Catatan Hendry Ch Bangun (FWK)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jungkiu Choi lebih tepat disebut sebagai ahli dan praktisi manajemen karena dia bekerja di berbagai lembaga seperti McKinsey, Boston Consultant Group, Standard Chartered. Tetapi dia barangkali lebih terkenal dan dikenang sebagai penulis budaya K-Pop.
Ya, dia mampu mewujudkan kecintaannya sebagai fandom music dalam bentuk buku, yang dalam Bahasa Indonesia berjudul Bagaimana K-Pop Menguasai Dunia? yang diluncurkan di toko buku Kinokuniya, Grand Indonesia, Jakarta, Minggu (27/9).
Doktor lulusan Singapore Management University (SMU) bermukim di Singapura dalam beberapa tahun terakhir untuk sambil mengajar di National University of Singapore (NUS) dan SMU. Bukunya diterbitkan Palmerah Syndicate dan sudah beredar di toko buku dan menjadi semacam kisah pengalaman dan pengamatan pribadi dalam menanggapi budaya K-Pop yang terkenal dan tersebar di semua benua.
Choi mengaku pada awalnya seperti kebanyakan remaja di tahun 1980an dia lebih sering mendengarkan lagu-lagu dari ABBA atau Queen, grup musik kenamaan Inggris. Pada suatu saat dia mendengarkan musik Korea dan sejak saat itu dia mulai fanatik. Dia lalu memiliki penyanyi favorit, lagu favorit, dan di sanalah mulai terbentuk dirinya sebagai penggemar fanatik, menjadi fangirling/fanboying. Fanatisme itu dia terapkan dalam kehidupan mudanya dengan membeli album, cendera mata, menonton pertunjukan, dan bergabung dalam klub penggemar.
Karena pekerjaannya, setelah bekerja 14 tahun di McKinsey & Company setelah meraih gelar Sarjana Ekonomi Internasional tahun 1989 dan MBA dari Haas School of Business (1991), Choi kemudian pindah ke Standard Chartered Bank dan ditempatkan di RR Cina. Di sini dia mengetahui bahwa di banyak negara sudah muncul penggemar K-Pop dalam semua bentuknya, lagu, penyanyi, film.
Di Inner Mongolia, dia mendapati sebagian besar karyawannya penggemar Super Junior. Maka pada suatu kesempatan mereka menari bersama sambil menyanyikan lagu “Sorry, Sorry”, menciptakan rasa persaudaraan sekaligus memberi kebanggaan.
Menurut Choi, K-Pop mencapai kedudukan seperti sekarang karena selain faktor kreatifitas para seniman, manajemen terpadu juga support dari pemerintah dalam berbagai bentuk. Ya karena K-Pop sudah menjadi industry yang menghasilkan milyaran dollar AS pertahun dan memberikan lapangan kerja. Penggemar K-Pop di seluruh dunia diperkirakan tidak hanya mencapai ratusan juta orang, tapi mungkin lebih dari itu.
Penanggap Zaini MA, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang mendapat magister di sebuah universitas di Korea Selatan, mengatakan K-Pop menjadi besar karena keputusan politik Presiden Kim Dae Jung, sehabis krisis ekonomi akhir 1990an.
“Mereka menyadari sumber daya alam Korsel terbatas, jadi budaya dijadikan bernilai ekonomi dan dapat dijual untuk membuka lapangan kerja sekaligus mendatangkan devisa.
Berbagai kebijakan dan fasilitas dimudahkan sehingga K-Pop bisa maju. Sebenarnya sejak tahun 1960-an sudah ada berbagai ajang seni, festival, tetapi karena berjalan sendiri-sendiri, majunya ya setelah semua unsur bersatu, bersama-sama memberikan dukungan.”
Lalu bagaimana dengan peluang Indonesia, yang menurut Choi budayanya lebih beragam, jumlah penduduknya lebih besar, wilayahnya lebih luas.
“Saya berharap Indonesia bisa maju dan mencapai keberhasilan melihat potensinya,” kata Choi si penyuka masakan padang dan mengatakan kalau ke Jakarta, pulang ke Singapura pasti berat badannya bertambah.
“Menurut pendapat saya, semua potensi harus berjalan dulu. Lakukan sesuatu, kreatif, jangan menunggu bantuan, jangan menunggu fasilitas. Kalau semua berkarya, ribuan orang pelaku kreatif bergerak, akan banyak muncul produk dan akan tercipta keadaan kondusif. Nah di situ tentu saja diharapkan ada dukungan dari masyarakat dan pemerintah dalam berbagai bentuknya,” tambah Zaini.
Dengan adanya Kementerian Kebudayaan yang dipimpin DR Fadli Zon yang dirinya sendiri adalah pencinta dan kolektor berbagai produk kesenian dan kebudayaan Tanah Air, peluang ekonomisasi seni budaya, karya cipta, sangat besar. Diskusi ke arah sana sudah dilakukan, tanggapan dari pemangku kepentingan konon juga positif, tinggal kita tunggu apa dan bagaimana rencana dijalankan, sehingga produk budaya dan seni selain mencerminkan keunggulan olah pikir dan olah rasa sekaligus menjadi sumber devisa dan ladang tenaga kerja. ***
