KABARIKA.ID, JAKARTA — Tim layanan telekomunikasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) telah merampungkan uji laik operasi terhadap Satelit Nusantara Lima (N5), di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 23-24 April 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengujian mencakup kesiapan jaringan satelit, keandalan sistem transmisi, keamanan jaringan, serta kepatuhan terhadap regulasi penyelenggaraan telekomunikasi.

Kini, Satelit N5 resmi mengantongi izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit (JARTUPSAT) dan Very Small Aperture Terminal (VSAT) dari Kemkomdigi setelah dintakan lulus Uji Laik Operasi (ULO).

Perizinan ini membuka jalan bagi pengoperasian komersial satelit untuk memperkuat kapasitas konektivitas nasional, terutama di wilayah tertinggal.

“Kami siap menjalankan misi besar selanjutnya sekaligus mendukung terwujudnya program Asta Cita untuk mengakselerasi pemerataan konektivitas dan mengeliminasi kesenjangan akses internet di pelosok Nusantara,” kata Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara, Adi Rahman Adiwoso dalam siaran pers, Senin (11/5/2026) di Jakarta.

Menambah Pasokan Bandwidth Nasional

Adi mengatakan, kelulusan ULO menjadi tahap krusial sebelum layanan satelit dioperasikan secara komersial untuk masyarakat.

Dengan kapasitas mencapai 160 Gbps, Satelit N5 diproyeksikan menambah pasokan bandwidth nasional yang selama ini masih menjadi tantangan utama pemerataan akses internet di daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T).

Pelaksanaan ULO turut ditinjau jajaran pimpinan Kemkomdigi, termasuk Dirjen Ekosistem Digital, Edwin Hidayat Abdullah.

Pemerintah menilai tambahan kapasitas satelit diperlukan untuk mempercepat pemerataan konektivitas sekaligus mendukung target peningkatan kecepatan internet nasional.

“Pemerintah terus mendorong percepatan pemerataan konektivitas di seluruh Indonesia. Kelulusan ULO Satelit N5 ini membuktikan infrastruktur ini telah siap secara teknis untuk mendukung agenda besar transformasi digital nasional. Kami berharap kehadiran kapasitas sebesar 160 Gbps ini dapat segera dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat layanan publik di daerah-daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses digital,” papar Edwin.

Tahapan Pengujian Dilakukan Menyeluruh

Ketua Kelompok Kerja Layanan Telekomunikasi, Falatehan, mengatakan seluruh tahapan pengujian dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan sistem satelit dapat dioperasikan secara aman dan sesuai ketentuan regulasi.

“Proses pemeriksaan yang kami lakukan di Gateway Banjarbaru ini mencakup berbagai parameter kritikal, mulai dari keandalan transmisi hingga keamanan jaringan VSAT sesuai dengan standar dan ketentuan,” kata Edwin.

Hasilnya, lanjut Edwin, menunjukkan bahwa sistem Satelit N5 memiliki performa yang laik untuk dioperasikan secara komersial.

“Kepastian kelayakan ini sangat penting demi melindungi hak-hak pengguna jasa telekomunikasi di masa depan, agar mendapatkan layanan yang berkualitas dan andal,” tandas Edwin.

Satelit N5 merupakan satelit Very High Throughput Satellite (VHTS) berkapasitas 160 Gbps menggunakan platform Boeing 702MP dengan 101 spot beam Ka-band dan memiliki cakupan hingga wilayah ASEAN seperti Malaysia dan Filipina.

Satelit N5 dirancang untuk memperluas jangkauan layanan internet berkecepatan tinggi di seluruh Indonesia, termasuk wilayah yang belum terjangkau jaringan terestrial.

Operasional satelit ini diharapkan menjadi salah satu penopang utama penguatan infrastruktur digital nasional. (*/rus)