KABARIKA.ID, MAKASSAR — Studi terbaru yang dilakukan oleh World Weather Attribution (WWA) menunjukkan terjadinya pemanasan laut akibat krisis iklim, memicu kemunculan langka siklon tropis di daerah khatulistiwa. Sedangkan deforestasi memperbesar kerentanan di wilayah bencana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemanasan laut dan curah hujan ekstrem yang dipicu perubahan iklim, sebagaimana dilansir Deutsche Welle, disebut menjadi faktor utama di balik banjir dan longsor besar yang menewaskan lebih dari 1.600 orang di Asia dalam beberapa pekan terakhir.

Dua badai tropis, Senyar dan Ditwah, menerjang Sri Lanka, Indonesia, Malaysia dan Thailand. Sejauh ini, Sri Lanka mencatat lebih dari 600 korban jiwa, sementara Indonesia mendekati 1.000 korban.

Menurut data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), kerusakan akibat banjir bandang di Aceh mencakup 204 jembatan, 75 sekolah, 99 kantor, 48 rumah ibadah, dan 5.200 rumah.

Di Sumatra Utara, 27 jembatan, 18 rumah ibadah, satu fasilitas kesehatan, serta 2.400 rumah rusak.

Di Sumatra Barat, kerusakan meliputi 64 jembatan, 65 rumah ibadah, 8 fasilitas kesehatan, satu kantor, 84 sekolah, dan 2.800 rumah.

Kayu gelondongan yang terseret arus memicu sorotan terhadap kerusakan hutan di hulu, dari konversi lahan hingga dugaan pembalakan liar. Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace, Arie Rompi, menilai hampir semua Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sumatra saat ini kritis dengan tutupan hutan alam kurang dari 25 persen, jauh di bahwa batas ideal 30 persen sesuai UU Kehutanan sebelum dihapus Omnibus Law. (Foto: DW)

Analisis cepat yang dilakukan kelompok ilmuwan internasional WWA menunjukkan suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian utara sekitar 0,2 derajat Celsius lebih hangat dibanding rata-rata tiga dekade terakhir.

Peneliti memperkirakan bahwa tanpa pemanasan global suhu laut seharusnya sekitar 1 derajat Celsius lebih rendah.

Laut yang lebih hangat menyuplai panas dan uap air bagi badai sehingga memperkuat intensitas hujan.

WWA juga menemukan peningkatan hujan ekstrem yang cukup besar dalam beberapa dekade terakhir.

Di kawasan Selat Malaka antara Malaysia dan Indonesia, curah hujan ekstrem diperkirakan meningkat 9 hingga 50 persen akibat kenaikan suhu global.

Di Sri Lanka, peningkatannya lebih kuat, yaitu sekitar 28 hingga 160 persen.

Peneliti Mariam Zachariah dari Imperial College London mengatakan, perubahan iklim setidaknya menjadi salah satu pendorong meningkatnya hujan ekstrem yang diamati.

Tentara Sri Lanka melintas dengan truk militer di tengah banjir untuk menyelamatkan warga dari daerah terdampak, dan membawa mereka ke tempat pengungsian di Kolombo. (Foto: DW)

Ketika Alam Bergerak di Luar Pola Normal

Kombinasi faktor lain seperti La Niña, Indian Ocean Dipole, deforestasi dan geografi alamiah yang mengarahkan limpasan air ke dataran banjir, membuat dampak badai semakin besar.

Kedua badai tropis ini juga bertepatan dengan musim monsun yang memang membawa hujan, namun skala bencananya tidak biasa.

Peneliti iklim Sarah Kew dari Royal Netherlands Meteorological Institute mengatakan, hujan monsun adalah hal normal di wilayah ini, namun yang tidak normal adalah meningkatnya intensitas badai dan dampaknya terhadap jutaan orang serta ratusan korban jiwa.

Salah satu peristiwa yang paling diperhatikan adalah terbentuknya siklon Senyar di Selat Malaka, sesuatu yang sangat langka.

Siklon di khatulistiwa sangat langka karena lemahnya Gaya Coriolis atau gaya putar bumi di ekuator.

Energi tersebut diperlukan untuk memicu pusaran badai yang kuat.

NASA mencatat bahwa ini baru kejadian kedua siklon terbentuk di wilayah sempit tersebut. Kondisi laut yang lebih hangat dinilai menjadi faktor pendorongnya.

Di Sri Lanka, warga merasakan sendiri perubahan pola hujan. Shanmugavadivu Arunachalam, guru berusia 59 tahun dari Hatton, mengatakan, “Hujan memang sering turun di sini, tapi tidak pernah seperti ini. Biasanya hujan berhenti sekitar September, tetapi tahun ini semua wilayah terdampak dan daerah kami yang paling parah”.

Kerentanan Wilayah Perbesar Jumlah Korban

WWA menekankan bahwa faktor sosial seperti urbanisasi cepat, kepadatan penduduk dan infrastruktur yang berdiri di dataran rendah membuat banyak komunitas berada langsung di jalur risiko.

Maja Vahlberg dari Red Cross Red Crescent Climate Centre mengatakan, korban dari dua siklon ini sangat besar dan kelompok rentan menanggung pemulihan yang terpanjang.

Foto udara menunjukkan banjir meluas di Kota Tuguegarao, Filipina utara, pada 10 November 2025 setelah Super Topan Fung-wong membawa hujan lebat dan menyebabkan jutaan warga terdampak. (Foto: DW)

Pakar kesehatan planet dari Malaysia, Jemilah Mahmood, menyebut pemanasan global sebagai penguat bagi rangkaian bencana cuaca di Asia tahun ini.

Ia mengatakan bahwa selama puluhan tahun, pembangunan ekonomi lebih diprioritaskan dibanding stabilitas iklim sehingga menciptakan “utang lingkungan” yang kini berubah menjadi krisis.

WWA menjelaskan bahwa mereka menggunakan metodologi yang ditinjau sejawat untuk mengetahui keterkaitan iklim dan cuaca ekstrem.

Namun, pada studi ini para ilmuwan tidak bisa mengukur seberapa besar kontribusi perubahan iklim secara presisi karena keterbatasan model iklim untuk wilayah kepulauan, seperti Indonesia dan Sri Lanka.

Meski begitu, seluruh data menunjukkan arah yang sama, yaitu meningkatnya intensitas hujan ekstrem di wilayah tersebut.

Dengan hujan yang jauh lebih lebat, laut yang semakin hangat, dan kerentanan sosial-ekologis yang tinggi, para peneliti melihat bencana yang terjadi di Asia tahun ini sebagai peringatan bahwa risiko banjir dan longsor di kawasan akan terus meningkat. (DW/rs)