Oleh Muliadi Saleh
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Tanggal 20 Mei selalu mengingatkan bangsa ini pada sebuah kesadaran besar bahwa kemerdekaan lahir dari keberanian untuk bangkit. Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar mengenang lahirnya Budi Utomo pada tahun 1908. Ia sejatinya adalah momentum menyalakan kembali keyakinan bahwa bangsa ini mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.
Dulu, kebangkitan nasional lahir dari kesadaran melawan penjajahan. Hari ini, kebangkitan itu menemukan bentuk baru. Keberanian melawan ketergantungan, krisis pangan, dan pesimisme terhadap kemampuan bangsa sendiri. Jika dahulu para pendiri bangsa berjuang membebaskan tanah air dari kolonialisme, maka generasi hari ini sedang diuji untuk membebaskan Indonesia dari ancaman kerawanan pangan.
Dan di tengah tantangan global yang tidak mudah—perubahan iklim, krisis geopolitik, gangguan rantai pasok dunia, hingga ancaman resesi pangan—Indonesia perlahan menunjukkan tanda-tanda kebangkitan itu. Kebangkitan pangan nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pertanian Indonesia memperlihatkan geliat yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Di saat banyak negara mengalami kecemasan pangan, Indonesia justru memperkuat fondasi swasembada komoditas strategis. Gudang-gudang kini menyimpan cadangan beras pemerintah yang menembus lebih dari 5 juta ton. Aangka yang bukan sekadar statistik, tetapi simbol ketahanan sebuah bangsa. Cadangan itu menjadi penanda bahwa negeri ini sedang berusaha berdiri lebih tegak di atas kaki pangannya sendiri.
Di balik capaian itu, ada kerja panjang yang tidak selalu terlihat. Ada lumpur sawah yang melekat di kaki petani. Ada peluh penyuluh pertanian yang berkeliling desa membangunkan semangat produksi. Ada irigasi yang diperbaiki, pompanisasi yang digerakkan, alat mesin pertanian yang disalurkan, benih unggul yang dibagikan, dan ada koordinasi besar yang bekerja siang malam menjaga agar pangan negeri ini tetap tersedia.
Semua itu tidak lahir secara tiba-tiba. Ia membutuhkan orkestrasi kepemimpinan yang kuat, cepat, dan berani mengambil keputusan. Di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman, Kementerian Pertanian bergerak dengan ritme kerja yang agresif dan terukur. Pertanian tidak lagi hanya dipandang sebagai urusan sawah dan cangkul semata, tetapi sebagai benteng strategis negara.
Kebijakan percepatan tanam, optimalisasi lahan, peningkatan indeks pertanaman, penguatan cadangan pangan, hingga gerakan antisipasi krisis pangan global menjadi bagian dari upaya besar membangun kembali kepercayaan bahwa Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Prestasi itu tentu bukan milik satu institusi. Ia adalah hasil gotong royong panjang seluruh pemangku kepentingan. Dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri yang ikut mendampingi percepatan tanam, akademisi, peneliti, perguruan tinggi, pelaku usaha pangan, hingga para penyuluh pertanian lapangan yang selama ini menjadi “guru kehidupan” bagi petani di desa-desa.
Dan tentu saja, penghormatan terbesar patut diberikan kepada petani Indonesia. Mereka adalah penjaga setia republik ini. Ketika sebagian besar orang masih tertidur, mereka sudah berada di sawah menghadapi lumpur, panas, hujan, dan ketidakpastian musim. Dari tangan merekalah pangan bangsa ini bertahan.
Namun terkadang, petani sering hadir paling akhir dalam tepuk tangan pembangunan, padahal merekalah yang pertama memastikan negeri ini tidak kelaparan.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional semestinya tidak lagi hanya dimaknai dalam ruang sejarah dan pidato seremonial. Kebangkitan hari ini harus diterjemahkan dalam keberanian membangun kemandirian bangsa, terutama di sektor pangan. Sebab bangsa yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan selalu berada dalam bayang-bayang ketergantungan.
Pangan bukan sekadar komoditas ekonomi. Ia adalah kedaulatan. Ia adalah martabat. Negara yang kuat bukan hanya negara yang memiliki senjata canggih atau gedung tinggi menjulang, tetapi negara yang mampu memberi makan rakyatnya dengan hasil dari tanahnya sendiri.
Karena itu, capaian surplus produksi dan kuatnya cadangan beras nasional hari ini layak diapresiasi sebagai bagian dari semangat kebangkitan nasional modern. Ini bukan akhir perjalanan, melainkan fondasi menuju Indonesia yang lebih mandiri dan berdaulat.
Tentu tantangan masih panjang. Alih fungsi lahan, perubahan iklim, regenerasi petani, distribusi pangan, hingga kesejahteraan petani tetap menjadi pekerjaan besar yang harus dijawab bersama. Kebangkitan pangan tentu tidak akan berhenti pada angka produksi, tetapi akan terus berlanjut pada meningkatnya kesejahteraan petani dan kuatnya ekosistem pangan nasional.
Dengan seluruh capaian yang membanggakan itu, hari ini kita memiliki alasan untuk percaya bahwa Indonesia mampu bangkit. Bahwa di tengah berbagai keraguan, bangsa ini masih memiliki tenaga untuk menanam harapan di atas tanahnya sendiri.
Hari Kebangkitan Nasional akhirnya menemukan makna yang sangat nyata di hamparan sawah, di gudang-gudang beras, di tangan petani, dan di semangat orang-orang yang bekerja menjaga pangan negeri ini.
Sebab ketika pangan bangsa kuat, sesungguhnya fondasi peradaban juga sedang diperkuat.
Dan mungkin, kebangkitan terbesar sebuah bangsa memang dimulai dari kemampuannya menjaga agar rakyatnya tetap bisa makan dengan tenang.
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”
