El Niño, Petani, Air, dan Masa Depan Pangan Indonesia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh: Muliadi Saleh | Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

Kekeringan tidak berarti seluruh Indonesia akan berhenti menerima hujan. Atmosfer kita terlalu kompleks untuk dibaca hanya dengan kalimat “musim kemarau” atau “musim hujan”. BMKG mencatat bahwa dinamika atmosfer regional masih dapat memicu hujan lokal dengan intensitas signifikan, sementara Sulawesi Selatan termasuk wilayah yang perlu mewaspadai potensi angin kencang pada periode 29 September–5 Oktober 2026.

Terkadang manusia menunggu hujan bukan karena ingin menikmati kesejukan, melainkan karena di balik hujan ada kehidupan. Di sebuah desa, seorang petani mungkin sedang menatap langit dengan cara yang berbeda: bukan menikmati pemandangan langit, tetapi sebagai harapan. Bagi petani, setetes hujan dapat berarti benih yang tumbuh, sawah yang menghijau, dan pada akhirnya beras yang sampai ke meja makan sebuah keluarga.

Hari-hari terakhir September 2026 mengingatkan kita bahwa urusan hujan sesungguhnya adalah urusan pangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam pembaruan 28 September 2026, menyebut kondisi atmosfer Indonesia pada akhir September masih didominasi keadaan kering di sejumlah wilayah. Bahkan, pada akhir September hingga awal Oktober 2026, Indonesia masih dipengaruhi El Niño dengan intensitas sangat kuat.

Di sinilah kita perlu mengubah cara memandang pangan dari perspektif yang lain. Ia bukan hanya perkara sawah yang luas, pupuk yang tersedia, benih yang unggul, atau teknologi pertanian yang semakin modern. Pangan adalah pertemuan antara langit dan tanah, antara air dan benih, antara kebijakan dan petani, antara harga dan daya beli, hingga akhirnya bertemu di  piring makan kita.

Ketika BMKG berbicara tentang El Niño, sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukan hanya cuaca. Hal tersebut terkait juga dengan perubahan ritme produksi, kebutuhan air, biaya usaha tani, risiko gagal tanam, dan pada akhirnya ketahanan ekonomi rumah tangga. Langit berada jauh di atas kepala kita, tetapi dampaknya dapat turun sampai ke dasar kehidupan: isi dompet dan isi piring.

Kekeringan bukan hanya persoalan petani. Seolah-olah petani yang sawahnya mengering harus menyelesaikan sendiri masalah air, sementara masyarakat lainnya cukup menunggu beras tersedia di pasar. Padahal ketika petani kehilangan air, sesungguhnya seluruh rantai pangan sedang menerima pesan peringatan.

Karena itu, respons terhadap El Niño tidak boleh berhenti pada imbauan agar petani berhati-hati. Pemerintah daerah perlu memperkuat pemetaan wilayah rawan kekeringan, memastikan distribusi air untuk kawasan pertanian prioritas, mempercepat perbaikan jaringan irigasi yang rusak, serta menyesuaikan kalender tanam berdasarkan informasi iklim. BMKG sendiri mengimbau masyarakat dan pemerintah untuk menghemat air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.

Langkah berikutnya adalah memperkuat sistem informasi yang benar-benar sampai kepada petani. Informasi iklim tidak boleh berhenti di kantor pemerintah atau layar komputer, tetapi diterjemahkan menjadi keputusan sederhana: kapan menanam, varietas apa yang digunakan, berapa kebutuhan air, kapan memupuk, dan kapan menunda tanam. Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak berhenti menjadi laporan, tetapi berubah menjadi alat untuk menyelamatkan keputusan petani.

Bendungan, embung, irigasi, pompa air dan jaringan distribusi sebagai infrastruktur pangan. Itu benar. Tetapi menghadapi perubahan iklim dan El Niño yang kuat, Indonesia juga membutuhkan sesuatu yang lebih halus namun sangat menentukan yakni infrastruktur kesadaran.

Kesadaran bahwa air adalah sumber kehidupan harus tumbuh dari rumah tangga sampai pemerintah. Kesadaran bahwa membuang-buang air pada musim kering bukan sekadar tindakan boros, tetapi dapat memperbesar tekanan terhadap kehidupan petani. Kesadaran pula bahwa menjaga lahan, daerah tangkapan air, sungai, embung, hutan, dan lingkungan bukan agenda ekologis yang berdiri sendiri, melainkan bagian langsung dari menjaga makanan yang akan kita makan.

Di tingkat masyarakat, gerakan urban farming juga dapat menjadi bagian dari solusi. Rumah, sekolah, pesantren, masjid, kantor dan lingkungan permukiman dapat mengembangkan tanaman pangan sederhana yang hemat air, seperti sayuran dalam wadah, hidroponik skala rumah tangga, vertikultur, atau tanaman pangan yang sesuai dengan kondisi lokal. Skala kecil memang tidak akan menggantikan sawah, tetapi dapat membangun budaya pangan yang lebih mandiri sekaligus mengajarkan satu hal penting: ketahanan pangan dimulai dari kesadaran untuk tidak selalu menjadi konsumen.

Pelajaran terbesar dari El Niño adalah bahwa ketahanan pangan tidak boleh dibangun ketika krisis sudah berada di depan mata. Ketahanan pangan seharusnya dibangun ketika keadaan masih relatif tenang, ketika gudang masih tersedia, ketika harga belum melonjak, dan ketika petani belum kehilangan harapan.

Pemerintah dapat melakukan setidaknya tiga hal secara konsisten. Pertama, membangun sistem peringatan dini pangan yang menggabungkan data BMKG, BPS, kondisi irigasi, luas tanam, produksi, harga, dan stok secara berkala sehingga keputusan dapat dibuat sebelum terjadi gangguan besar. Kedua, memperkuat perlindungan petani melalui akses pembiayaan, asuransi pertanian, benih adaptif, teknologi hemat air, dan pendampingan yang benar-benar hadir di lapangan. Ketiga, memastikan kebijakan pangan selain produksi nasional, juga menjaga kesejahteraan petani sebagai manusia yang menjadi fondasi produksi itu sendiri.

Kita juga membutuhkan diversifikasi pangan yang lebih serius. Ketika beras menjadi pusat hampir seluruh pembicaraan pangan, setiap gangguan produksi padi otomatis menjadi kegelisahan nasional. Padahal Indonesia memiliki jagung, singkong, sagu, ubi, sorgum dan berbagai pangan lokal yang dapat dikembangkan sesuai karakter ekologis masing-masing wilayah.

Pada akhirnya, persoalan hujan mengajarkan kita tentang keterhubungan. Awan tidak mengenal batas administrasi, sungai tidak mengenal batas kabupaten, dan kekeringan tidak bertanya siapa yang memilih pemerintah hari ini. Begitu pula pangan: ketika produksi terganggu di satu tempat, dampaknya dapat menjalar melalui harga, distribusi dan daya beli ke tempat lain.

Karena itu, menghadapi El Niño kita membutuhkan cara berpikir yang lebih luas daripada sekadar “menunggu hujan”. Kita harus menyiapkan air sebelum hujan datang, memperbaiki tanah sebelum tanah kehilangan kesuburannya, melindungi petani sebelum mereka jatuh dalam kesulitan, dan membangun sistem pangan sebelum krisis mengetuk pintu.

Sebab sesungguhnya pangan adalah sebuah perjanjian sosial. Petani menanam bukan hanya untuk dirinya, pemerintah membuat kebijakan bukan hanya untuk angka statistik, dan masyarakat membeli pangan bukan hanya untuk memenuhi selera. Di antara benih yang ditanam dan nasi yang kita makan terdapat kerja panjang, air, tanah, kebijakan, distribusi, harga, serta doa yang sering tidak terlihat.

Maka ketika hujan belum turun, mungkin yang perlu kita lakukan bukan hanya mendongak ke langit. Kita juga perlu menunduk ke tanah, melihat sawah yang mulai kering, mendengar kecemasan petani, lalu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita membangun sistem pangan yang tidak menggantungkan masa depan bangsa hanya kepada kemurahan langit?

Hujan adalah rahmat, tetapi ikhtiar adalah tanggung jawab. Dalam bahasa kesadaran, manusia tidak diminta mengendalikan langit; manusia diminta belajar membaca tanda-tandanya, menjaga bumi yang dititipkan kepadanya, dan mempersiapkan kehidupan dengan sebaik-baiknya.

Barangkali itulah makna terdalam dari ketahanan pangan. Kita tidak sedang sekadar menanam padi; kita sedang menanam harapan agar tidak ada anak yang tidur dengan perut lapar, tidak ada petani yang kehilangan martabat karena gagal panen, dan tidak ada keluarga yang harus memilih antara membeli beras atau memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

Dan ketika hujan akhirnya jatuh ke bumi, semoga kita tidak hanya melihat air yang turun dari langit. Semoga kita melihatnya sebagai pesan Tuhan bahwa kehidupan selalu memiliki jalan untuk tumbuh—asal manusia mau merawat tanah, menjaga air, menghormati petani, dan tidak berhenti melakukan ikhtiar.

“Jangan hanya menunggu hujan untuk menumbuhkan pangan; bangunlah kesadaran untuk menjaga air, tanah, petani, dan kehidupan, sebab rezeki yang turun dari langit membutuhkan tangan manusia untuk menjadikannya keberkahan.”
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.