Oleh: Munawir Kamaluddin

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap hari kita bekerja keras mengumpulkan harta. Kita berkata, “Ini milikku… ini hasil jerih payahku.” Namun, Rasulullah SAW. justru mengoreksi cara pandang itu dengan sebuah sabda yang sangat menggugah.

Beliau bersabda:
يَقُولُ الْعَبْدُ: مَالِي مَالِي، وَإِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ: مَا أَكَلَ فَأَفْنَى، أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى، أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى، وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

“Manusia berkata, ‘Hartaku… hartaku.’ Padahal, harta yang benar-benar menjadi miliknya hanyalah tiga: yang ia makan hingga habis, yang ia pakai hingga usang, dan yang ia sedekahkan sehingga menjadi simpanan baginya. Adapun selain itu, akan ia tinggalkan untuk orang lain.” (HR. Muslim)

Betapa sering kita menghabiskan umur untuk mengumpulkan sesuatu yang pada akhirnya bukan menjadi milik kita. Rumah yang kita bangun akan dihuni orang lain. Kendaraan yang kita banggakan akan berpindah tangan. Rekening yang kita kumpulkan akan diwariskan. Bahkan tubuh yang kita rawat pun suatu hari akan kembali menjadi tanah.

Yang benar-benar menjadi milik kita hanyalah apa yang telah memberi manfaat, dan terutama apa yang telah kita ikhlaskan di jalan Allah.

Maka, jangan ukur kekayaan dari seberapa banyak yang berhasil disimpan, tetapi dari seberapa banyak yang telah menjadi bekal menuju kehidupan yang kekal.

Sebab harta yang disimpan akan ditinggalkan, sedangkan harta yang disedekahkan akan menunggu kita di hadapan Allah.

Renungkanlah sejenak. Jika malam ini Allah memanggil kita pulang, sebenarnya berapa banyak harta yang benar-benar masih menjadi milik kita?

#Wallahu A’lam Bishawab🙏