Oleh Muliadi Saleh | Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat ini kebun sawit tidak sekadar sedang menunggu harga CPO, melainkan menunggu hujan. Daunnya tetap menghijau, tetapi tanah perlahan kehilangan kelembapannya. Buahnya tetap tumbuh, tetapi petani mulai menghitung hari tanpa hujan. Di tengah perubahan iklim yang semakin sulit ditebak, pertanyaan penting bagi industri sawit Indonesia adalah seberapa tangguh kebun sawit menghadapi El Niño .
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan pada Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat indeks ENSO Juni–Juli–Agustus 2026 berada pada +2,20, yang masuk kategori El Niño sangat kuat; pada September 2026, indeks ENSO tiga bulanan bahkan tercatat +2,60, juga berada pada kategori sangat kuat. BMKG memprediksi sebagian wilayah Indonesia masih menghadapi kondisi kering dan risiko kekeringan pada periode berikutnya.
Bagi perkebunan sawit, situasi tersebut harus dibaca sebagai peringatan untuk membangun resiliensi, bukan sekadar ancaman produksi. Sebab sawit adalah tanaman biologis yang sangat bergantung pada keseimbangan air, tanah, suhu dan cahaya. Ketika keseimbangan itu terganggu, dampaknya tidak berhenti di daun dan tandan buah, tetapi merambat ke pendapatan pekebun, industri pengolahan, ekspor, energi, hingga ekonomi daerah.
El Niño Tidak Membunuh Seketika
Dampak El Niño tidak selalu terlihat pada saat kekeringan berlangsung. Tanaman sawit mempunyai respons biologis yang tertunda. Cekaman air hari ini dapat baru terlihat dalam penurunan produktivitas beberapa bulan kemudian. Penelitian tentang hubungan El Niño dan produksi sawit menunjukkan bahwa dampak kekeringan dapat muncul dengan jeda waktu dan sangat dipengaruhi intensitas El Niño, umur tanaman, kondisi tanah, lokasi serta praktik budidaya.
Pengalaman El Niño sangat kuat 2015/2016 memberikan pelajaran penting. Kajian yang dirangkum PASPI dari berbagai penelitian menunjukkan penurunan produktivitas TBS sekitar 11–16 persen pada kondisi El Niño sangat kuat, sementara penelitian di sejumlah wilayah Indonesia menunjukkan dampak yang sangat bervariasi antarlokasi. Artinya, satu kebun mungkin mengalami tekanan berat, sementara kebun lain relatif lebih mampu bertahan karena memiliki kondisi tanah, air, tanaman dan tata kelola yang berbeda.
Karena itu, resiliensi sawit tidak bisa dibangun dengan satu resep untuk semua kebun. Kebun di lahan gambut tentu membutuhkan strategi berbeda dengan kebun di tanah mineral; tanaman tua membutuhkan perhatian berbeda dari tanaman muda; dan kebun dengan akses air yang baik memiliki kapasitas bertahan berbeda dengan kebun yang sepenuhnya bergantung pada hujan. El Niño justru mengajarkan bahwa pengelolaan perkebunan harus semakin spesifik berbasis lokasi dan data.
Air Adalah Benteng Pertama
Titik paling penting dalam menghadapi El Niño, adalah air. Bukan semata-mata air yang turun dari langit, tetapi kemampuan kebun menangkap, menyimpan, menghemat dan menggunakan air secara efisien.
BMKG pada September 2026 mencatat sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia atau 564 Zona Musim sedang mengalami musim kemarau. Pada periode yang sama, BMKG juga memberikan peringatan kekeringan meteorologis di berbagai wilayah, termasuk sejumlah daerah sentra perkebunan di Sulawesi, Sumatra, Kalimantan dan wilayah lainnya.
Maka kebun sawit yang tangguh harus mulai memperlakukan air sebagai aset produksi strategis. Embung, kolam retensi, rorak, parit yang dikelola dengan baik, penutup tanah, bahan organik dan konservasi tanah bukan lagi pekerjaan tambahan, tetapi bagian dari investasi produktivitas.
Pada kebun rakyat, langkah ini tidak harus selalu mahal. Kelompok pekebun dapat membuat peta sederhana sumber air, menentukan lokasi embung bersama, membersihkan dan memperbaiki sistem parit sebelum puncak kekeringan, serta mengatur penggunaan air secara kolektif. Gotong royong air bisa menjadi teknologi sederhana yang sangat berarti ketika hujan berhenti menjadi sesuatu yang pasti.
Ada hubungan yang sering luput dari perhatian: ketahanan terhadap El Niño sebenarnya dimulai jauh sebelum El Niño datang. Tanaman yang tumbuh di atas tanah sehat, kaya bahan organik dan memiliki sistem perakaran yang baik akan mempunyai peluang lebih besar menghadapi cekaman air dibandingkan tanaman pada tanah yang terdegradasi.
Karena itu, konservasi tanah harus ditempatkan di jantung strategi adaptasi. Pelepah yang ditata sebagai mulsa, tanaman penutup tanah, bahan organik dan pengelolaan permukaan tanah dapat membantu mengurangi kehilangan air. Kebun yang mampu mempertahankan kelembapan tanah sedang membangun semacam tabungan air biologis untuk melewati masa kering.
Filosofi kebun sebenarnya sederhana: tidak hanya mencari air ketika kemarau datang; simpanlah air ketika hujan masih ada. Alam mengajarkan bahwa ketahanan selalu dibangun sebelum krisis.
Sawit Tua Membutuhkan Perhatian Lebih
El Niño juga memperlihatkan persoalan struktural perkebunan sawit Indonesia: umur tanaman. Tanaman sawit tua cenderung lebih rentan terhadap cekaman kekeringan dan membutuhkan waktu pemulihan lebih panjang dibandingkan tanaman yang lebih muda.
Peremajaan sawit bukan hanya agenda meningkatkan produksi, tetapi juga agenda adaptasi perubahan iklim.
Peremajaan tidak boleh berhenti pada kegiatan menumbangkan tanaman tua lalu menanam bibit baru. Pekebun membutuhkan benih berkualitas, pendampingan, akses pembiayaan, kepastian legalitas lahan dan dukungan pendapatan selama tanaman belum menghasilkan. Jika semua itu berjalan bersama, PSR bukan hanya mengganti tanaman tua, tetapi membangun kebun sawit generasi baru yang lebih produktif dan lebih siap menghadapi iklim ekstrem.
Produktivitas Adalah Bentuk Resiliensi
Resiliensi tidak berarti kebun harus menghasilkan sebanyak-banyaknya dalam kondisi normal. Resiliensi berarti ketika tekanan datang, penurunan produksi dapat ditekan, tanaman dapat pulih lebih cepat, dan pendapatan pekebun tidak jatuh terlalu dalam.
Data Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan produktivitas kelapa sawit nasional 2025 sekitar 18,03 ton TBS per hektare, sementara target 2026 ditetapkan 18,45 ton TBS per hektare. Pemerintah juga mengakui produktivitas sawit Indonesia masih perlu ditingkatkan melalui peremajaan tanaman tua, benih unggul, teknologi, peningkatan SDM dan efisiensi pengelolaan kebun.
Karena itu, strategi menghadapi El Niño tidak seharusnya hanya berbicara tentang “menyelamatkan produksi tahun ini”. Yang lebih penting adalah membangun kebun yang produktif dalam kondisi normal dan tetap memiliki daya lenting ketika kondisi ekstrem datang.
Praktiknya sangat konkret: pemupukan harus berbasis kebutuhan tanaman dan kondisi tanah, pengendalian gulma harus mempertimbangkan konservasi air, panen harus tepat waktu, akses jalan kebun harus tetap berfungsi, dan kesehatan tanaman harus dipantau secara berkala. Teknologi digital dan informasi iklim juga harus semakin dekat dengan pekebun, bukan hanya berada di ruang rapat pemerintah atau perusahaan.
Jangan Menunggu Api Menjadi Berita
El Niño juga membawa satu ancaman yang tidak boleh dianggap sebagai persoalan sekunder: kebakaran hutan dan lahan. Ketika kelembapan turun dan vegetasi mengering, satu percikan kecil dapat berkembang menjadi bencana yang jauh lebih mahal daripada kehilangan produksi TBS.
BMKG sejak awal 2026 telah mengingatkan bahwa El Niño dapat meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla, sementara kondisi kering juga berpotensi menurunkan produktivitas sektor pertanian dan perkebunan. BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor, penguatan informasi iklim dan pengambilan keputusan berbasis risiko.
Karena itu, perkebunan harus memiliki sistem pencegahan api sebelum musim kering mencapai puncaknya. Patroli, pemantauan hotspot, sekat bakar, sumber air, peralatan pemadaman, jalur akses dan tim siaga harus dipastikan berfungsi, bukan sekadar tercantum dalam dokumen SOP.
Lebih penting lagi, masyarakat sekitar kebun harus menjadi bagian dari sistem tersebut. Desa, kelompok tani, perusahaan, pemerintah daerah, BPBD, pemadam kebakaran dan aparat terkait perlu mempunyai jalur komunikasi yang jelas. Dalam situasi El Niño, satu kebun tidak boleh merasa menjadi pulau yang berdiri sendiri.
Lima Pilar Sawit Tangguh El Niño
Maka resiliensi sawit 2026 dapat dibangun melalui lima pilar sederhana tetapi mendasar. Pertama, air: menangkap dan menyimpan air sebanyak mungkin ketika tersedia. Kedua, tanah: menjaga tanah tetap hidup agar mampu menyimpan kelembapan. Ketiga, tanaman: memperkuat kesehatan tanaman dan mempercepat peremajaan tanaman tua. Keempat, manusia: memperkuat pengetahuan, kelembagaan dan pendapatan pekebun. Kelima, data: menjadikan informasi BMKG sebagai dasar keputusan kebun.
Kelima pilar itu harus berjalan bersamaan. Air tanpa tanah sehat tidak cukup; bibit unggul tanpa tata kelola air tidak otomatis tahan kekeringan; teknologi tanpa pekebun yang memahami manfaatnya hanya akan menjadi perangkat yang mahal. Resiliensi lahir dari hubungan yang utuh antara alam, teknologi dan manusia.
Di sinilah pemerintah, perusahaan dan pekebun mempunyai ruang kerja masing-masing. Pemerintah menyediakan informasi iklim, infrastruktur, regulasi, pembiayaan dan pendampingan; perusahaan memperkuat tata kelola dan kemitraan; sementara pekebun menjadi aktor utama yang menerjemahkan pengetahuan itu menjadi praktik sehari-hari di kebun.
Pada akhirnya, El Niño bukan sekadar cerita tentang langit yang kering. Ia adalah ujian terhadap cara kita mengelola perkebunan.
Kita tidak bisa memerintah hujan untuk turun. Kita tidak dapat menghentikan matahari untuk bersinar terlalu terik, dan kita tidak bisa mengubah siklus iklim hanya dengan satu kebijakan. Tetapi kita dapat memperbaiki tanah, menyimpan air, merawat tanaman, mempercepat peremajaan, membangun kelembagaan pekebun, menggunakan informasi iklim dan mencegah api sebelum menjadi bencana.
Itulah hakikat resiliensi: bukan berharap agar badai tidak pernah datang, tetapi membangun rumah yang lebih kokoh sebelum badai tiba.
Pohon sawit memberi pelajaran penting. Ia tidak berlari ketika kemarau datang; ia bertahan dengan akar, batang dan kemampuan biologisnya. Ia tidak mengeluh ketika hujan terlambat; ia menggunakan apa yang masih tersedia untuk terus tumbuh.
Mungkin manusia pun demikian. Kita tidak selalu diberi kuasa untuk mengatur musim, tetapi kita diberi akal untuk membaca tanda-tandanya dan diberi ikhtiar untuk mempersiapkan diri.
Dan pada akhirnya, merawat kebun bukan hanya soal menjaga produksi. Merawat kebun adalah merawat kehidupan orang-orang yang menggantungkan masa depan pada sebidang tanah. Dalam pandangan yang lebih dalam, menjaga air, tanah dan pohon adalah bentuk lain dari menjaga amanah Tuhan.
Sebab orang yang bijaksana tidak menunggu kekeringan untuk belajar tentang air; ia belajar menghargai air ketika hujan masih turun.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.
