KABARIKA.ID, MAKASSAR – Suasana berbeda terlihat pada proses pendaftaran bakal calon rektor Universitas Hasanuddin (UNHAS) untuk periode 2026-2030 beberapa waktu lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu momen yang menarik perhatian adalah ketika Prof. Muhammad Iqbal Djawad, hadir seorang diri untuk mendaftar, tanpa dikawal rombongan atau pendukung.

Kehadirannya yang sederhana namun penuh percaya diri langsung mencuri perhatian dan mengirimkan pesan kuat tentang gaya kepemimpinan yang dibawanya.

Sosok yang kini menjabat sebagai Kepala Pusat Kajian ASEAN LPPM UNHAS ini datang dengan visi yang jelas dan terstruktur.

Dalam dokumen visi misinya, Prof. Iqbal menekankan pentingnya “menetapkan nilai baru yang menginspirasi” dan “membangun kepemimpinan visioner, transformatif, dan inklusif” bagi UNHAS.

Visi yang diusung Prof. Iqbal tidak hanya berfilosofi, tetapi juga dilengkapi dengan rencana aksi yang konkret, di antaranya:
* Transformasi sistem internal melalui implementasi sistem manajemen yang efisien dan terintegrasi untuk mempermudah administrasi.
* Pengembangan budaya inovasi dengan mendorong penelitian dan pengembangan.
* Peningkatan kualitas dosen melalui program pelatihan dan pengembangan yang berkala dan terstruktur.
* Penguatan peran mahasiswa dengan memberikan ruang kreativitas yang lebih luas.
* Peningkatan kolaborasi eksternal untuk menyelaraskan program akademik dengan kebutuhan pasar.

Kedatangan Prof. Iqbal tanpa rombongan diinterpretasikan banyak pengamat kampus sebagai sebuah pernyataan sikap. Hal ini sejalan dengan poin dalam visinya yang menekankan efisiensi, kesederhanaan, dan fokus pada substansi daripada bentuk.

Prof. Iqbal pun harus bersaing dengan lima kandidat kuat lainnya, termasuk Rektor petahana Prof. Jamaluddin Jompa dan rival lama petahana, Prof. Budu.

Namun, pendekatannya yang membawa narasi “nilai baru” dan “transformasi sistem” dianggap dapat menjadi alternatif segar bagi senator dan MWA yang menginginkan perubahan tata kelola di UNHAS.

Dengan visi yang mengedepankan inovasi, efisiensi, dan pengembangan sumber daya manusia, Prof. Iqbal berusaha menawarkan sebuah jalan baru bagi UNHAS.

Keberhasilannya melaju ke tahap selanjutnya akan diuji dalam pemungutan suara di Senat Akademik, dimana 94 senator akan menentukan tiga nama terbaik yang layak maju ke penentuan akhir oleh Majelis Wali Amanat (MWA). (*)