Oleh: ๐๐ฎ๐ ๐๐๐ฌ๐ฆ๐๐ง
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tepat pada hari ini, Senin, 22 Desember 2025, Gedung 2 ๐๐ ๐ ๐๐ menjadi saksi berkumpulnya para ๐ ๐๐ฏ๐ฎ๐น๐น๐ถ๐ด๐ต ๐๐ ๐ ๐๐ dan pengurus masjid dalam balutan Silaturahim Lembaga Dakwah ๐๐ ๐ ๐๐ (LADIM). Sebagai bagian dari helatan khidmat tersebut.
Tulisan ini hadir mengiringi langkah para penjaga iman yang berkumpul untuk pembekalan sekaligus menerima amanah jadwal Jumat 2026.
Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya menjaga nyala api di tengah deru Kota Anging Mammiri yang dipenuhi lautan kendaraan tanpa jeda. Di sanalah berdiri ๐๐ ๐ ๐๐ โsebuah ikhtiar dakwah yang memercayakan cahaya kepada para ๐ ๐๐ฏ๐ฎ๐น๐น๐ถ๐ด๐ต, agar kegelapan keraguan umat tidak kian pekat melahap nurani.
Sebab bagi kami, ๐๐ ๐ ๐๐ bukan sekadar lembaga pendidikan Islam. Ia adalah rahim bagi nilai-nilai langit, sebuah ruang pengabdian tempat para Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ ditempa menjadi ๐ฑ๐ฆ๐ด๐ข๐ธ๐ข๐ต ๐ด๐บ๐ช๐ข๐ณ.
Ia terbang rendah menyapa relung-relung Kota Daeng, lalu kepak sayap dakwahnya melampaui batas semenanjung, menghamparkan risalah ke penjuru negeri; dari Maros yang teduh, Pangkep yang kokoh, hingga Takalar yang tenang. Bahkan menghamparkan risalah kedamaian ke seluruh penjuru negeri termasuk Papua.
Suara ๐ ๐๐ฏ๐ฎ๐น๐น๐ถ๐ด๐ต ๐๐ ๐ ๐๐ bergema di mimbar-mimbar masjid; menghidupkan Jumat sepanjang lima puluh dua kali dalam setahun, menghangatkan Ramadan Karim, serta menyemarakkan hari-hari besar Islam dengan untaian hikmah.
Namun, suara Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ tak pernah meledak angkuh atau berdagang retorika kosong. Ia mengalir tenang, bagai sejuknya air wudhuโtidak seperti bunyi sirene ambulans RS Wahidin yang ๐๐ข๐ฑ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ถโ-๐ต๐ข๐ถโโia datang menyentuh hati yang rapuh dan bimbang dengan kelembutan nasihat agama.
Sebab, Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ menyampaikan risalah bukan karena dahaga akan pujian makhluk. Mereka sadar sepenuhnya bahwa tiap jiwa yang disapa adalah amanah berat, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Mahkamah Ar-Rahman.
Bagi Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ , jamaah masjid bukanlah sekadar angka di atas sajadah, melainkan saudara seiman yang sedang bersama-sama meniti lintasan keinsyafan.
๐๐ ๐ ๐๐ menegakkan fondasi suci untuk disuarakan oleh setiap Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ :
โ๐ฝ๐๐ง๐จ๐๐ฉ๐ช ๐๐๐ก๐๐ข ๐ผ๐ ๐๐๐๐, ๐๐ค๐ก๐๐ง๐๐ฃ๐จ๐ ๐๐๐ก๐๐ข ๐๐ช๐ง๐ช’ ๐๐๐ฃ ๐๐๐๐ก๐๐๐๐ฎ๐๐โ
Sebuah seruan yang dirawat dengan hati oleh Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ โmerangkul perbedaan tanpa meniadakan keragaman, menyatukan hati seperti benang-benang yang dipintal menjadi tali yang kokoh. Nilai itu turun dari wacana menjadi laku: dari slogan ke mimbar, dari mimbar ke batin, hingga meresap ke dalam saf-saf masjid. Di sanalah, di antara pundak yang rapat, Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ dan jamaah berjumpaโmenarik satu garis lurus menuju Ridha-Nya.
Namun, di balik jubah dan sorban Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ yang tampak anggun, tersimpan kisah suka dan duka yang jarang terbaca oleh mata dunia.
Sukanya, ketika Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ tiba di haribaan dakwah, ia disambut senyum tulus jamaah dan kehangatan panitia masjidโkadang disertai suguhan secangkir kopi dan rokoโ-rokoโ unti sebagai pengobat lelah. Saat itu, penatnya perjalanan luruh menjadi ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ฑ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฅ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ฏ๐จ๐ฆ.
Dukanya hadir kala masjid masih sunyi sepi. Saat Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ tiba lebih awal namun panitia belum menampakkan batang hidung; radio masjid dan pendingin udara mati suri seolah ikut ber-๐ถ๐ป๐ญ๐ข๐ฉ. Di sana ia duduk sendiri, mengutak-atik handphone, menata ulang konsep hikmah yang sebentar lagi akan diulas.
Hingga saat waktu masuk, suasana mendadak berubah. Dua sosok berjas rapi dengan sorban terlilit anggun masuk bersamaan. Seketika itu hati Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ bergetar: โ๐๐ฅ๐ถ๐ฉ, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ-๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ด๐ซ๐ช๐ฅโ. ๐๐ข๐ต๐ฆ๐ฏ๐ช’!
Keduanya menunaikan shalat tahiyatul masjid dengan khusyukโtenang, mantap, tanpa cela. ๐ ๐๐ฏ๐ฎ๐น๐น๐ถ๐ด๐ต ๐๐ ๐ ๐๐ menelan ludah; rasa percaya dirinya turun satu takaran, seperti kopi yang kebanyakan air.
Usai salam, dengan dada yang ๐๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ข’-๐ฅ๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ข’ berjoget pelan, Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ memberanikan diri menyapa:.
โ๐๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข?โ
Sosok di kiri dengan songkok sufi kerucut menjawab selembut kapas ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฆ๐ถ๐ฑ: โ๐๐ข๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ด๐ต๐ข๐ป ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ธ๐ข๐ญ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช.โ Sosok di kanan, sambil memutar tasbih dengan cincin titanium jumbo yang sengaja digerak-gerakkan, hampir saja mataku โ๐ซ๐ช๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จโ melihatnya, lalu menyahut: โ๐๐ข๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ช๐ฎ๐ข๐ฎ, ๐๐ด๐ต๐ข๐ฅ๐ป.โ
Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ terdiam. Otaknya berputar cepat: ๐๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ข๐ด๐ซ๐ช๐ฅ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ, ๐ซ๐ข๐ฅ๐ธ๐ข๐ญ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ, ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ?
Belum sempat simpulan lahir, panitia berbisik serius: โโ๐๐ข๐บ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐๐ข๐ฌ ๐๐ด๐ต๐ข๐ป ๐ฌ๐ฆ ๐ฅ๐ข๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ, ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐บ๐ข ๐ค๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ช. ๐๐ข๐ช๐ฌ ๐๐ข๐ฌ๐ชโโ๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ช๐ข๐ต๐ถ๐ณ ๐๐ด๐ต๐ข๐ป.โ Namun, dalam hatinya, โ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ณ๐ฐ’๐ฌ๐ช’ ๐๐บ๐ฆ.โ
Di situlah Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ mengangguk pasrah. Antara lega, geli, dan sadar: bahwa dalam semesta dakwah, takdir kadang datang lebih cepat dari jadwal, dan niat baik seringkali mendahului koordinasi.
Puncaknya, selepas tausiyah yang menghabiskan sisa lengkingan suara di mimbar, seorang bendahara sepuh dengan aroma minyak kayu putih yang khas menyodorkan amplop dengan penuh takzim. Namun, saat dibuka amplopnya di rumah makan, isinya bukanlah โpenawar dahagaโ, melainkan daftar susunan pengurus masjid. ๐๐ฆ๐ฆ ๐๐ฅ๐ฐโ๐ฆโฆ ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ฆ๐ต๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ ๐๐ช๐ฉ ๐๐ฏ๐จ๐จ๐ฐ๐ต๐ข ๐.
Saudaraku,
Di zaman yang kian bising ini, nasihat agama adalah keadaan darurat. Dan Muballigh ๐๐ ๐ ๐๐ berdiri tegak di garis depan kegentingan itu. Sebab jika iman telah padam, akhlak telah rapuh, dan nurani telah mati. ๐๐ข๐ฃ๐ฆ’๐ฌ๐ฐ!
๐ฆ๐ฒ๐น๐ฎ๐บ๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ถ๐น๐ฎ๐๐๐ฟ๐ฟ๐ฎ๐ต๐ถ๐บ ๐๐ถ ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐ต; ๐ฆ๐ฒ๐บ๐ผ๐ด๐ฎ ๐ฆ๐ฒ๐๐ถ๐ฎ๐ฝ ๐ ๐ถ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ฟ ๐๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐ต ๐ ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐น๐ฎ ๐ฆ๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ ๐๐ฎ๐ต๐ฎ๐๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐ป๐๐๐ป ๐จ๐บ๐ฎ๐.
๐๐ ๐ ๐๐ , ๐ฎ๐ฎ ๐๐๐ฌ๐๐ฆ๐๐๐ซ ๐๐๐๐
