Oleh: Munawir Kamaluddin
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
WARISAN pada hakikatnya adalah amanah Allah dan hak yang harus dibagikan secara adil. Namun tidak jarang harta peninggalan orang tua yang semestinya menjadi perekat keluarga justru berubah menjadi sumber perselisihan, iri hati, kecurigaan, kebencian, bahkan kekerasan. Saudara yang dahulu tumbuh bersama dapat saling menyakiti, bahkan dalam kasus tragis sampai menghilangkan nyawa, hanya karena tidak mampu menerima pembagian atau kehilangan sesuatu yang dianggap sebagai haknya.
Padahal warisan hanyalah harta dunia yang sementara. Rumah, tanah, uang, kendaraan dan seluruh kekayaan yang diperebutkan pada akhirnya akan kita tinggalkan. Rasulullah SAaW. mengingatkan bahwa ketika manusia meninggal, keluarga, harta dan amal mengikutinya, dua kembali, sedangkan amal tetap bersamanya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka sungguh tidak sebanding jika demi harta yang tidak dibawa mati, seseorang kehilangan saudara, memutus silaturahim, bahkan mempertaruhkan keselamatan akhirat.
Allah telah menetapkan warisan sebagai bagian dari hukum-Nya: “Itulah batas-batas Allah.” (QS. An-Nisa: 13). Karena itu, hak harus dihormati dan keadilan wajib ditegakkan.
Memperjuangkan hak adalah sesuatu yang dibenarkan, tetapi tidak boleh dilakukan dengan cara batil: menyembunyikan harta, memanipulasi, mengintimidasi, memfitnah, membuka aib, atau mengambil hak saudara. Sebab harta yang diperoleh dengan kezaliman mungkin menambah kekayaan, tetapi dapat menghilangkan keberkahan. Rasulullah SAW. bersabda, “Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim).
Yang sering dilupakan adalah bahwa kekayaan paling indah bukanlah banyaknya harta, melainkan keluarga yang tetap utuh, harta paling berharga bukanlah tanah dan rumah, melainkan saudara yang masih saling menyayangi, dan kekayaan yang paling bermakna adalah silaturahim yang tetap terjaga. Apa artinya memenangkan warisan jika setelah itu tidak ada lagi saudara yang mau menyapa? Apa artinya memiliki harta lebih banyak jika ketenangan, kasih sayang dan keberkahan justru hilang?
Karena itu, kecewa boleh, tetapi jangan berubah menjadi kebencian. Tidak puas boleh, tetapi jangan sampai memutuskan silaturahim. Berbeda pendapat boleh, tetapi jangan menjadikan saudara sebagai musuh. Allah berfirman, “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12). Persoalan harta dapat diselesaikan, tetapi luka akibat penghinaan, fitnah dan pengkhianatan sering kali jauh lebih sulit disembuhkan.
Ada kalanya seseorang memilih mengalah demi menjaga persaudaraan. Jika dilakukan dengan ikhlas dan tanpa paksaan, mengalah bukan berarti kalah. Ia mungkin melepaskan sebagian hak material, tetapi menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih mahal, keluarga dan ketenangan hati. Allah menjanjikan, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3).
Apa yang dilepaskan dengan ikhlas karena Allah tidak selalu kembali dalam bentuk harta, tetapi dapat diganti dengan rezeki, ketenteraman, kesehatan, keluarga yang harmonis dan keberkahan yang nilainya jauh lebih besar.
Sebaliknya, orang yang dengan sengaja mengambil hak saudaranya melalui cara yang batil hendaknya menyadari bahwa kemenangan dunia tidak berarti kemenangan di hadapan Allah. Harta yang dirampas mungkin dapat disembunyikan dari manusia, tetapi tidak dari Allah. Kezaliman dapat meninggalkan luka dalam keluarga, menghilangkan keberkahan, dan menjadi beban pertanggungjawaban di akhirat.
Karena itu, jangan sampai orang tua meninggalkan harta, tetapi anak-anaknya mewarisi permusuhan. Jangan sampai beberapa meter tanah, sebuah rumah atau sejumlah uang menghancurkan hubungan darah yang dibangun puluhan tahun. Ketika konflik warisan mulai memanas, ingatlah kematian sebelum mempertajam permusuhan, ingatlah kubur sebelum mempermalukan saudara, dan ingatlah akhirat sebelum mengejar keuntungan.
Harta boleh dibagi, tetapi persaudaraan jangan sampai terbagi. Hak boleh diperjuangkan, tetapi jangan dengan kezaliman. Kecewa boleh, tetapi jangan sampai menjadi kebencian. Mengalah boleh, apabila lahir dari keikhlasan demi menjaga kemaslahatan dan silaturahim.
Sebab harta bisa diwariskan, tetapi persaudaraan tidak boleh dikorbankan. Harta bisa habis, tetapi silaturahim jangan sampai putus. Harta tidak dibawa mati, tetapi amal dan pertanggungjawaban kita akan mengikutinya.
Sehingga dengan demikian, kekayaan yang paling indah bukanlah harta yang paling banyak, tetapi keluarga yang tetap utuh, saudara yang tetap saling mencintai, dan silaturahim yang tetap hidup. Jangan sampai kita mendapatkan harta warisan, tetapi kehilangan saudara, memenangkan perkara, tetapi kalah dalam menjaga persaudaraan, memperoleh sesuatu yang akan kita tinggalkan, tetapi kehilangan sesuatu yang akan kita butuhkan ketika menghadap Allah.
Jangan biarkan warisan menjadi akhir sebuah keluarga. Jadikan ia ujian untuk membuktikan bahwa persaudaraan jauh lebih mahal daripada harta. 🙏
