KABARIKA.ID, DUBAI — Iran mengatakan pada hari Sabtu (8/08/2026) bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai kendali atas Selat Hormuz hampir tercapai, namun hal itu tidak akan cukup untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesepakatan antara Iran dan Oman mengenai selat yang memisahkan kedua negara tersebut dipandang vital bagi kesepakatan yang lebih luas, untuk mengakhiri perang yang bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Merespon serangan keroyokan dari kedua negara itu, Teheran memperkuat cengkeramannya dan menguasai sepenuhnya Selat Hormuz yang merupakan jalur ekspor energi utama dunia.
Seorang pejabat AS, yang meminta anonimitas, mengatakan pada hari Jumat (7/08/2026) bahwa Washington memperkirakan akan segera ada kesepakatan antara Iran dan Oman sehingga lalu lintas minyak dapat kembali berjalan normal.
Menteri Luar Negeri, Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran dan Oman sangat dekat dengan kesepakatan mengenai rute pelayaran baru melalui selat tersebut, namun pembukaan kembali jalur itu akan bergantung pada kondisi lain, termasuk kompensasi AS kepada Iran.
Sekretaris badan keamanan nasional tertinggi Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, menyebutkan tuntutan lain sebagai prasyarat pembukaan kembali Selat Hormuz, termasuk mengakhiri ancaman AS terhadap Iran, menghentikan agresi terhadap Iran serta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak, mencabut blokade dan sanksi terhadap Iran, serta membebaskan aset-aset Iran.
Oman Laporkan Negosiasi yang Positif
Oman mengecam apa yang disebutnya sebagai serangan berulang terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, tanpa menunjuk pihak yang bersalah.
Negara itu menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran mengenai pengaturan pelayaran melalui Selat Hormuz berjalan positif dan konstruktif.
“Oman menekankan pentingnya menghindari tindakan apa pun yang dapat memengaruhi negosiasi ini dan kemajuan yang telah dicapai, dengan cara mempertimbangkan kepentingan semua pihak,” demikian pernyataan kementerian luar negeri Oman.
Araqchi menyatakan bahwa skema pemisahan lalu lintas pelayaran yang sebelumnya diterapkan di selat tersebut tidak lagi dapat diterima oleh Teheran.
“Iran saat ini sedang membahas rute sementara dengan Oman, sembari menyelesaikan masalah teknis dan hukum terkait rute permanen,” ujar Araqchi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang dikenal sebagai sosok yang relatif moderat, mengatakan bahwa ia meyakini saat ini adalah waktu terbaik untuk mencapai kesepakatan.
“Terdapat kohesi, kekuatan, dan persatuan di dalam negeri, dan sejauh yang saya ketahui, Iran dianggap sebagai pihak yang menang dan kuat dalam perang ini,” demikian pernyataan beliau yang dikutip oleh kantor-kantor berita Iran.
Iran telah merespons serangan AS dengan menyasar pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk dan Yordania, serta menyerang kapal-kapal yang melintasi selat sempit tersebut.
Sebelum perang pecah, jalur Selat Hormuz dilintasi seperlima dari total pengiriman minyak dan gas dunia.
UEA menyatakan pada hari Sabtu (8/08/2026) bahwa Iran telah menyerang sebuah kapal yang berafiliasi dengan perusahaan minyak negara UEA menggunakan rudal saat kapal tersebut melintasi Selat Hormuz.
Tidak ada laporan mengenai korban luka dalam serangan terbaru terhadap kapal-kapal di wilayah tersebut.
Badan pemantau perdagangan maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah kapal terbakar setelah terkena proyektil tak dikenal, namun api berhasil dipadamkan dan tidak ada laporan mengenai dampak terhadap lingkungan.
Belum ada tanggapan segera dari pihak berwenang Iran. Media Iran mengutip laporan UEA tersebut tanpa menyebut Iran sebagai pihak yang disalahkan atas serangan itu.
Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahan Presiden Trump berulang kali mengisyaratkan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz mungkin akan segera tercapai.
Namun Iran membantah adanya perundingan yang sedang berlangsung.
Belum jelas apakah rangkaian negosiasi terbaru ini akan menghasilkan kesepakatan yang lebih permanen.
“Begitu kesepakatan untuk memulihkan pelayaran komersial tanpa hambatan diumumkan, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah AS ini akan bergantung pada pelaksanaan komitmen oleh pihak Iran,” ujar pejabat AS tersebut pada hari Jumat (7/08/2026).
.
Sementara itu, Komando Pusat AS pada hari Sabtu menyatakan telah mengizinkan lebih dari 30 kapal melintas untuk membawa bantuan kemanusiaan sejak blokade saat ini dimulai.
“Pasukan AS telah menolak masuk 53 kapal, melumpuhkan dua kapal, dan menaiki dua kapal lainnya,” demikian pernyataan Komando Pusat AS di media sosial.
Harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya telah melonjak tajam di Iran sejak konflik bermula pada bulan Februari.
Dalam konferensi pers hari Sabtu, Pezeshkian menyalahkan AS atas kesulitan dalam mengimpor barang-barang kebutuhan pokok. Ia tidak menyinggung adanya pengecualian blokade untuk bantuan kemanusiaan.
Korps Garda Revolusi Iran, pihak yang menargetkan kapal-kapal tersebut, juga menyatakan pada hari Sabtu bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada kesediaan Washington menerima syarat-syarat Iran dan tidak terkait dengan negosiasi antara Iran dan Oman.
“Begitu Amerika Serikat menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz pasti akan dibuka kembali,” ujar juru bicara Garda Revolusi, Hossein Mohebbi, sebagaimana dikutip kantor berita Iran, Tasnim.
Konsesi Terbesar
Sebuah usulan kesepakatan antara Iran dan Oman untuk membantu mengakhiri perang lima bulan antara Iran dan AS, akan memberikan kendali kepada Teheran atas kapal-kapal yang memasuki Teluk melalui Selat Hormuz.
Hal ini diungkapkan oleh seorang sumber senior Iran dan dua pejabat regional, seperti dilansir Reuters pada hari Rabu. Hal itu menandai salah satu konsesi terbesar yang pernah diberikan kepada Iran.
Para pejabat AS telah berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah menyetujui Iran mengendalikan akses ke jalur perdagangan pasokan energi terpenting di dunia tersebut.
Belum jelas apakah mereka telah berupaya mengubah ketentuan dalam kesepakatan itu.
Kini, Iran memanfaatkan situasi permusuhan ini untuk membenarkan pengenaan biaya (tol) terhadap kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz.
Tindakan tersebut, ditambah dengan penembakan terhadap kapal-kapal yang mencoba melintasi selat tanpa izin, telah sangat mengganggu pengiriman global, memicu lonjakan harga energi, serta mendorong inflasi. (rus)
