KABARIKA.ID, MAKASSAR — Tanaman kentang varietas CP3 adalah salah satu kentang industri yang penting di Indonesia. Kentang ini sangat berpotensi sebagai pangan alternatif pengganti beras karena memiliki gizi yang baik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kandungan gizi kentang terdiri dari nutrisi makro dan mikro. Nutrisi makro berarti nutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar, seperti karbohidrat, lemak, dan protein.
Sedangkan vitamin dan mineral tergolong nutrisi mikro karena hanya dibutuhkan tubuh dalam jumlah sedikit.
Penegasan itu disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Numba, MS. saat menyampaikan Pidato Pengukuhan dan Penerimaan sebagai Anggota Dewan Profesor di depan Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Universitas Muslim Indonesia (UMI), Sabtu (31/05/2025) di Auditrorium Al-Jibra Kampus 2 UMI Makassar.
Pidato pengukuhan yang disampaikan itu berjudul, “Pengembangan Kentang Industri:
dari Laboratorium ke Meja Makan Solusi Alternatif Membangun Ketahanan Pangan Nasional”.
Guru besar tetap dalam Bidang Pemuliaan Bioteknologi Pertanian pada Fakultas Pertanian dan Bioremediasi Lahan Tambang UMI itu, mengemukakan beberapa alasan yang menjadi pertimbangan memilih kentang sebagai pangan alternatif pengganti beras.
Antara lain, cukup mengandung karbohidrat dan kandungan gizi yang tinggi, seperti vitamin C, vitamin B6, kalium, dan serat.
Vitamin C merupakan senyawa antioksidan yang membantu memperbaiki sel dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sementara vitamin B6 penting untuk memperbaiki fungsi otak dan metabolisme tubuh. Sedangkan kalium dalam kentang membantu menjaga keseimbangan elektrolit dan tekanan darah.
Selain itu, kentang jenis atlantik juga dapat diolah dalam berbagai bentuk makanan (fast food dan Instant food), serta sebagai bahan baku industri pangan lainnya.
Pengembangan tanaman kentang industry di Indonesia sangat potensial karena di samping sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mendukung, juga dapat menjadi sumber devisa negara karena kentang dapat menjadi komoditas ekspor nonmigas dan bahan mineral.
Pada kondisi tertentu dapat meningkatkan kesejahteraan petani karena kentang dapat menjadi tanaman cash crop bagi petani.
Dengan demikian, diharapkan di masa depan Indonesia dapat menjadi Pusat Unggulan Kentang Daerah Tropis (Tropical Potato Center).
Meskipun nasi masih merupakan makanan pokok dan menjadi bahan makanan yang masih sulit tergantikan bagi masyarakat Indonesia, akan tetapi komitmen pemerintah untuk membangun dan mencapai ketahanan pangan mengharuskan kita berupaya mencari alternatif lain untuk substitusi pangan alternatif selain beras.

Pemuliaan Kentang
Penelitian dan pengembangan propagule kentang bermutu dan kutivar kentang unggul telah dilakukan oleh Tim peneliti IPB. Upaya menghasilkan klon unggul yang sesuai dengan teknik budidaya yang Minim Bahan Kimia Sintetis (MBKS) dilakukan melalui program pemuliaan tanaman kentang.
Pemuliaan dapat dilakukan melalui: (1) hibridisasi seksual (penyilangan biasa), (2) hibridisasi somatik (fusi protoplas), (3) mutagenesis secara fisik atau kimia, dan (4) transformasi genetic atau rekayasa genetika, misalnya melalui bantuan agrobacteium.
Pemuliaan tanaman secara umum diartikan sebagai upaya sistematis yang dilakukan untuk memperbaiki sifat/karakter tanaman dengan memanfaatkan Keragaman genetik yang dituangkan dalam suatu varietas baru, sehingga bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Untuk itu, faktor keragaman genetik merupakan modal dasar bagi para ahli pemuliaan tanaman untuk tujuan perbaikan dan pengembangan tanaman.
a. Analisis Keragaman Genetik
Pengetahuan tentang keragaman genetik mempunyai arti yang sangat penting karena beberapa hal.
Pertama, kemampuan dalam membedakan individu dalam spesies secara tepat. Kedua, kemampuan dalam mengidentifikasi beberapa genotipe secara tepat, terutama bagi tanaman yang perbanyakannya dilakukan secara klonal.
Ketiga, estimasi terhadap tingkat keragaman genetik dalam memprediksi tingkat perolehan genetik yang berpotensi.
Dalam kegiatan pemuliaan tanaman kentang, pengetahuan tentang tingkat kekerabatan tanaman yang terbudidaya dan kentang spesies liarnya menjadi sangat penting.
Prof Sudirman mengutip Al-Qur’an surah Al-An’am [6] ayat 141 Allah Swt yang memberikan gambaran bahwa untuk bisa tumbuh dengan baik, tanaman perlu didukung faktor lingkungan yang baik, seperti ketersediaan air.
Ayat tersebut juga memberikan gambaran bahwa buah pada tanaman yang sama pun ada yang serupa dan ada yang tidak serupa, akibat terjadinya segregasi saat mengalami pembelahan sel secara miosis. Bahkan terjadi perbedaan pada tingkat perkembangan buah (buah yang baru terbentuk dan yang sudah masak) akibat regulasi dan ekspresi gen yang berbeda.
Beberapa metode sering digunakan pada studi keragaman genetik tanaman kentang, seperti analisis karakter morfologi, fisiologi dan biokimia yang dikelompokkan dengan Metode Konvensioal, serta beberapa marker/penanda berbasis molekuler DNA yang dikelompokkan sebagai Metode Bioteknologi.
Dari dua metode tersebut, jenis penanda yang didasarkan pada tingkat molekul DNA dianggap cukup andal dan lebih dapat dipercaya karena tidak dipengaruhi faktor lingkungan.
b. Fusi Protoplas (Hibridisasi Somatik)
Pemuliaan konvensional ditempuh dengan melakukan persilangan atau dikenal dengan hibridisasi seksual, yaitu meletakkan serbuk sari pada kepala putik. Cara ini seringkali menghadapi kendala ketika yang disilangkan adalah tanaman berbeda species atau kentang terbudidaya dengan species liarnya, sehingga dilakukan melalui Hibridisasi Somatic yang dikenal dengan Fusi Protoplas.
Fusi protoplas pada tanaman kentang (Solanum tuberosum) pada umumnya dilakukan dengan tujuan untuk: (1) mengintrogresikan sifat-sifat ketahanan cekaman lingkungan ekstrem, dan (2) meresintesis tingkat tetrapolid untuk memaksimalkan heterosigositas.
Inkompatibilitas seksual merupakan alasan utama penggunaan fusi protoplas dalam melakukan introgresi sifat-sifat ketahanan ke dalam genom kentang.

c. Mutasi Radiasi
Pemuliaan tanaman kentang menggunakan pendekatan Bioteknologi (termasuk rekayasa genetika) untuk menghasilkan varietas unggul bermutu hingga tahun 2018 masih mengalami banyak kendala.
Untuk itu, Prof. Wattimena dkk. menempuh cara lain dengan metode merakit kentang “mutan” dengan cara mutasi dengan teknik Radiasi Sinar Gamma. Akhirnya pada tahun 2019 Prof Sony Suharsono dkk melahirkan varietas baru dengan nama CP1 (sipiwan) dan disusul dengan varietas CP3 (sipitri).
Dua varietas baru tersebut sangat berpotensi untuk menjadi bahan pangan alternatif penggati beras karena memiliki kandungan pati yang tinggi dan kandungan air yang rendah.
Sinar gamma menyebabkan perubahan genetik (mutasi) pada tanaman dengan merusak DNA dan menyebabkan kesalahan selama proses perbaikan sel. Mutasi ini dapat menghasilkan variasi genetik yang baru.
Dari sekian banyak perubahan yang terjadi, ada saja sel tertentu yang justru menunjukkan sifat yang baik sesuai karakter yang diharapkan dari perlakuan sinar gamma tersebut yang bermanfaat bagi manusia, seperti meningkatkan ketahanan terhadap penyakit, dan memiliki daya adaptasi luas terhadap lingkungan.
d. Uji Multilokasi
Uji multilokasi merupakan proses pengujian varietas tanaman atau galur (strain) pada beberapa lokasi yang berbeda untuk menguji kemampuan adaptasi dan stabilitasnya terhadap berbagai kondisi lingkungan.
Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa varietas tersebut memiliki potensi yang baik di berbagai kondisi agro-ekologis sebelum dilepaskan ke petani.
Lokasi yang dipilih untuk uji multilokasi ini adalah Pangalengan di Jawa Barat, Dieng Jawa Tengah, dan Sembalun di Nusa Tenggara Barat.
Rataan hasil seluruh genotip yang terkumpul dari masing-masing lokasi atau musim memberikan informasi kuantitatif dari suatu lingkungan. Dari hasil analisis dapat diketahui apakah genotip tersebut adaptif pada lingkungan yang menguntungkan atau adaptif pada lingkungan yang luas.
Peluang Kerja Sama Perguruan Tinggi dengan Multipihak untuk Pengembangan Kentang Industri
Perubahan semangat dan paradigma Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM) menjadi “Kampus Berdampak” oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi harus dimaknai sebagai upaya agar hasil penelitian di perguruan tinggi tidak berhenti di tingkat artikel yang dipublikasikan pada jurnal bereputasi (terindeks scopus), akan tetapi lebih dari itu, bagaimana dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Untuk itu, pengembangan kerja sama UMI dengan stakeholder lain sangat terbuka dan menjadi penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia karena dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik, produktif, dan harmonis.
Dengan kerjasama yang baik kita dapat meningkatkan produktivitas, dan membangun hubungan yang lebih positif, yang pada akhirnya akan “Berdampak” pada peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan sebagaimana harapan dari paradigma “Kampus Berdampak”
Seluruh rangkaian tahapan dari laboratorium ke meja makan, terbuka peluang kerja sama yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Pemuliaan Tanaman
Kerja sama penelitain dan pengembangan kentang antarperguruan tinggi, termasuk penelitian menciptakan varietas kentang yang dapat dikembangkan di daerah ketinggian sedang (medium).
2. Perbanyakan Tanaman dengan Teknik Kultur Jaringan
Kerja sama optimalisasi laboratorium kultur jaringan yang dimiliki oleh hampir semua
Fakultas Pertanian dari berbagai perguruan tinggi untuk menghasilkan plantlet.
Bahkan Lab Kultur yang dimiliki oleh Dinas Pertanian TPHBUN Perkebunan
Provinsi Sulawesi Selatan, serta Dinas Pertanian Kota Makassar.
3. Aklimatisasi Plantlet dan Produksi Umbi Bibit G-0 dan G-1
Kerja sama antara Perguruan Tinggi dan Penangkar Benih dengan pemerintah kabupaten yang memiliki wilayah dataran tinggi, seperti Kabupaten Gowa, Jeneponto,
Bantaeng, Sinjai, Enrekang, Tana Toraja, dan Kabupaten Toraja Utara.
4. Produksi Kentang Konsumsi
Kerja sama produksi kentang konsumsi antara Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah dan Kelompok Petani Kentang, yang dapat menunjang program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh pemerintah, sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat petani kentang.
5. Pengembangan UMKM
Kerja sama Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah dengan Pelaku Usaha seperti Pasar Modern (Lotte, Gelael Supermarket, dsb) serta Rumah Makan Cepat Saji (KFC, CFC, McD, dsb) dalam memanfaatkan kentang industri produk petani sebagai bagian dari usahanya. (rus)
