KABARIKA.ID, MAKASSAR – Banyak makanan yang kita konsumsi saat ini telah mengalami ultraproses, mengandung bahan-bahan yang tidak sehat, dan dikaitkan dengan risiko kesehatan utama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seiring dengan meningkatnya konsumsi makanan ini, masalah kesehatan kronis juga meningkat, terutama di kalangan kelompok berpenghasilan rendah.
Para ahli menyerukan pedoman yang lebih jelas, penelitian yang lebih baik, dan perubahan sistemik untuk mengurangi dampak makanan ultraproses terhadap kesehatan masyarakat.
Sebagian besar makanan ultraproses (UPF) ditandai dengan kualitas gizi yang buruk, berkontribusi pada kalori berlebih, dan biasanya tinggi lemak jenuh, gula tambahan, dan natrium (garam), kombinasi yang sering disingkat HFSS, dan berkontribusi terhadap kelebihan kalori.
Ini termasuk minuman manis, daging ultraproses, biji-bijian olahan, permen, dan makanan panggang komersial, dan lainnya.
Semua komponen itu berkontribusi terhadap dampak kesehatan kardiometabolik yang merugikan, termasuk serangan jantung, stroke, obesitas, peradangan, diabetes tipe 2, dan komplikasi vaskular.
Studi observasional telah menemukan hubungan antara mengonsumsi UPF dalam jumlah yang lebih tinggi dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, penyakit kronis, dan mortalitas.
Meski demikian, tidak semua UPF adalah makanan cepat saji atau memiliki kualitas gizi yang buruk; beberapa UPF memiliki nilai gizi yang lebih baik dan dapat menjadi bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan.
Makanan ultraproses menjadi perhatian yang semakin meningkat karena konsumsinya yang meluas dan dampaknya terhadap potensi risiko kesehatan. Sebagian besar UPF, terutama yang umum ditemukan dalam pola makan di AS, tinggi lemak jenuh, gula tambahan, dan natrium (garam).
Sejumlah kecil makanan ultraproses, seperti biji-bijian utuh komersial tertentu, produk susu rendah lemak rendah gula, dan beberapa produk nabati, memiliki nilai gizi positif dan.
Sebuah nasihat ilmiah terbaru dari American Heart Association yang dipublikasikan dalam jurnal Circulation pada 8 Agustus berjudul, “Makanan Ultraproses dan Kaitannya dengan Kesehatan Kardiometabolik: Bukti, Kesenjangan, dan Peluang,” merangkum pengetahuan terkini tentang UPF dan dampaknya terhadap kesehatan kardiometabolik.
“Hubungan antara UPF dan kesehatan itu kompleks dan multifaset,” kata Maya K. Vadiveloo, Ph.D., R.D., FAHA, ketua sukarelawan kelompok penulis untuk nasihat sains tersebut.

Vadiveloo menegaskan bahwa mengonsumsi makanan yang mengandung terlalu banyak lemak jenuh, gula tambahan, dan garam itu tidak sehat.
Namun yang belum ketahui pasti adalah apakah bahan-bahan atau teknik pengolahan tertentu membuat makanan menjadi tidak sehat, selain komposisi nutrisinya yang buruk.
“Dan apakah zat aditif dan langkah-langkah pengolahan tertentu yang digunakan untuk membuat makanan yang lebih sehat seperti roti gandum utuh komersial memiliki dampak kesehatan?,” ujar Vadiveloo.
Ia adalah seorang Associate Professor di Departemen Gizi di University of Rhode Island, dan seorang ahli diet terdaftar dan ahli epidemiologi gizi yang penelitiannya berfokus pada penggunaan teori perilaku untuk memengaruhi pilihan makanan, kualitas diet, pengendalian berat badan, dan pada akhirnya kesehatan kardiovaskular secara positif.
Konsumsi UPF Meningkat Pesat
Peningkatan pesat konsumsi UPF sejak tahun 1990-an telah mengganggu pola makan tradisional, yang berpotensi berkontribusi terhadap dampak buruk bagi kesehatan.
Diperkirakan 70% produk di toko swalayan di AS mengandung setidaknya satu bahan ultraproses. Laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) yang diterbitkan pada 7 Agustus lalu, menyebutkan bahwa 55% kalori yang dikonsumsi oleh orang berusia satu tahun ke atas di AS adalah UPF.
Di antara anak usia 1-18 tahun, total kalori UPF yang dikonsumsi melonjak hingga hampir 62%, dan di antara orang dewasa usia 19 tahun ke atas, total kalori UPF adalah 53%.
Selain itu, keluarga dengan pendapatan rata-rata yang lebih rendah memiliki persentase UPF yang dikonsumsi per hari yang lebih tinggi, yakni 54,7% untuk kelompok pendapatan terendah berbanding 50,4% untuk kelompok pendapatan tertinggi.
Harga UPF relatif murah, mudah diperoleh, dan dipasarkan secara agresif, terutama di kalangan anak muda dan komunitas yang kekurangan sumber daya, sehingga seringkali menggantikan alternatif yang lebih sehat.
Pergeseran ini mengakibatkan penurunan kualitas gizi pola makan umum di AS dan tidak sejalan dengan panduan diet dari American Heart Association.
Bagaimana makanan ultraproses diklasifikasikan?
UPF adalah makanan multi-bahan yang mengandung zat aditif (kemungkinan dimaksudkan untuk meningkatkan masa simpan, penampilan, rasa, atau tekstur) yang banyak digunakan dalam produksi pangan industri dan jarang digunakan dalam masakan rumahan.
Pola makan manusia semakin banyak mengandung makanan olahan industri, yang mengarah pada berbagai sistem klasifikasi makanan berdasarkan kriteria pengolahan.
Jenis pengolahan pangan industri tertentu bermanfaat untuk pengawetan dan keamanan, dan/atau menurunkan biaya, seperti teknik yang memperpanjang masa simpan, mengendalikan pertumbuhan mikroba, mengurangi racun kimia, mempertahankan kualitas fungsional, nutrisi, dan sensorik (rasa), serta mengurangi kehilangan dan pemborosan makanan.
Kelompok penulis memperingatkan bahwa ketergantungan yang berlebihan pada tingkat pemrosesan sebagai proksi kesehatan makanan, dapat mendorong industri makanan untuk mengurangi atau menghilangkan penanda ultraproses dari makanan yang tinggi lemak jenuh, gula tambahan, dan natrium, serta mempromosikannya sebagai “alternatif yang lebih baik.”
Dampak Kesehatan UPF
Sebuah meta-analisis studi prospektif menemukan hubungan dosis-respons antara konsumsi UPF dan kejadian kardiovaskular, seperti serangan jantung, serangan iskemik transien (TIS), stroke, diabetes tipe 2, obesitas, dan mortalitas karena semua penyebab.
Asupan UPF yang tinggi dibandingkan dengan yang rendah dikaitkan dengan risiko luaran kardiometabolik 25-58% lebih tinggi dan risiko mortalitas 21-66% lebih tinggi.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami ambang batas yang tepat untuk konsumsi harian UPF, berapa jumlah yang aman dan risiko tambahan dari mengonsumsi lebih banyak UPF.
Penelitian juga menemukan bahwa mungkin terdapat mekanisme mendasar yang memengaruhi perilaku makan dan obesitas pada sebagian orang, dan bahwa UPF dapat memicu obesitas.
UPF seringkali mengandung kombinasi bahan dan aditif yang jarang ditemukan dalam makanan utuh untuk meningkatkan rasa dan mengurangi biaya, dan ini dapat memengaruhi aktivitas otak.
Misalnya, bahan-bahan seperti perisa buatan dapat meniru rasa manis tanpa gula, dan gangguan dalam hubungan rasa-nutrisi ini seringkali menyebabkan kebiasaan makan yang tidak teratur, dan mengakibatkan penambahan berat badan. (rus)
