Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika angka-angka lebih dipercaya daripada doa, dan grafik ekonomi lebih ditunggu daripada fajar, jiwa manusia sering tumbuh dalam kecemasan yang berlebihan. Manusia bekerja keras, berlari cepat, tetapi tetap dihantui tanya.  Apakah esok masih ada cukup? Di tengah kegelisahan itu, Surah Hud ayat 6 turun seperti embun pada dada yang sesak.

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Hud: 6)
Ayat ini turun bukan sekadar sebagai informasi metafisik, tetapi sebagai terapi eksistensial. Dalam tafsir klasik, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir, frasa “wa mā min dābbah” mencakup seluruh makhluk yang melata dan bergerak di bumi—manusia, hewan, bahkan makhluk yang tak terlihat oleh mata.

Tidak satu pun yang tercecer dari jangkauan rahmat-Nya. Rezeki bukan sekadar materi, tetapi segala yang menopang keberlangsungan hidup.Tidak ada satu pun makhluk melata—sekecil semut yang berjalan di retakan tanah, sebesar paus yang menembus samudra—kecuali rezekinya berada dalam jaminan Allah.

Ayat ini bersifat universal. Semua makhluk hidup, tanpa kecuali, berada dalam pemeliharaan
Lebih jauh, Al-Tabari memaknai frasa ‘alallāhi rizquhā sebagai penegasan tanggungan dari Allah sendiri. Sebuah deklarasi ketuhanan bahwa Pemilik kehidupan juga Pemelihara kehidupan. Ini bukan romantisme spiritual, melainkan fondasi teologis tauhid rububiyah. Allah tidak menciptakan lalu membiarkan. Ia menciptakan dan memelihara tanpa jeda, tanpa lupa.

Ayat ini kemudian bergerak ke wilayah yang lebih dalam: “wa ya‘lamu mustaqarraha wa mustauda‘aha.” Dia mengetahui tempat tinggalnya dan tempat penyimpanannya. Para mufasir menjelaskan bahwa mustaqarr dapat berarti tempat menetap—dunia yang kita pijak—sementara mustauda‘ menunjuk pada tempat penyimpanan—rahim, kubur, atau fase-fase eksistensi yang tak kita sadari. Artinya, bukan hanya rezeki kita yang diketahui, tetapi seluruh perjalanan ontologis kita. Dari rahim yang gelap hingga liang lahat yang sunyi, kita berada dalam pengetahuan yang sempurna.

Di sinilah ayat ini berubah menjadi pelukan teologis. Sebab yang paling melelahkan bukanlah kerja, melainkan rasa sendirian. Manusia modern letih bukan hanya karena kurangnya harta, tetapi karena hilangnya rasa dipelihara. Ada yang merasa hidup adalah kompetisi tanpa pengawasan. Padahal ayat ini menegaskan: kullun fi kitabin mubin.
Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata ( Lauh Mahfudz).

Dalam horizon tasawuf, ini adalah panggilan untuk tawakkal. Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakkal bukan meninggalkan usaha, melainkan melepaskan ketergantungan hati dari sebab. Sebab hanyalah jembatan. Allah adalah Tujuan. Ketika hati bergantung pada sebab, ia mudah runtuh. Tetapi ketika hati bersandar pada Musabbib al-Asbab, ia menemukan ketenangan yang tak tergoyahkan.

Jalaluddin Rumi berbisik, “Apa yang ditakdirkan untukmu akan mencarimu, meski kau bersembunyi di balik gunung.” Kalimat ini seolah menafsirkan Hud 6 dalam bahasa cinta. Rezeki bukan sekadar hasil perburuan, melainkan bagian dari skenario Ilahi yang bergerak menuju kita.

Namun ayat ini bukan dalih untuk kemalasan. Burung tetap mengepakkan sayapnya setiap pagi. Akar tetap menembus tanah yang keras. Jaminan Ilahi tidak menghapus ikhtiar, tetapi membersihkan kecemasan dari ikhtiar itu. Kita bekerja, tetapi hati tidak tergadai. Kita berusaha, tetapi jiwa tidak panik.

Hud 6 mengajarkan keseimbangan yang indah. Antara gerak dan pasrah. a
Antara keringat dan doa. Ia memulihkan martabat manusia sebagai makhluk yang dipelihara, bukan sekadar pejuang ekonomi yang kesepian.

Barangkali, di saat dada terasa sempit oleh tagihan dan tuntutan, ayat ini ingin kita dengar kembali dengan lebih hening. Tidak ada satu pun makhluk yang luput dari jaminan-Nya. Termasuk engkau. Termasuk hari esokmu.

Dan di sanalah, di antara huruf-huruf wahyu itu, jiwa yang letih menemukan rumahnya kembali. (*)
___________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”