KABARIKA.ID, MAKASSAR — Pernahkah Anda memperhatikan proses tumbuh biji tanaman yang Anda tanam di musim kemarau dan di musim hujan? Ada hal luar biasa yang terjadi saat air hujan menerpa biji tanaman yang kita tanam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penelitian baru menunjukkan bahwa benih tanaman dapat merasakan getaran yang dihasilkan tetesan hujan dan merespons dengan bangun dari keadaan dormansi untuk menyambut air.

Bagi benih padi dan benih tanaman lainnya, gemericik hujan menyebabkan mereka berkecambah sebagai ‘antisipasi’ akan datangnya hujan.

Sebaliknya, suara gemericik hujan yang menenangkan justru membuat manusia ingin meringkuk dan beristirahat.

Temuan baru ini dimotori oleh insinyur mekanik MIT, Nicholas Makris dan Cadine Navarro, yang menyodorkan bukti langsung pertama bahwa benih dan bibit dapat merasakan dan merespons suara di alam sekitar.

“Studi ini menunjukkan bahwa biji dapat merasakan suara dengan cara yang dapat membantu mereka bertahan hidup. Energi suara hujan cukup untuk mempercepat pertumbuhan biji,” jelas Makris.

Biji Tumbuhan Merespon Getaran

Tumbuhan tentu saja tidak memiliki peralatan pendengaran yang sama seperti manusia untuk benar-benar mendengar suara.

Tetapi studi ini menunjukkan bahwa biji merespons getaran yang sama yang dapat menghasilkan pengalaman suara di telinga manusia.

Dalam serangkaian percobaan, para peneliti merendam hampir 8.000 biji padi dalam bak air dangkal, dengan kedalaman sekitar 3 sentimeter (1 inci), dan memaparkan beberapa di antaranya pada tetesan air yang jatuh selama enam hari.

Gambar ilustrasi biji padi yang berkecambah sebagai respons terhadap getaran akustik yang dihasilkan tetesan hujan. (Foto: sciencealert)

Mereka memvariasikan ketinggian dan ukuran setiap tetesan yang jatuh untuk mensimulasikan badai hujan dengan intensitas yang berbeda, sambil juga mengubah posisi biji untuk menentukan bagaimana kedalaman dan jarak memengaruhi perkecambahan.

Sebuah hidrofon merekam getaran akustik yang dihasilkan oleh tetesan air, mengonfirmasi bahwa percobaan tersebut meniru getaran yang dihasilkan tetesan hujan sebenarnya yang jatuh di alam, seperti hujan deras yang terkadang mengguyur genangan air, kolam, dan lahan basah di Massachusetts.

Suara Gemuruh dan “Pengalaman” Benih

Bagi mereka yang tiba-tiba mendambakan suara badai yang menenangkan, para peneliti mengunggah suara gemuruh hujan di Massachusetts yang menenangkan genangan air, memberikan gambaran langka tentang pengalaman benih yang terendam.

“Ini memberikan makna baru pada mikromusim keempat Jepang, yang berjudul ‘Hujan yang turun membangkitkan tanah,’” kata Makris.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengamati bahwa biji yang terpapar tetesan hujan berkecambah hingga sekitar 37 persen lebih cepat, dibandingkan dengan biji yang tidak menerima perlakuan simulasi badai hujan, tetapi ditempatkan dalam kondisi yang identik.

Organel Pengindera Gravitasi

Adaptasi ini difasilitasi oleh statolit, yaitu organel pengindera gravitasi yang mengendap di bagian bawah sel tumbuhan tertentu. Hal itu memberikan arah gravitasi (gravitropisme) untuk memandu pertumbuhan akar ke bawah dan pertumbuhan tunas ke atas.

Gelombang suara yang dihasilkan tetesan hujan dapat memberikan gaya yang cukup melalui air dan mungkin tanah, untuk mengguncang statolit ini dan memicu pertumbuhan biji.

Peningkatan tertinggi dalam tingkat perkecambahan diamati pada biji yang mengalami tingkat perpindahan statolit tertinggi, karena kedekatan dengan tetesan hujan.

Hal ini menunjukkan bahwa benih yang ditanam lebih dekat ke permukaan lebih mungkin merespons, karena berada pada kedalaman optimal untuk menyerap kelembapan dan tumbuh.

Biji Tanaman Merasakan Getaran Akustik

Getaran akustik paling terasa dalam kondisi terendam. Karena air lebih padat daripada udara, maka gelombang tekanan diperkuat dan merambat lebih mudah, sehingga suara hujan terdengar jauh lebih keras di bawah air.

Sebagai perbandingan, suara hujan yang dihasilkan di genangan air dangkal berkisar ratusan Pascal, sedangkan percakapan manusia biasa pada jarak 1 meter (3,3 kaki) mungkin berkisar antara 0,005 hingga 0,05 Pascal.

“Jadi, jika Anda adalah biji yang berada dalam jarak beberapa sentimeter dari dampak tetesan hujan, tekanan suara yang akan Anda alami di dalam air atau di dalam tanah setara dengan apa yang akan Anda alami dalam jarak beberapa meter dari mesin jet di udara,” kata Makris.

Para peneliti percaya bahwa jenis biji tanaman lain bereaksi terhadap suara lingkungan dengan cara yang serupa, dan akhirnya memilih padi karena memiliki kesamaan dalam gravitropisme dengan banyak tanaman lain.

Hasil penelitian ini telah dipublikansikan dalam jurnal Scientific Reports, pada 22 April 2026. Selengkapnya dapat diakses di sini.

Padi, makanan pokok penting bagi miliaran orang, juga tumbuh di lingkungan bawah air, sehingga sangat cocok untuk pengaturan eksperimental ini. (rus)