KABARIKA.ID, MAKASSAR — Vape atau vaping nikotin kemungkinan besar menyebabkan kanker paru-paru dan mulut. Pernyataan tersebut merupakan kesimpulan atas tinjauan komprehensif dari 100 lebih hasil studi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut analisis tersebut, studi pada manusia dan hewan serta eksperimen sel yang meneliti efek bahan kimia yang ditemukan dalam cairan vape, semuanya menunjukkan karsinogenisitas.
Studi-studi tersebut yang diterbitkan sejak 2017, semuanya mencatat kekhawatiran yang meningkat.
Para peneliti mengatakan, kita belum memiliki data jangka panjang pada tingkat populasi, sehingga risiko pastinya belum dapat dikuantifikasi.
Meski demikian, tanda-tanda awal cukup kuat sehingga para ilmuwan memperingatkan untuk tidak mengulangi kesalahan yang dibuat dengan rokok.
“Meskipun merokok pernah diberi kelonggaran, namun hal yang sama seharusnya tidak diberikan kepada vaping mengingat kuatnya data karsinogenisitas yang relevan,” tulis Freddy Sitas dan Bernard Stewart dari Universitas New South Wales di Australia, yang merupakan rekan penulis hasil studi.
Vaping muncul pada awal tahun 2000-an, dipromosikan sebagai sistem pengiriman nikotin yang lebih aman dan tidak berbau dibandingkan metode menghirup asap daun tembakau yang terbakar.
Sebaliknya, sebuah perangkat memanaskan dan menguapkan cairan yang mengandung nikotin, yang kemudian dihirup oleh pengguna.

Bahaya Kesehatan di Balik Popularitas Vape
Popularitas vaping tumbuh pesat, dengan sedikit informasi tentang kemungkinan pengaruh negatif jangka panjang yang mungkin ditimbulkan rokok elektronik tersebut.
Beberapa ahli kesehatan masyarakat memperingatkan tentang potensi bahaya vaping berdasarkan apa yang sudah diketahui tentang bahan kimia yang terkandung dalam vape.
Sejak tahun 1964 para ilmuwan telah membuktikan hubungan sebab-akibat antara merokok dan kanker paru-paru.
Studi sering membandingkan vaping dengan merokok atau hanya menyimpulkan risiko kanker berdasarkan kecenderungan pengguna vape yang juga merokok.
Sitas, Stewart, dan rekan-rekannya ingin menilai dampak karsinogenik rokok elektrik secara mandiri.
Tim tersebut berfokus pada studi yang secara khusus meneliti rokok elektrik atau membandingkan orang yang menggunakan vape dengan mereka yang tidak menggunakannya, tidak termasuk penelitian yang meneliti pengguna ganda (yang menggunakan vape dan merokok) atau membandingkan rokok elektrik dengan merokok.
Tinjauan mereka juga meneliti studi yang diterbitkan sejak tahun 2017 untuk menghindari ketergantungan berlebihan pada penelitian sebelumnya yang kurang lengkap.
Tiga Kelompok Utama Studi
Mereka mengategorikan studi tersebut ke dalam tiga kelompok utama. Pertama, studi pada manusia yang menunjukkan biomarker kerusakan DNA, stres oksidatif, dan peradangan.
Kedua, studi eksperimental pada tikus yang menunjukkan perkembangan tumor paru-paru sebagai akibat langsung dari paparan aerosol vape.
Ketiga, analisis laboratorium lainnya yang mengungkapkan jalur potensial di mana senyawa dalam cairan vape –termasuk karsinogen yang diketahui– menyebabkan kerusakan pada sel.
Para peneliti juga mempertimbangkan laporan kasus yang menggambarkan pengguna vape berat yang menderita kanker mulut agresif, di mana faktor risiko tradisional seperti merokok atau infeksi virus tidak ada atau terbatas, termasuk penyakit yang sangat parah pada pasien yang relatif muda.
“Sepengetahuan kami, tinjauan ini merupakan penentuan paling pasti bahwa mereka yang menggunakan vape memiliki risiko kanker yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya,” kata Stewart, yang juga seorang peneliti kanker.
Mempertimbangkan semua temuan, dari pemantauan klinis, studi hewan, dan data mekanistik, rokok elektrik kemungkinan besar menyebabkan kanker paru-paru dan kanker mulut.
Hasil studi besar ini telah dipublikasikan pada jurnal Carcinogenesis pada 30 Maret 2026. Hasilnya dapat diakses di sini.
Kekhawatiran khusus lainnya adalah bagaimana orang menggunakan vape di dunia nyata.
Vape telah lama dipromosikan sebagai alat bantu untuk berhenti merokok.
Meskipun beberapa bukti menunjukkan bahwa hal itu dapat membantu dalam jangka pendek, setidaknya lebih efektif daripada strategi penghentian merokok lainnya seperti plester nikotin, namun banyak orang tidak sepenuhnya beralih dari merokok ke vape.
Kaum muda yang tidak pernah merokok konvesnsional dan mulai menggunakan vape, juga tiga kali lebih mungkin menjadi perokok konvesnsional, menurut meta-analisis tahun 2021 dari 25 studi.
Penggunaan ganda ini, menurut beberapa bukti, mungkin jauh lebih berbahaya daripada merokok saja.
Sebuah studi tahun 2024 menemukan risiko kanker paru-paru empat kali lebih tinggi di antara individu yang menggunakan rokok elektrik dan merokok, dibandingkan dengan perokok saja.
Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengukur risiko kesehatan dari vaping, pengumpulan informasi jangka panjang akan membutuhkan waktu, terutama karena banyak kanker membutuhkan waktu puluhan tahun untuk berkembang setelah paparan awal.
Meskipun beberapa perokok mungkin mendapat manfaat dari penggunaan vape untuk mengurangi rokok tembakau, banyak anak muda mencoba vaping tanpa pernah merokok.
Temuan baru ini, menurut harapan para peneliti, akan membantu pemerintah dalam upaya memperkenalkan dan menyempurnakan peraturan.
“Laporan awal mengaitkan aktivitas merokok dengan penyakit menular, seperti tuberkulosis, diikuti penyakit kardiovaskular, stroke, dan kanker paru-paru,” kata Sitas, yang juga seorang ahli epidemiologi. (rus)
