Oleh: Baharuddin Solongi
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Kementerian Ketenagakerjaan tahun 2025, jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia telah melampaui 1 juta orang, dengan tingkat pengangguran sarjana sekitar 5–6 persen dari total lulusan universitas dan pendidikan tinggi. 
Di tengah pertumbuhan jumlah perguruan tinggi dan meningkatnya angka lulusan sarjana setiap tahun, Indonesia menghadapi ironi besar: semakin banyak lulusan perguruan tinggi, tetapi tidak semuanya mudah mendapatkan pekerjaan. Sebagian bahkan terjebak dalam pengangguran terselubung, bekerja tidak sesuai kompetensi, atau kehilangan arah setelah wisuda.
Fenomena ini bukan semata kesalahan mahasiswa. Persoalan utamanya terletak pada belum sinkronnya sistem pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia nyata. Kampus masih terlalu sering menghasilkan lulusan yang kuat secara teori, tetapi lemah dalam pengalaman praktis, kemampuan adaptasi, dan keberanian menciptakan peluang usaha.
Padahal dunia sedang berubah sangat cepat. Revolusi digital, kecerdasan buatan, otomatisasi industri, dan ekonomi berbasis inovasi telah mengubah cara manusia bekerja. Banyak jenis pekerjaan lama mulai hilang, sementara pekerjaan baru terus bermunculan dengan tuntutan keterampilan yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, ijazah saja tidak lagi cukup.
Karena itu, perguruan tinggi Indonesia perlu melakukan transformasi besar. Kampus tidak boleh lagi hanya menjadi “pabrik pencetak sarjana”, melainkan harus menjadi pusat pembentukan manusia produktif, kreatif, adaptif, dan mandiri.
Salah satu kesalahan mendasar pendidikan tinggi kita adalah dominasi pendekatan teoritis. Mahasiswa terlalu lama berada di ruang kelas, tetapi terlalu sedikit berhadapan dengan realitas sosial, industri, teknologi, dan dunia usaha. Akibatnya, banyak lulusan mengalami “culture shock” ketika memasuki dunia kerja.
Mulai sekarang, orientasi pendidikan tinggi perlu bergeser menjadi lebih berbasis praktik. Mahasiswa harus dibiasakan magang sejak dini, mengerjakan proyek nyata, membangun produk, melakukan riset terapan, hingga belajar menyelesaikan persoalan masyarakat secara langsung. Pengalaman lapangan jauh lebih berharga dibanding sekadar hafalan teori.
Perusahaan modern saat ini lebih menghargai kemampuan problem solving, komunikasi, kreativitas, dan kerja tim dibanding nilai akademik semata. Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu belajar cepat, beradaptasi, dan berpikir inovatif.
Di sisi lain, perguruan tinggi juga perlu serius membangun jiwa kewirausahaan mahasiswa. Indonesia tidak mungkin menjadi negara maju jika sebagian besar lulusan perguruan tinggi hanya bercita-cita menjadi pencari kerja. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak pencipta lapangan kerja.
Karena itu, inkubator bisnis kampus harus diperkuat. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk mencoba usaha sejak kuliah, meski dimulai dari skala kecil. Dari pengalaman itulah lahir keberanian mengambil risiko, kemampuan membaca pasar, ketahanan mental, dan kreativitas usaha.
Negara-negara maju menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi sangat dipengaruhi oleh kuatnya inovasi kampus dan tumbuhnya wirausaha muda. Banyak perusahaan besar dunia lahir dari lingkungan universitas yang mendorong kreativitas dan eksperimen.
Selain keterampilan teknis, pendidikan karakter juga sangat penting. Dunia kerja modern membutuhkan integritas, disiplin, etos kerja, dan kemampuan bekerja sama. Banyak orang cerdas gagal bukan karena kurang pintar, tetapi karena tidak tahan tekanan, mudah menyerah, atau tidak mampu membangun relasi sosial yang sehat.
Karena itu, perguruan tinggi harus kembali menempatkan pembentukan karakter sebagai inti pendidikan, bukan sekadar pelengkap administratif.
Pemerintah juga perlu membangun ekosistem yang mempertemukan kampus, industri, UMKM, dan dunia digital. Mahasiswa harus mudah mengakses magang, mentor, proyek industri, serta dukungan modal usaha. Tanpa ekosistem yang sehat, lulusan perguruan tinggi akan terus menghadapi jurang antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
Masa depan Indonesia sesungguhnya sangat ditentukan oleh kualitas manusianya. Jika kampus hanya menghasilkan lulusan yang menunggu lowongan kerja, maka pengangguran intelektual akan terus meningkat. Namun jika kampus mampu melahirkan generasi inovatif, produktif, dan berjiwa wirausaha, maka pendidikan tinggi akan menjadi kekuatan utama kebangkitan ekonomi nasional.
Indonesia tidak kekurangan sarjana. Yang masih kurang adalah sistem pendidikan tinggi yang mampu melahirkan manusia siap kerja sekaligus siap menciptakan pekerjaan. Wassalam. HP 081257353049.
