Oleh: 𝙎𝙪𝙛 𝙆𝙖𝙨𝙢𝙖𝙣
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
ADA hari ketika badan sehat, tidak demam, tidak pusing, tetapi hati rasanya ingin protes kepada dunia. Ditanya, “Kenapa?” jawabnya, “Tidak enak badan.” Padahal yang tidak enak bukan badan, melainkan hati yang sedang sebel (makêrêng-kêrêng).
Sebab, sebel beda kelas dengan marah. Marah biasanya meledak seketika: suara menggelegar seperti mesin pabbenno’ di pasar, wajah memerah, urat leher ikut unjuk rasa. Kucing beranak saja memilih putar balik karena takut lêganrusu’!
Kalau sebel lebih halus daripada kulit lênrong (belut). Ia menyusup diam-diam ke hati, lalu mendidih perlahan seperti air di kompor portabel. Apinya tidak kelihatan, tetapi kalau dibiarkan, rêdê ma to—mendidih juga akhirnya!
Yang paling mengherankan, pemicu sebel sering bukan masalah besar, melainkan perkara kecil yang datang bertubi-tubi. Satu masih kita senyumi, sepuluh datang bersamaan, senyum pun minta cuti! Salah satu yang paling gampang menguji kesabaran adalah jalan raya.
Ada kendaraan di depan melaju amat lambat, pelannya seperti kura-kura sedang mencari makanan. Padahal jalanan sedang padat dan kita sedang berkejaran dengan waktu. Dalam hati langsung muncul protes, “Astaga, ini jalan raya negara dong, bukan halaman rumahmu!”
Mau menyalip susah setengah mati karena kendaraan dari arah berlawanan terus berdatangan. Sementara sopir di depan santainya luar biasa, seolah-olah aspal itu tanah warisan nenek moyangnya.
Saya tetap sabar menguntit. Tiba-tiba lampu weser kirinya menyala. Saya pun girang, bersiap menyalip dari kanan. Eh, dia malah banting setir ke kanan!!
Saya terhenyak. “Ini sopir diimpor dari planet mana? Lampu weser ke kiri, ban belok ke kanan. Iyo mbo’, satu-kosong!”
Belum sempat sebel reda, muncul lagi cobaan berikutnya: parkiran.
Mobil sudah terjepit. Di belakang mengunci, di depan mengapit. Mau keluar rasanya seperti memandu kapal tongkang melewati selat paling sempit di dunia.
Mundur sejengkal, berhenti, putar setir ke kanan, maju lagi sejengkal, mundur lagi. Mata melirik spion kanan, menyapu spion kiri, kepala menoleh ke belakang. Keringat bercucuran bukan karena udara panas, melainkan karena takut bumper bertemu bumper—sibbonynyak!
Setelah hampir 17 menit bermanuver seperti sedang ujian praktik SIM tingkat lanjut, posisi mobil akhirnya mulai presisi. Tinggal sedikit lagi bisa keluar. Dalam hati sudah bersorak, “Nah, aman… sebentar lagi bebas merdeka!”
Eh, tiba-tiba mobil yang mengunci di depan dengan santainya bergerak maju dan pergi.
Mata saya langsung melotot. “Lah! Kalau dari tadi mau maju, kenapa tidak dari tadi?!”
Di situlah level sebel naik kelas. Bukan lagi sebel biasa, melainkan sebel tingkat dewa.
Di kampus pun sebel punya tempat tersendiri, terutama bagi dosen yang sedang mengejar jam mengajar.
Pernah pagi-pagi saya berangkat tergesa-gesa. Sarapan cuma formalitas: roti bakar baru masuk mulut langsung ditelan, teh panas diseruput kilat seperti rusa kehausan yang nekat minum di pinggir Sungai Amazon, sementara buaya mengintai dari balik semak. Mengendarai kendaraan pun sudah seperti ambulans mengejar pasien darurat.
Sesampainya di kampus, saya masih harus naik tangga ke lantai empat. Begitu tiba, napas sudah memburu seperti baru lolos dari kejaran tiga ekor anjing beranak. Pintu kelas dibuka dengan poso-poso, sisa lima watt tenaga. Eh, kosong melompong!
Saya melongo. “Ini saya yang salah masuk kelas, atau mahasiswa saya disandera di kelas lain?”
Ketua tingkat saya telepon sampai tujuh kali. Tidak diangkat. Bukan karena tidak mendengar, tetapi HP-nya masih berstatus “memanggil”. Mau seribu kali dipanggil, kalau belum masuk fase “berdering”, tetap saja kita cuma berbicara dengan kesunyian.
Setelah 25 menit menunggu, saya mengintip kelas sebelah. Ternyata mahasiswa saya ada di sana. Salah satu mahasiswa yang mudah kukenali dari jauh adalah si gondrong, yang duduk manis bersama teman-temannya. Rupanya dosen sebelah terlambat memulai dan lupa cara berhenti. Kalimat “Sekali lagi…” sudah lima kali diucapkan. Masalahnya, “sekali lagi” beliau durasinya hampir setara tiga SKS—bahkan bisa berkembang menjadi satu semester!
Mahasiswa sebenarnya sudah ingin bubar, tetapi siapa berani berkata, “Pak, waktunya sudah habis”? Bisa-bisa dosennya tersinggung, nappammu manrasa! Ujung-ujungnya dapat tugas mandiri tulis tangan 15 halaman.
Maka mahasiswa memilih jalan aman: lebih baik dosen lupa waktu daripada mahasiswa kehilangan waktu untuk menulis tugas.
Sementara saya, setelah ngos-ngosan naik empat lantai, akhirnya hanya berdiri di depan kelas kosong, nakatulungi lale’—ditemani kesunyian.
Belum selesai. Sebel juga bisa muncul ketika kita mencari barang yang sebenarnya berada sangat dekat.
Pernah HP saya hilang di dalam rumah. Tas dibongkar, kamar diperiksa, lantai atas dinaiki, seluruh sudut disisir. Orang-orang di rumah ditanya satu per satu.
“Siapa yang lihat HP saya?”
Masalahnya, HP itu sengaja disetel silent. Siapa yang menyuruh silent? Saya sendiri. Demi ketenangan, demi menjaga stabilitas dan keamanan keluarga besar saat istirahat.
Akhirnya saya naik-turun tangga berkali-kali seperti tim reserse sedang melakukan penggerebekan. Dompet ada, charger ada, pulpen ada, permen kopiko ada. HP tetap gaib.
Sampai akhirnya ingatan menyenggol memori: masih ada satu ritsleting kecil di dalam tas yang belum diperiksa.
Dibuka pelan-pelan… dan astaga naga! HP itu ternyata bertengger manis di sana. Alhamdulillah!
Dari tadi HP tersebut tidak bergerak sesenti pun. Kita saja yang sudah keliling rumah tujuh putaran, mirip tawaf umrah di musim panas. Setelah ditemukan, bukannya malu, malah spontan menggerutu, “Ah, sebel!”
Padahal kalau jujur: siapa yang mengubah HP menjadi silent? Kita. Siapa yang menyimpannya di ritsleting kecil? Kita. Siapa yang lupa? Kita juga! Idi’ maneng!
Jadi dalam drama ini, yang bikin sebel sebenarnya bukan HP-nya, melainkan diri sendiri!
Benda elektronik lain pun kadang ikut menguji kesabaran. Charger dipinjam teman katanya cuma sebentar. Tiga hari kemudian kembali dengan kabel meliuk-liuk seperti habis tawuran antargeng.
Laptop juga begitu. Sudah dicolok charger, lampu indikator menyala, tetapi tombol power ditekan berkali-kali tetap tidak mau hidup. Begitu saya ketuk agak keras—uwappeppekengngi—eh, mendadak menyala!
Teknologi mutakhir ternyata kadang mengajarkan teori sederhana: laptop itu bukan rusak, mungkin cuma butuh pendekatan emosional yang lebih tegas!
Bahkan becak pun bisa menjadi sumber sebel. Seorang ibu hajja bertanya kepada tukang becak, “Berapa ke Pasar, Daeng?”
“Dua puluh ribu, Bu hajja,” jawab Daeng.
“Wah maka mana soli’, Tidak bisa lima ribu?”
“Kalau mau lima ribu, cari-cari saja di sana.” Ketus Daeng becak.
Ibu itu pun pindah ke becak lain.
“Berapa, Daeng?” tanyanya.
“Terserah Ibu. Lima ribu ada, sepuluh ribu ada, dua puluh ribu juga ada,” jawab Daeng becak.
“Kalau begitu, saya pilih lima ribu nna!”
“Silakan naik.” Respon Daeng becak.
Baru satu kaki naik, becak langsung lêsorong paruru (didorong). Sandal Swallow si ibu terlempar tiga meter!
“Astaga! Saya belum naik, Daeng!”
“Memang begitu prosedurnya kalau tarif lima ribu, Bu Aji.” De’na sippangngatta! Kata Daeng becak!
Sebal, ibu itu menaikkan tarif menjadi sepuluh ribu.
Baru berjalan beberapa radius, becak melibas polisi tidur tanpa rem. Badan ibu terguncang seperti sedang ikut simulasi gempa bumi berkekuatan magnitudo.
Talulu, songkok hajja tadinya arah ke depan berputar ke belakang, tagganrê-ganrê ulunna.
“Daeng! Kenapa kasar begini?” protes bu hajja sulla’ matanna.
“Kalau mau perjalanan mulus, tarifnya dua puluh ribu, Bu.” Usul Daeng becak.
“Ya sudah, dua puluh ribu!” ketus bu Hajja, mulai mengepalkan tangannya mirip Mike Tyson.
Sejak itu Daeng mengayuh tenang, adem, seperti sedang mengantar kepala desa mencari alamat di perumahan nomor rumah loncat-loncat.
Sesampainya di Pasar, ibu hajja menyerahkan Rp20 ribu.
Daeng mengernyit. “Kenapa cuma dua puluh ribu, Bu?”
Ibu bingung. “Kan tadi yang bagus dua puluh ribu.”
Daeng menjelaskan santai, “Betul. Tapi awalnya lima ribu, pertengahannya sepuluh ribu, terakhir dua puluh ribu. Jumlah ni garê’!”
“Jadi totalnya tiga puluh lima ribu, Bu,” tutup Daeng.
Ibu hajja melongo. Bukan cuma ongkos becaknya yang naik, harga dirinya sebagai penumpang ikut turun. Ternyata perjalanan kali ini bukan sekadar menuju Pasar, tetapi juga mengikuti les matematika dadakan: lima tambah sepuluh tambah dua puluh, hasilnya bikin penumpang mengelus dada!
Astaga! Ini bukan lagi tarif becak, tetapi tarif suka-suka Daeng: penumpang berangkat, harga ikut berangkat! Lain kali sebelum naik becak, ibu harus membawa kalkulator—bukan untuk menghitung jarak, tetapi untuk menghitung berapa kali tarifnya berubah!
Akhirnya, dari semua kejadian itu, saya melihat satu hal sederhana: sebel sering kali bukan karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena kesabaran kita sedang terlalu kecil.
Maka, sebelum sebel berubah menjadi marah, mungkin kita perlu menarik napas, istighfar, lalu bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan yang sedang kita lawan bukan keadaan, melainkan ego sendiri.
Wallahu a’lam.
𝟱 𝗢𝗸𝘁𝗼𝗯𝗲𝗿 𝟮𝟬𝟮𝟲 (𝗦𝗞)
