Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya baru saja mengunjungi Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Beberapa hari berkesempatan bersama dan berdialog dengan petani. Sepanjang perjalanan, mata saya tidak hanya dimanjakan oleh hamparan kebun jagung yang membentang luas, tetapi juga oleh rimbunnya pohon-pohon sukun yang tumbuh subur di hampir setiap sudut perkampungan. Di tepi jalan, di halaman rumah warga, hingga di kebun-kebun rakyat, pohon-pohon itu berdiri tenang seolah menjadi penanda lanskap kehidupan masyarakat Bone.
Di lereng-lereng hijau Bone Barat, angin tidak hanya menggoyangkan dedaunan sukun. Ia juga menggerakkan harapan. Harapan tentang sebuah masa depan ketika pangan tidak lagi sekadar dipanen, tetapi juga dimaknai; ketika pohon tidak hanya menghasilkan buah, tetapi juga melahirkan kesejahteraan, ilmu pengetahuan, dan peradaban.
Masyarakat Bone menyebutnya Bakara. Nama yang menyimpan sejarah panjang hubungan manusia dengan alam. Di balik kulit hijaunya yang kasar dan daging buahnya yang pulen, tersimpan kisah tentang ketahanan pangan, kearifan lokal, dan peluang ekonomi yang selama ini belum sepenuhnya dibaca sebagai kekuatan strategis bangsa.
Kabupaten Bone bukan sekadar penghasil sukun. Daerah ini pernah menyumbang lebih dari seperempat produksi sukun nasional. Kecamatan Amali, Bengo, Ulaweng, hingga kawasan Bone Barat lainnya tumbuh menjadi bentang kehidupan tempat sukun berkembang bersama budaya masyarakat. Di sini, Bakara Peppe dan Sari Manis Bakara bukan sekadar makanan tradisional, melainkan identitas kuliner yang lahir dari kedekatan manusia dengan tanahnya.
Namun, sesungguhnya masa depan Bakara tidak berhenti di dapur.
Ia dapat menjelma menjadi simbol transformasi ekonomi pedesaan. Tepung sukun bebas gluten membuka peluang bagi industri pangan sehat. Keripik premium, roti, brownies, hingga produk beku bernilai tambah mampu mengangkat harga jual berkali-kali lipat dibandingkan menjual buah segar. Nilai ekonomi tidak lagi berhenti di kebun, tetapi bergerak menuju industri kreatif, UMKM, hingga pasar digital.
Inilah hakikat hilirisasi pertanian. Kekayaan alam memperoleh makna baru ketika ilmu pengetahuan, inovasi, dan kewirausahaan berjalan beriringan.
Bone telah menanam fondasi itu. Sentra pembibitan di Bengo melahirkan varietas unggul seperti Sukun Padaidi yang rindang dan Sukun Toddopuli yang menjulang tinggi. Keduanya bukan hanya plasma nutfah yang patut dijaga, melainkan juga laboratorium hidup bagi generasi muda untuk belajar tentang genetika tanaman, konservasi, dan teknologi budidaya.
Di sinilah agrowisata menemukan relevansinya.
Bayangkan sebuah perjalanan yang mengajak wisatawan menyusuri sentra pembibitan, belajar teknik perbanyakan tanaman, menikmati hamparan hijau Bone Barat, mencicipi kuliner Bakara Peppe yang hangat, lalu melanjutkan perjalanan menuju hutan pinus dan air terjun. Wisata tidak lagi sekadar memotret pemandangan, tetapi mengalami pengetahuan. Alam menjadi ruang belajar, petani menjadi guru, dan desa menjadi universitas kehidupan.
Sayangnya, kita masih terlalu sering memandang sukun sebagai buah musiman. Kita belum sepenuhnya melihatnya sebagai komoditas strategis. Padahal, di tengah ancaman perubahan iklim, krisis pangan global, dan ketergantungan pada gandum impor, sukun menghadirkan alternatif pangan lokal yang adaptif, bergizi, dan bernilai ekonomi tinggi.
Pohon sukun sesungguhnya mengajarkan filsafat kehidupan. Ia tidak menuntut tanah terbaik untuk tumbuh. Ia memberi buah berulang kali tanpa banyak meminta. Ia menghadirkan keteduhan sebelum menghadirkan hasil. Betapa banyak manusia yang justru lupa belajar dari pohon seperti ini.
Karena itu, pembangunan pertanian hari ini tidak cukup hanya berbicara tentang produksi. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem nilai: petani yang sejahtera, industri yang tumbuh, wisata yang berkembang, budaya yang lestari, dan generasi muda yang bangga terhadap pangan lokalnya sendiri.
Bakara adalah bukti bahwa peradaban besar selalu berawal dari hal-hal yang tampak sederhana. Dari sebutir benih yang ditanam dengan keyakinan. Dari pohon yang dirawat dengan kesabaran. Dari desa yang percaya bahwa masa depan tidak selalu harus datang dari luar, tetapi dapat tumbuh dari akar-akar yang telah lama menghunjam di tanah sendiri.
Mungkin suatu hari nanti, ketika orang menyebut Bone, yang terbayang bukan hanya sejarah kerajaan dan kebudayaannya, melainkan juga sebuah kabupaten yang berhasil mengangkat sukun menjadi ikon pangan, pusat inovasi, destinasi agrowisata, sekaligus inspirasi pembangunan Indonesia dari desa.
Sebab, sebuah bangsa akan benar-benar berdaulat apabila mampu menghormati pohon-pohon yang selama ini diam-diam telah menghidupinya. (*)
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.
