Oleh: Munawir Kamaluddin
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sebuah kota kecil hiduplah dua orang yang bertetangga.
Yang pertama adalah seorang saudagar kaya raya. Rumahnya megah, hartanya melimpah, tetapi ia hampir tidak pernah terlihat bersedekah. Ia jarang menghadiri acara sosial, tidak pernah memamerkan bantuannya, bahkan hidupnya tampak sederhana. Akibatnya, masyarakat menilainya sebagai orang yang bakhil dan kikir.
Di samping rumahnya tinggal seorang penjual daging sederhana. Setiap hari, setelah selesai berjualan, ia membagikan daging kepada fakir miskin, anak-anak yatim, dan para janda. Semua orang menyaksikannya. Namanya harum di tengah masyarakat. Ia dipuji sebagai sosok yang dermawan dan berhati mulia.
Tahun demi tahun berlalu. Penjual daging itu semakin dicintai, sementara saudagar kaya semakin dicibir.
Hingga suatu hari, saudagar kaya itu meninggal dunia.
Anehnya, sejak hari itu penjual daging tidak lagi membagikan daging kepada masyarakat. Orang-orang bertanya-tanya.
Akhirnya, dengan mata berkaca-kaca, penjual daging itu berkata,
“Selama ini bukan saya yang bersedekah. Setiap pagi, almarhum saudagar itu datang diam-diam membeli daging dalam jumlah besar dari saya. Beliau meminta agar saya membagikannya kepada orang-orang miskin, tetapi dengan satu syarat: jangan pernah menyebut namanya kepada siapa pun. Beliau berkata, ‘Aku ingin Allah saja yang mengetahui amal ini.’ Hari ini beliau telah tiada. Tidak ada lagi orang yang membeli daging sebanyak itu. Karena itulah pembagian daging pun berhenti.”
Mendengar pengakuan itu, masyarakat terdiam. Mereka menundukkan kepala karena malu. Selama bertahun-tahun mereka telah menuduh seseorang sebagai orang bakhil, padahal dialah yang paling banyak memberi. Sebaliknya, orang yang mereka puji ternyata hanyalah perantara dari tangan seorang dermawan yang ikhlas.
Sejak saat itu mereka menyadari bahwa mata manusia hanya mampu melihat apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.
Pelajaran yang dapat dipetik:
Jangan tergesa-gesa menilai seseorang dari penampilan lahiriahnya. Tidak semua kebaikan dipertontonkan, sebagaimana tidak semua keburukan tampak di permukaan. Ada orang yang sengaja menyembunyikan amalnya agar terhindar dari riya’ dan hanya mengharap ridha Allah.
Allah SWT berfirman:
إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik. Tetapi jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 271)
Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa salah satu golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah:
رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
“Seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Maka, berhati-hatilah dalam menilai manusia. Bisa jadi orang yang paling sering dipuji belum tentu paling mulia di sisi Allah, dan orang yang paling banyak dicela justru memiliki amal yang hanya diketahui oleh langit.
Sebab yang terlihat belum tentu seluruh kebenaran, dan yang tersembunyi belum tentu tidak bernilai. Allah tidak menilai manusia dari pujian manusia, tetapi dari keikhlasan hatinya.
#Wallahu A’lam Bishawab🙏*MK*
