๐—ข๐—น๐—ฒ๐—ต: ๐—ฆ๐˜‚๐—ณ ๐—ž๐—ฎ๐˜€๐—บ๐—ฎ๐—ป

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

LEBARAN boleh berlalu, tetapi panggung candaan belum benar-benar usai.

Di pertemuan keluarga, teman sejawat, hingga handai taulan, candaan terus beredar. Ruang tamu penuh tawaโ€”kelakar, lelucon, senda gurau, hingga banyolan ringan.

Saya melihat fenomena ini sebagai ekspresi kegembiraan dalam silaturahmi. Dalam perspektif Islam, candaan dibolehkan selama tetap berkata benar. Rasulullah ๏ทบ pun sesekali bercanda dengan sangat elegan. Salah satunya kisah seorang nenek meminta doa agar masuk surga.

Beliau ๏ทบ bersabda bahwa nenek-nenek tidak masuk surga. Ia pun menangis. Rasulullah ๏ทบ lalu menjelaskan: ia akan masuk surga dalam keadaan muda kembali. Candaan beliau selalu berpijak pada kebenaran.

Gambaran ini memberi isyarat: di surga, kesempurnaan bukan lagi angan.

Super sekaliโ€”di surga semua wajah โ€œcakepโ€, sementara di dunia banyak โ€œcakeppoโ€.
Masya Allah, semua kembali mudaโ€”malolo pulanaโ€”di Jannah Firdaus.

Di dunia, orang rela membayar mahal demi tampak cantik dan gagah. Ada pula memasang lensa kontak โ€œpembesarโ€, hingga ikan mero terlihat seperti paus orca.

Bulu mata โ€œanti badaiโ€ super tebal ala tedong bonga, bermaksud mempercantik, justru mengundang badai tawa karena berlebihan dipinset.

Pendeknya, candaan bolehโ€”selama tidak melukai.

Pernah pula Rasulullah ๏ทบ makan kurma bersama Ali bin Abi Thalib. Beliau diam-diam meletakkan biji kurma di depan Ali, lalu pura-pura menuduhnya paling lapar. Padahal itu milik beliau sendiri.

Ada lagi kisah seseorang meminta tunggangan. Rasulullah ๏ทบ menyuruhnya menaiki anak unta. Lelaki itu bingung, karena tampak unta dewasa. Rasulullah ๏ทบ menjawab ringan: bukankah setiap unta berasal dari anak unta?

Dari sini terlihat satu garis penting: candaan boleh, tetapi tidak boleh keluar dari kebenaran.

Saat memberi kuliah, saya hampir selalu menyelipkan candaanโ€”agar suasana tetap hidup.

Suatu kali saya berkata:

โ€œAnak-anak sekalian, HP Bapak ini dibeli di Arab. Kalau saya lemparkan, tidak akan pecah.โ€

Hampir serentak mereka menyahut, โ€œCoba dilihat, Pak!โ€

Saya jawab santai, โ€œTidak akan pecah kalau saya lemparkanโ€ฆ nanti sampai.โ€

Seketika kelas pecah oleh tawa. Ada langsung paham, ada juga baru tersenyum beberapa detik kemudian.

Candaan sederhana, tetap jujur, dan menyegarkan suasana.

Lantas, bagaimana corak candaan orang To Liseโ€™ (Sidrap) dalam kehidupan sehari-hari?

Melalui seni lecco-lecco adanna, masyarakat Liseโ€™ gemar bercanda, namun tetap berpijak pada kebenaranโ€”ada tongeng.

Simak kisah saat camat memerintahkan mengumpulkan sapi di lapangan untuk keperluan cap dan administrasi.

Ada sapi Bali, sapi Anggoloโ€™, sapi Mattanruโ€™, sapi birang, dan sapi Pakiddang-kiddang.

Orang-orang Liseโ€™ mematuhi secara harfiah. Mereka menggiring sapi ke lapangan, lalu pulang begitu saja.

Petugas kebingungan. Tak satu pun tahu pemiliknya.

Saat ditanya, mereka menjawab polos: perintah hanya menyebut kumpulkan sapi, tidak termasuk pemiliknya.

Ini mi namanya โ€œsatu kosong!โ€

Perintah dipahami tanpa konteks. Program cap sapi pun ambyar seketika.

Ada lagi kisah penumpang To Liseโ€™ bertanya tarif dari Pangkajene ke Makassar. Sopir menjawab, โ€œLima puluh ribu, Pak.โ€

Naiklah To Liseโ€™ itu.
Setiba di tempat tujuan, penumpang itu turun tanpa membayar. Alasannya sederhana: selama perjalanan ia tidak duduk karena mobilnya truk fuso.

Pakalasi To Liseโ€™e!

Untungnya, sopir tidak sakit gigi mangngittuโ€™-ngittuโ€™.

Inilah candaan: sederhana, nyata, tanpa manipulasi.

Bagi To Liseโ€™, ada kekeliruan saat orang memanggil penjual di pinggir jalan. Teriakan โ€œEs!โ€ atau โ€œBakso!โ€ dianggap kurang tepat. Dalam logika mereka, panggillah orangnya: โ€œHei pabbalu esโ€ atau โ€œHoeee pabbalu baksoโ€.

Fragmen ini mengajarkan pentingnya akurasi diksi.

Namun, dari semua kisah itu, ada batas tegas dalam bercanda.

Candaan ibarat garam: pas terasa nikmat, berlebih justru merusak.

Dalam Islam, ada tiga perkara tidak boleh dijadikan candaan: nikah, talak, dan rujuk. Jika terucap, hukumnya tetap berlaku.

Jangan bermain api pada perkara sakral. Ini bukan lagi humor, melainkan kecerobohan berakibat fatal.

Rasulullah ๏ทบ mengingatkan: celakalah orang berbicara (bercanda) lalu berdusta demi membuat orang lain tertawa.

Kebohongan tetaplah kebohongan, meski dibungkus candaan.

Selain itu, banyak candaan gagal karena tidak membaca situasiโ€”kapan harus bicara, kapan harus diam.

Candaan menghina fisik, ras, atau profesi bukan lagi lucu, tetapi perundungan.

Jangan berlindung di balik kalimat, โ€œBegitu saja baper!โ€ Masalahnya bukan pada kepekaan orang lain, melainkan pada rendahnya empati.

Menakut-nakuti, mengejutkan, atau menjadikan agama sebagai olokan juga melampaui batas adab.

Hindari bercanda di tengah suasana duka. Orang berduka butuh empati, bukan tawa.

Akhirnya, candaan bukan sekadar soal lucu atau tidak. Ia adalah cermin adab.

Jika tawa lahir tanpa melukai, di situlah candaan menjadi ibadah.

Jadi, silakan tertawaโ€”jangan melukai.

๐—”๐—ต๐—ฎ๐—ฑ, ๐Ÿญ๐Ÿฌ ๐—ฆ๐˜†๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—น ๐Ÿญ๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿณ ๐—›/ ๐Ÿฎ๐Ÿต ๐— ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐˜ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฒ