Penulis: Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan Menteri Pertanian tentang stok beras bukan sekadar angka teknokratis, melainkan sebuah pesan kebangsaan yang meneduhkan batin publik. Pemerintah menyebut stok beras pemerintah kini mencapai 4,5 juta ton—tertinggi sepanjang sejarah—dan dengan tambahan stok sektor lain serta potensi panen berjalan, kebutuhan rakyat dipastikan aman hingga hampir setahun ke depan.
Hakikat terdalam dari jaminan ini sesungguhnya bukan hanya tentang beras yang tersimpan di gudang. Ia adalah simbol hadirnya negara dalam ruang paling dasar kehidupan rakyat. Negara yang mampu menjamin pangan adalah negara yang tidak membiarkan kecemasan tumbuh di piring rakyatnya.
Di sinilah makna ketahanan pangan menjadi sangat manusiawi.
Ia bukan semata statistik produksi, bukan sekadar tonase gudang Bulog, tetapi rasa aman seorang ibu ketika menanak nasi untuk anak-anaknya, keyakinan seorang ayah bahwa harga esok tetap terjangkau, dan kepastian bahwa desa-desa penghasil padi tetap berdenyut oleh kerja yang bermartabat.
Jaminan sebelas bulan ini juga membuktikan bahwa kerja keras panjang para petani, penyuluh, pengelola irigasi, Bulog, pemerintah daerah, hingga perancang kebijakan tidak berjalan sia-sia. Ada gotong royong besar yang tak selalu terlihat, tetapi hasilnya kini nyata. Rakyat tidak perlu panik.
Namun, justru pada saat negara telah menghadirkan rasa tenang, masyarakat dituntut menunjukkan kedewasaan moral dalam memanfaatkan anugerah negeri ini.
Sikap pertama yang paling mendasar adalah tidak boros pangan. Beras yang melimpah bukan alasan untuk lalai. Di banyak rumah, nasi yang tersisa di piring sering kali dibuang begitu saja, seolah sebutir padi tidak pernah melewati lumpur, matahari, keringat petani, dan doa panjang musim. Padahal setiap butir nasi menyimpan jejak kerja peradaban.
Karena itu, etika pangan harus dimulai dari rumah. Mengambil makanan secukupnya, mengelola sisa makanan dengan bijak, dan mengubah budaya konsumsi dari berlebih menjadi cukup.
Sikap kedua adalah menghormati pangan lokal sebagai bentuk syukur ekologis. Negeri ini dianugerahi jagung, sagu, ubi, sorgum, pisang, dan aneka sumber karbohidrat yang kaya. Ketika masyarakat mulai bijak mendiversifikasi konsumsi, tekanan terhadap beras menurun, sementara ketahanan pangan nasional justru semakin kuat.
Sikap ketiga adalah menolak kepanikan dan penimbunan. Saat negara telah memberi jaminan, masyarakat tidak perlu membalasnya dengan panic buying atau menyimpan berlebihan di tingkat rumah tangga. Ketakutan yang berlebihan justru bisa menciptakan kelangkaan semu.
Pada akhirnya, pesan terbesar dari jaminan stok beras sebelas bulan ini adalah pesan peradaban bahwa negara hadir menjaga ketersediaan, masyarakat hadir menjaga kebijaksanaan pemanfaatan.
Pangan yang cukup akan sia-sia bila perilaku konsumsi tetap boros.
Sebaliknya, stok yang terjaga akan menjadi berkah berlipat jika rakyat memakainya dengan rasa syukur dan tanggung jawab.
Sebab hakikat swasembada yang sesungguhnya bukan hanya ketika gudang penuh, tetapi ketika kesadaran kolektif bangsa tumbuh untuk menghormati setiap butir pangan sebagai anugerah Tuhan dan hasil jerih payah petani.
Di sanalah ketenangan sebelas bulan itu berubah menjadi ketahanan moral sebuah bangsa.(*)
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”
