Oleh: ๐™Ž๐™ช๐™› ๐™†๐™–๐™จ๐™ข๐™–๐™ฃ

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemarin, sekitar pukul 08.00, saya menjalani general check-up di Prodia. Bukan karena sedang sakit berat, melainkan mulai sadar bahwa tubuh juga perlu diperiksa sebelum mengirim surat peringatan: โ€œMohon segera diperbaiki. Kerusakan onderdil tubuh mulai ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ (merambat)!โ€

Mobil saja rutin diservis sebelum mogok. Masa badan yang dipakai sampai akhir hayat baru diperiksa setelah mengeluarkan kode bahaya?

Bedanya, mobil rusak masih bisa masuk bengkel untuk diservis, sedangkan tubuh manusia tidak punya toko suku cadang resmiโ€”kecuali onderdil bulu mata dan sanggul rambut, yang rupanya punya jalur distribusi tersendiri!

General check-up memang penting, meski ada satu bagian yang ikut diperiksa secara tidak langsung: kesehatan dompet. Kadang hasil laboratorium belum keluar, tetapi saldo rekening sudah lebih dahulu dinyatakan kritis. Belum sempat dokter membaca hasil pemeriksaan, dompet sudah sakaratul maut.

Di Prodia, saya mendapat nomor antrean satu. Sebuah prestasi kecil yang cukup membanggakan. Kalau semua urusan hidup bisa mendapat nomor satu seperti ini, mungkin saya sudah merasa manusia paling disiplin se-Kelurahan Antang.

Angka satu memang utama. Cukup satu istri saja, satu di Bone, satu di Bontonompo, satu di Bombanaโ€”eh, ini bukan pemeriksaan kesehatan. Jangan sampai nomor antrean berubah menjadi bahan pemeriksaan poligami. Ai, bisa-bisa poliGANTI itu!

Namun, saya segera sadar, nomor satu bukan berarti langsung pulang. Justru berarti menjadi pasien pertama yang diperiksa. Rupanya, dalam urusan kesehatan, nomor satu bukan selalu juara; kadang cuma lebih cepat membuka aib rahasia tubuh sendiri.

Di ruang konsultasi Prodia, dokter mulai bertanya: kapan keluhan muncul, seberapa sering terasa, bagaimana skala sakit, dan apa pemicunya. Saya menjawab satu per satu, serasa mengikuti wawancara kerja di Istana Negara IKN.

Bedanya, saat wawancara kerja kita sibuk memamerkan kelebihan. Di hadapan dokter, kita justru sibuk membongkar kekurangan. CV kehidupan mendadak berubah menjadi daftar ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ alias keluhan.

Kalau dalam wawancara kerja ditanya, โ€œApa kelebihan Anda?โ€ kita langsung percaya diri. Namun, ketika dokter bertanya, โ€œApa keluhannya?โ€ mendadak semua arsip tubuh terbuka. Yang tadinya merasa sehat, setelah ditanya dokter, kok pengaduannya seperti tiga semester!

Saya pun berusaha tidak terlalu memperlihatkan keluhan di depan dokter. Bukan karena tidak jujur, tetapi takut keluhan kecil berkembang menjadi vonis sakit keras, berujung rujukan kelas ekonomi di RS Grestelina.

Setelah konsultasi, perjalanan pemeriksaan pun dimulai. Rupanya, inilah saatnya tubuh menjalani audit menyeluruh, sementara pemiliknya cuma bisa mengikuti instruksi.

Pertama, pengambilan darah. Dalam hati saya bertanya, darah apa yang mau diuji? Darah merah, darah putih, darah kotor, atau darah biru? Jangan-jangan ada juga darah biru metalik?

Berikutnya, pemeriksaan jantung. Ho ho, ini aslinya yang bikin pikiran saya mulai ke mana-mana.

Dada ditempeli kabel di sana-sini, dua lengan dipasangi alat seperti diborgol. Bedanya, kalau polisi memborgol, biasanya terdengar, โ€œIkut kami!โ€

Kalau petugas kesehatan memasang kabel, pesannya lebih menenangkan, โ€œDiam dulu, Pak. Kami mau melihat jantung Bapak.โ€

Saya sempat berpikir, ini pemeriksaan jantung atau persiapan kejut setrum listrik? Kalau sampai terjadi, bisa-bisa mati lampu sekota Makassar, saking kagetnya!

Saya pun berusaha tenang. Tetapi pikiran terus ๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จโ€”melayang ke mana-mana, termasuk teringat pintu masuk kuburan Macanda.

Jantung diperiksa, mata saya ๐˜ด๐˜ถ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ขโ€™-๐˜ด๐˜ถ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ขโ€™, mirip sapi yang mau disembelih waktu Hari Raya Idul Qurban.

Di monitor terlihat garis yang naik-turun, bergelombang seperti ular kobra habis minum tuak pahit. Di bawahnya, ada getaran mirip lempeng tektonik Kota Palu sedang bergeser.

Saya tidak tahu itu tanda-tanda apa. Jangan-jangan jantung sedang mengirim pesan morse: โ€œTidak apa-apa ji ini, tiap hari boleh ji ke warkop Dg Anas!โ€

Usai jantung, pemeriksaan berlanjut ke tekanan darah. Pemeriksaan ambil darah berbeda dengan pemeriksaan tekanan darah. Yang satu darahnya diambil, yang satu lagi tekanannya diukur. Mirip ban motor, tekanan anginnya juga ikut diperiksa. Bedanya, ban tidak pernah mengeluh kalau dipompa.

Rupanya, tubuh manusia punya banyak meteran: tekanan darah, denyut jantung, kadar darah, dan seterusnya.

Selama ini kita lebih rajin melihat meteran kendaraan dan saldo rekening. Padahal, meteran kesehatan juga perlu dipantau. Jangan sampai bensin kendaraan penuh, tetapi pemiliknya kehabisan BBMโ€”Bahan Bakar Manusia!

Perjalanan berlanjut ke ruang ronsen.

Di sini, saya sempat menegur petugasnya karena menyuruh saya segera menghadap ke belakang di depan papan ronsen. Tangan disuruh diletakkan di belakang, dagu diatur. Saya menurut saja, meski belum paham apakah ini pemeriksaan kesehatan atau sesi pemotretan kilat.

Posisi saya mirip orang kedapatan mencuri ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ (pisang) di kebunnya Neneโ€™ Satong. Belum sempat membela diri, dan belum sempat memasang kuda-kuda, tiba-tiba terdengar teriakan aba-aba, โ€œSiaaapppโ€ฆ tahan napas!โ€ prett!

Waduh! Saya datang untuk ronsen, bukan latihan ditangkap Brimob.

Usai foto, saya tegur petugasnya. Kenapa buru-buru memotret? Andai pulpenku jatuh tadi, lalu saya langsung menunduk mengambilnya dan kamu jepret, bisa-bisa foto ronsennya malah pantatku yang dihantam. Ai, bisa-bisa hasil ronsennya malah pantat tedong!

Setelah darah, jantung, tekanan darah, dan ronsen, perjalanan pemeriksaan berlanjut ke bagian yang jauh lebih pribadi: pengambilan urine.

Wow, urusan yang sangat pribadi ini tiba-tiba menjadi bagian dari prosedur medis. Kelihatannya sederhana, tetapi bisa membuat pasien mendadak kehilangan kepercayaan diri.

Petugas memberikan sebuah wadah kecil.

โ€œPak, ini untuk urine.โ€

Saya terima dengan tenang. Dalam hati saya berkata, โ€œOh, ternyata Prodia tidak hanya membutuhkan darah saya, tetapi juga air hasil perjuangan ginjal.โ€

Yang lucu, wadahnya kecil sekali. Padahal instruksinya serius: โ€œIsi secukupnya, Pak.โ€

Secukupnya itu berapa?

Ini yang membingungkan. Kalau terlalu sedikit, takut petugas bilang kurang. Kalau terlalu banyak, wadahnya tidak sanggup menampung. Akhirnya, saya berdiri di toilet seperti sedang melakukan penelitian ilmiah sambil membawa barang bukti negara.

Warnanya diperiksa, kejernihannya dianalisis, kandungannya diinvestigasi. Sesuatu yang selama ini kita anggap sekadar โ€œair kencingโ€, di laboratorium bisa berubah menjadi laporan panjang.

Dari situlah saya berpikir: tubuh manusia ternyata sangat jujur. Mulut bisa berkata, โ€œSaya sehat, Dok.โ€ Tetapi urine mungkin berkata, โ€œJangan percaya dia, Dok. Saya punya bukti!โ€

Jadi, jangan malu ketika rumah sakit meminta urine. Itu bukan penghinaan, melainkan bagian dari pemeriksaan. Sebab, kadang-kadang tubuh kita tidak pandai bercerita lewat mulut. Maka, ginjal mengirim surat rahasia lewat urine, dan laboratorium bertugas membacanya.

Hikmahnya, menjaga kesehatan bukan hanya dilakukan ketika sudah sakit. Sesekali, kita perlu memberi kesempatan kepada tubuh untuk โ€œberbicaraโ€ sebelum ia berteriak lewat penyakit.

Di sela pemeriksaan, dokter menyarankan agar saya mengurangi makanan berlemak, gula, dan gorengan. Saya mengangguk penuh keyakinan. Begitu keluar, pikiran malah mencari warung. Bukan mau makan, cuma mau mengucapkan selamat tinggal kepada ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ขโ€™ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ.

Usia boleh bertambah, rambut boleh memutih, tetapi semangat makan jangan sampai mendahului hasil laboratorium. Apalagi kalau dokter berkata, โ€œMulai hari ini harus jaga makan.โ€ Rasanya seperti pengumuman bahwa masa bulan madu dengan coto, konro, dan ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ resmi berakhir tanpa surat cerai!

Di sinilah kita sering lucu sekaligus ironis. Kita menganggap check-up sebagai urusan orang tua. โ€œMasih muda, belum perlu!โ€ Seolah-olah penyakit punya petugas imigrasi yang memeriksa KTP sebelum masuk. Memangnya penyakit akan berkata, โ€œWaduh, masih muda. Maaf, saya belum boleh masukโ€?

Padahal, anak kecil bisa sakit, orang muda bisa sakit, orang dewasa pun bisa sakit. Penyakit tidak menunggu uban tumbuh untuk mengetuk pintu. Karena itu, pemeriksaan kesehatan perlu disesuaikan dengan usia, kondisi, dan faktor risiko masing-masing. Dokter dapat membantu menentukan jenis serta waktu pemeriksaan yang sesuai.

Pada akhirnya, general check-up adalah cara mendengarkan tubuh sebelum ia berteriak lewat penyakit. Jangan menunggu surat peringatan berubah menjadi surat pengunduran diri permanen. Merawat kesehatan adalah ikhtiar agar tetap sehat dan bermanfaat sebelum ajal menjemput. ๐˜ž๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ขโ€™๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ.

๐Ÿ๐Ÿ“ ๐’๐ž๐ฉ๐ญ๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ซ ๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ” (๐’๐…)