Oleh: Munawir Kamaluddin

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak ada perempuan yang mampu menghentikan waktu, sebab waktu adalah pelukis paling jujur. Ia akan menggambar garis-garis halus di wajah, memutihkan rambut yang dahulu hitam berkilau, mengurangi kekuatan tubuh yang dahulu begitu bertenaga, dan perlahan mengajarkan bahwa tidak ada satu pun keindahan fisik yang mampu menolak datangnya senja.

Namun, ada satu keindahan yang tidak pernah bisa dicuri oleh usia, bahkan justru semakin bercahaya ketika umur bertambah, yaitu keindahan jiwa yang dipenuhi iman, kelembutan hati yang dipenuhi kasih sayang, dan akhlak yang terus dimatangkan oleh pengalaman hidup.

Maka sesungguhnya, perempuan yang paling memikat bukanlah perempuan yang berhasil mengalahkan usia, melainkan perempuan yang berhasil mengalahkan ego. Sebab keriput di wajah tidak pernah menghancurkan rumah tangga, tetapi keriput di hati, berupa gengsi, amarah, kekecewaan yang dipelihara, dan cinta yang berhenti dirawat, itulah yang perlahan merobohkan bangunan yang dahulu didirikan dengan akad yang suci.

Betapa banyak pasangan yang masih tinggal di bawah satu atap, tetapi sesungguhnya telah hidup di dua dunia yang berbeda. Mereka berbagi kamar, tetapi tidak lagi berbagi cerita. Mereka duduk di meja makan yang sama, tetapi hati mereka telah saling menjauh.

Mereka masih saling memanggil dengan nama, tetapi telah lama kehilangan panggilan cinta. Bukankah ini adalah bentuk kesepian yang paling menyakitkan? Kesepian yang terjadi bukan karena kehilangan pasangan, tetapi karena kehilangan kedekatan dengan pasangan.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat seorang istri tetap memikat hingga rambutnya memutih? Apakah kecantikan yang terus dirawat? Ataukah ada sesuatu yang jauh lebih mahal daripada sekadar pesona wajah?

Allah SWT. . memberikan isyarat yang sangat halus dalam firman-Nya:
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
“Mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Mengapa Allah memilih kata “Libas”(pakaian)? Mengapa bukan perhiasan? Mengapa bukan mahkota?

Karena pakaian bukan sekadar memperindah penampilan. Pakaian menutupi kekurangan, menghangatkan ketika dingin, melindungi ketika panas, menjaga kehormatan, dan selalu melekat dalam perjalanan hidup. Begitulah seharusnya seorang istri. Ia bukan sekadar penghias rumah, tetapi peneduh jiwa. Ia bukan hanya teman tertawa ketika bahagia, tetapi juga tempat bersandar ketika dunia sedang terasa begitu berat.

Pesona seperti inilah yang tidak pernah usang. Bahkan semakin lama semakin dirindukan. Rasulullah ﷺtidak pernah mengajarkan umatnya untuk hanya mencari perempuan yang indah rupanya. Beliau justru mengarahkan pandangan kepada sesuatu yang jauh lebih kekal.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَجْسَادِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan tubuh kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Jika Allah sendiri memuliakan hati di atas rupa, mengapa manusia sering kali lebih sibuk mempercantik wajah daripada memperindah jiwa? Mengapa cermin begitu sering dibersihkan, tetapi hati yang dipenuhi debu kesombongan, prasangka, dan amarah dibiarkan begitu saja?

Seorang istri yang memikat bukanlah perempuan yang membuat suaminya selalu berdebar ketika melihat wajahnya. Ia adalah perempuan yang membuat suaminya selalu tenang ketika berada di sisinya. Sebab dalam perjalanan panjang rumah tangga, ketenangan jauh lebih mahal daripada sekadar kekaguman.

Imam Ibnul Qayyim pernah berkata:
وَالدِّينُ كُلُّهُ خُلُقٌ، فَمَنْ زَادَ عَلَيْكَ فِي الْخُلُقِ زَادَ عَلَيْكَ فِي الدِّينِ
“Agama seluruhnya adalah akhlak. Siapa yang lebih baik akhlaknya, maka ia lebih baik agamanya.”

Betapa banyak rumah tangga yang kehilangan cinta bukan karena ekonomi, bukan karena usia, bahkan bukan karena hadirnya orang ketiga. Tetapi karena akhlak yang mulai ditinggalkan. Kata-kata yang dahulu lembut berubah menjadi tajam. Sapaan yang dahulu hangat berubah menjadi dingin. Doa yang dahulu saling dipanjatkan berubah menjadi tuntutan yang saling dilontarkan.

Padahal cinta tidak pernah mati dalam satu malam. Ia layu sedikit demi sedikit, setiap kali penghargaan diganti dengan celaan, perhatian diganti dengan kesibukan, dan syukur diganti dengan keluhan.

Mungkin inilah sebabnya Sayyidina Umar bin Al-Khaththab pernah mengingatkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak mungkin hanya bertumpu pada gejolak cinta.
إِنَّ الْبُيُوتَ لَا تُبْنَى عَلَى الْحُبِّ وَحْدَهُ، وَلَكِنْ عَلَى الدِّينِ وَالْمَوَدَّةِ وَالْأَمَانَةِ
“Sesungguhnya rumah tangga tidak dibangun hanya dengan cinta semata, tetapi dibangun di atas agama, kasih sayang, dan amanah.”

Cinta adalah bunga. Tetapi akar yang membuat bunga itu tetap hidup adalah iman. Ketika akar itu kuat, bunga akan tetap mekar sekalipun musim terus berganti.

Maka jangan takut jika wajah mulai berubah. Takutlah jika kelembutan mulai menghilang. Jangan sedih jika rambut mulai memutih. Sedihlah jika doa kepada pasangan mulai berhenti. Jangan cemas jika usia semakin senja. Cemaslah jika penghormatan kepada pasangan semakin berkurang.

Mari kita renungkan sejenak… Apakah pasangan kita masih merasa pulang ketika melihat senyum kita?. Apakah rumah kita masih menjadi tempat paling nyaman setelah kerasnya dunia?. Apakah setiap hari kita masih berusaha menjadi alasan pasangan bersyukur kepada Allah?. Ataukah kita justru menjadi sumber kelelahan yang paling berat dalam hidupnya?

Ketahuilah, perempuan yang benar-benar memikat bukanlah perempuan yang membuat suaminya sulit mengalihkan pandangan kepada dirinya. Tetapi perempuan yang membuat suaminya tidak lagi memiliki alasan untuk mencari ketenangan di tempat lain. Karena seluruh ketenangan itu telah Allah titipkan di dalam rumahnya sendiri.

Imam Ibn ‘Athaillah As-Sakandari pernah berkata:
مَنْ لَمْ يُقْبِلْ عَلَى اللَّهِ بِقَلْبِهِ لَمْ يَذُقْ حَلَاوَةَ الْأُنْسِ بِهِ
“Siapa yang tidak menghadapkan hatinya kepada Allah, niscaya ia tidak akan merasakan manisnya kedekatan dengan-Nya.”

Rumah tangga yang paling indah bukanlah rumah yang dipenuhi barang-barang mewah, melainkan rumah yang di dalamnya setiap pertengkaran segera diselesaikan dengan istighfar, setiap luka disembuhkan dengan saling memaafkan, setiap kebahagiaan diawali dengan rasa syukur, dan setiap langkah selalu diiringi doa.

Pada akhirnya, menjadi istri yang memikat bukanlah tentang bagaimana tetap tampak muda di hadapan cermin, melainkan bagaimana tetap membuat suami jatuh cinta kepada perempuan yang sama, meskipun waktu telah mengubah hampir seluruh penampilannya.

Karena cinta sejati tidak pernah bertanya, “Seberapa cantik wajahmu hari ini?” Cinta sejati hanya bertanya, “Masihkah engkau menjadi tempat paling damai bagi jiwaku?”

Dan ketika kelak dua insan berjalan perlahan di usia senja, dengan langkah yang tidak lagi sekuat dahulu, tangan yang mulai bergetar, dan rambut yang sama-sama memutih, semoga yang tetap mereka genggam bukan sekadar jemari yang mulai renta, melainkan cinta yang setiap hari mereka rawat dengan iman, akhlak, kesetiaan, dan doa.

Sebab kecantikan akan berhenti di batas usia. Tetapi perempuan yang memikat adalah perempuan yang menjadikan setiap pertambahan usia sebagai pertambahan kedewasaan, setiap keriput sebagai saksi pengorbanan, setiap uban sebagai mahkota kesetiaan, dan setiap detik kehidupan sebagai jalan untuk semakin dicintai oleh suaminya… dan tentunya lebih dahulu dicintai oleh Allah SWT.

#Wallahu A’lam Bishawab🙏
SEMOGA BERMANFAAT
al-Faqir. Munawir Kamaluddin