KABARIKA.ID, MAKASSAR — Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh pakar dari Capital Medical University di Tiongkok menemukan bahwa arteri yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh kita tidak luput dari penyusupan mikroplastik ke dalam jaringan tubuh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui pemeriksaan terhadap 17 sampel arteri manusia yang diambil selama prosedur pembedahan, para peneliti menemukan adanya mikroplastik di semua sampel tersebut, dengan konsentrasi yang relatif lebih tinggi dibandingkan kadar plastik yang ditemukan dalam darah.
Hal ini merupakan kekhawatiran nyata bagi kesehatan manusia, terutama karena mikroplastik sebelumnya telah dikaitkan dengan aterosklerosis dalam penelitian pada tikus.
Kondisi ini terjadi ketika arteri menyempit akibat penumpukan plak lemak (ateroma), yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
“Kami menemukan bahwa tiga jenis sampel arteri yang meliputi arteri koroner, karotis, dan aorta mengandung mikroplastik,” tulis para peneliti dalam makalah yang telah diterbitkan dalam Journal of Hazardous Materials.
Para peneliti menemukan bahwa arteri yang mengandung plak lemak berbahaya (sampel arteri koroner dan karotis) memiliki kadar mikroplastik sekitar dua kali lipat dibandingkan arteri yang tidak memilikinya (sampel arteri aorta). Sebuah bukti potensial yang mengaitkan mikroplastik dengan penyakit kardiovaskular.

Namun, hal ini perlu disikapi dengan hati-hati dan diuji lebih lanjut dalam penelitian lain. Sebab, bisa jadi perbedaan jenis arteri turut memengaruhi kadar mikroplastik tersebut.
Bagaimana mikroplastik dapat merusak tubuh dan sejauh mana dampaknya, merupakan pertanyaan yang terus diselidiki oleh para peneliti.
“Mikroplastik dapat menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan sel, mengganggu metabolisme energi dan lipid, serta memicu respons imun-inflamasi, menurut sejumlah bukti dari penelitian pada hewan,” tulis para peneliti.
Bagaimana mikroplastik ini masuk ke dalam tubuh juga masih menjadi pertanyaan terbuka, meskipun kemungkinan melibatkan berbagai jalur masuk.
Menelannya melalui makanan dan minuman, serta menghirupnya langsung dari udara, kemungkinan besar sama-sama berperan signifikan.
Dari sumber-sumber tersebut, partikel-partikel ini dapat meresap ke dalam atau di antara sel untuk mencapai aliran darah, dan dari sana masuk ke dalam arteri.
Polietilena tereftalat (PET) merupakan jenis plastik yang paling dominan dalam sampel jaringan tersebut, mencakup 73,7 persen dari plastik yang terdeteksi.
Ini adalah jenis plastik yang digunakan untuk botol air, kemasan makanan, dan pakaian.
“Proporsi mikroplastik dalam sampel arteri mungkin berkaitan dengan frekuensi paparan manusia terhadap mikroplastik ini, hal yang patut diteliti lebih lanjut,” tulis para peneliti.
Sebuah studi terpisah pada tahun 2024 yang diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine menemukan hasil serupa.
Studi tersebut memantau 257 pasien selama 34 bulan dan menemukan bahwa hampir 60 persen di antaranya memiliki kadar polietilena yang dapat diukur di dalam plak arteri mereka.
Berbeda dengan studi yang telah dipublikasikan dalam Journal of Hazardous Materials, para partisipan dipantau dari waktu ke waktu, yang menunjukkan adanya hubungan antara kadar mikroplastik yang lebih tinggi dengan risiko stroke dan serangan jantung yang lebih besar.
Mengingat banyaknya faktor lain yang mungkin berperan, kita belum dapat memastikan adanya hubungan langsung antara mikroplastik di arteri dan penyakit kardiovaskular, namun bukti-bukti yang ada semakin bertambah.
Mengingat penggunaan plastik hampir tidak dapat dihindari di dunia modern, informasi lebih lanjut mengenai bagaimana plastik masuk ke dalam tubuh dan dampaknya di dalam tubuh sangatlah dibutuhkan.
“Studi ini menyediakan data berharga untuk penilaian bahaya lebih lanjut terkait dampak mikroplastik terhadap kesehatan kardiovaskular manusia,” tulis para peneliti.
“Di masa mendatang, kita perlu mengidentifikasi sumber mikroplastik di dalam arteri, mempelajari pola penyebarannya di arteri, dan yang terpenting, memperjelas dampak mikroplastik ini terhadap kesehatan manusia, khususnya terkait penyakit arteri,” demikian kesimpulan para peneliti. (rus)
