahwa lebih dari 250 media dari 70 lebih negara di dunia menggelar protes di “halaman depan” untuk menyoroti tewasnya ratusan jurnalis yang dibunuh oleh tentara Israel dalam perang di Gaza.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dengan tingkat pembunuhan jurnalis di Gaza oleh tentara Israel, sebentar lagi akan ada sedikit yang tersisa untuk memberi Anda informasi,” kata direktur umum RWB, Thibaut Bruttin, dalam sebuah pernyataan.
Protes tersebut dimuat di halaman depan berbagai media, termasuk stasiun televisi Qatar Al Jazeera, situs berita Inggris The Independent, surat kabar Prancis La Croix dan L’Humanite, serta TAZ dan Frankfurter Rundschau dari Jerman.
Menurut data RWB, sekitar 220 jurnalis tewas di tengah kampanye militer Israel di Gaza.
Israel berkelik dengan menyatakan bahwa banyak dari mereka terlibat aktif dalam kegiatan teror dan menggunakan jurnalisme sebagai kedok.
Protes tersebut digelar seminggu setelah lima jurnalis, beberapa di antaranya bekerja untuk Al Jazeera, Associated Press, dan Reuters, tewas dalam serangan Israel di Rumah Sakit Nasser di kota Khan Younis, Gaza selatan.
Israel mengatakan serangan terhadap rumah sakit Nasser yang menewaskan jurnalis, ditujukan untuk menghancurkan kamera yang dipasang oleh Hamas.
PM Benjamin Netanyahu menyebut peristiwa itu sebagai kecelakaan tragis.
Serangan tersebut menuai kecaman internasional, bahkan Presiden AS Donald Trump, sekutu penting Israel, mengatakan ia tidak senang dengan peristiwa itu.
Pada awal Agustus lalu, enam jurnalis tewas dalam serangan udara Israel lainnya di luar Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza.
Israel menuduh salah satu jurnalis yang tewas dalam serangan itu memimpin pasukan Hamas yang bertugas meluncurkan roket ke Israel.
Untuk membuktikan tuduhannya itu, IDF menunjuk dokumen-dokumen yang dirilis Oktober lalu, yang menurut militer disita di Gaza yang merinci peran reporter Al Jazeera dalam kelompok Hamas.

Media Peserta Aksi
Lebih dari 250 media yang berpartisipasi dalam aksi itu, meliputi media cetak berupa surat kabar harian dan situs berita online. Beberapa di antaranya adalah:
1. Mediapart (Prancis),
2. Al Jazeera (Qatar),
3. The Independent (Inggris),
4. +972 Magazine (Israel/Palestina),
5. Local Call (Israel/Palestina),
6. InfoLibre (Spanyol),
7. Forbidden Stories (Prancis),
8. Frankfurter Rundschau (Jerman),
9. Der Freitag (Jerman),
10. RTVE (Spanyol),
11. L’Humanité (Prancis),
12. The New Arab (Inggris),
13. Daraj (Lebanon),
14. New Bloom (Taiwan),
15. Photon Media (Hong Kong),
16. La Voix du Center (Kamerun),
17. Guinée Matin (Guinea),
18. The Point (Gambia),
19. L’Orient Le Jour (Lebanon),
20. Media Today (Korea Selatan),
21. N1 (Serbia),
22. KOHA (Kosovo),
22. Public Interest Journalism Lab (Ukraina),
23. Il Dubbio (Italia),
24. Intercept Brasil (Brasil),
25. Agência Pública (Brasil),
26. Le Soir (Belgia),
27. La Libre (Belgia),
28. Le Desk (Maroko), dan Semanario
29. Brecha (Uruguay).
Empat Tuntutan
Media yang berpartisipasi dalam aksi RWB itu menuntut diakhirinya impunitas atas kejahatan Israel terhadap reporter Gaza, evakuasi darurat para reporter yang ingin meninggalkan Jalur Gaza, dan agar pers asing diberikan akses independen.
RWB mengatakan telah mengajukan empat pengaduan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas kejahatan perang yang dilakukan tentara Israel terhadap jurnalis di Gaza selama 22 bulan terakhir.
Sejalan dengan seruan yang diluncurkan oleh RSF dan Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) pada bulan Juni lalu, media yang terlibat dalam kampanye ini mengajukan empat tuntutan.
Pertama, menuntut perlindungan jurnalis Palestina dan diakhirinya impunitas atas kejahatan yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap mereka di Jalur Gaza.
Kedua, menuntut agar pers asing diberikan akses independen ke Jalur Gaza.
Ketiga, menuntut agar pemerintah di seluruh dunia menerima jurnalis Palestina yang berupaya dievakuasi dari Gaza.
Keempat, dengan pembukaan Sidang Umum PBB ke-80 yang akan berlangsung delapan hari lagi, kami menuntut tindakan tegas dari komunitas internasional dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan kejahatan tentara Israel terhadap jurnalis Palestina.
Reaksi Israel
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Israel mengecam inisiatif RWB itu sebagai contoh bias anti-Israel.
“Ketika 150 media secara serempak memilih untuk berhenti melaporkan berita, membuang nilai-nilai pers dan pluralitas opini ke tempat sampah, dan malah menerbitkan manifesto politik yang seragam dan telah disusun sebelumnya yang menentang Israel, itu menunjukkan betapa besarnya bias terhadap Israel di media global,” kata Kemlu Israel.
“Laporan yang kita lihat di media global mengenai Gaza tidak menceritakan kisah sebenarnya di sana. Laporan tersebut menceritakan kampanye kebohongan yang disebarkan Hamas. Ini bukan jurnalisme, ini politik,” lanjut Kemlu Israel.
Meskipun Israel telah berulang kali mengecam media internasional karena mengandalkan informasi yang berasal dari Gaza yang dikuasai Hamas, Israel telah melarang jurnalis memasuki Jalur Gaza sejak awal perang, kecuali untuk perjalanan sesekali yang dikontrol ketat oleh militer. (rus)
