Membaca Kembali Kisah Habil–Qabil di Tengah Krisis Kemanusiaan Modern
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Oleh : Muliadi Saleh Esais Reflektif dan Arsitek
Jauh sebelum manusia mengenal ekonomi modern, Al-Qur’an telah memperlihatkan bahwa pangan sesungguhnya berkaitan erat dengan moral, spiritualitas, dan arah peradaban manusia.
Kisah itu bermula dari dua anak Adam: Habil dan Qabil.
Yang satu seorang penggembala ternak.
Yang satu seorang pengolah hasil bumi.
Keduanya diminta mempersembahkan hasil terbaik kepada Tuhan. Habil membawa ternak terbaiknya dengan hati yang tulus. Sementara Qabil membawa hasil pertanian yang tidak dipilih dari kualitas terbaik. Lalu persembahan Habil diterima, sedangkan Qabil tidak.
Dari sana, sejarah manusia berubah.
Iri hati tumbuh.
Amarah memuncak.
Dan darah pertama di muka bumi pun tumpah.
Betapa dalam pesan peristiwa itu.
Konflik pertama manusia ternyata bukan perebutan tahta kerajaan, bukan perang ideologi, bukan pula pertarungan teknologi. Ia lahir dari persoalan produksi pangan, kepemilikan, penerimaan, dan kualitas hati manusia saat berhadapan dengan nikmat Tuhan.
Di titik itu, Al-Qur’an seakan sedang mengingatkan bahwa pangan bukan sekadar benda mati yang dimakan tubuh. Pangan selalu membawa dimensi etika. Ia dapat menjadi sumber keberkahan, tetapi juga dapat berubah menjadi sumber keserakahan.
Dan sejarah manusia modern memperlihatkan kenyataan yang ironis: semakin maju teknologi pangan, belum tentu semakin matang kemanusiaan manusia.
Hari ini dunia mampu memproduksi makanan dalam jumlah luar biasa. Organisasi Pangan Dunia berkali-kali melaporkan bahwa produksi pangan global sebenarnya cukup untuk memberi makan miliaran manusia. Namun pada saat yang sama, jutaan orang tetap mengalami kelaparan, kekurangan gizi, bahkan kematian akibat krisis pangan.
Masalahnya ternyata bukan semata pada kurangnya makanan.
Masalah terbesar justru berada pada distribusi, ketimpangan, monopoli, dan kerakusan manusia sendiri.
Di berbagai belahan dunia, pangan telah berubah menjadi instrumen kekuasaan. Tanah dikuasai korporasi besar. Benih dipatenkan. Air menjadi komoditas ekonomi. Petani kecil sering kalah sebelum memulai pertandingan.
Sementara itu, budaya konsumsi modern menciptakan paradoks baru: sebagian manusia makan berlebihan hingga membuang makanan setiap hari, sementara sebagian lain harus bertahan hidup dari sisa-sisa yang tercecer.
Dalam bahasa sosiologi modern, ini disebut ketimpangan pangan. Namun dalam bahasa spiritual, mungkin ini adalah tanda bahwa manusia mulai kehilangan kesadaran tentang makna rezeki.
Dan jika direnungkan lebih jauh, luka itu sesungguhnya telah dimulai sejak Qabil.
Ia tidak gagal karena bertani.
Ia gagal karena hatinya dipenuhi iri dan ketidakikhlasan.
Di sinilah letak pentingnya membaca kisah Habil dan Qabil secara lebih mendalam. Al-Qur’an tidak sedang bercerita tentang dua individu semata, melainkan sedang memperlihatkan anatomi awal kerusakan peradaban manusia: ketika hasil bumi tidak lagi dikelola dengan kejujuran batin.
Ilmu pengetahuan modern kini menjelaskan bahwa pangan bukan hanya kebutuhan biologis, tetapi juga fondasi stabilitas sosial dan politik. Banyak perang besar dalam sejarah dipicu oleh perebutan sumber daya pangan dan energi. Ketika akses pangan terganggu, kemiskinan meningkat, konflik sosial membesar, bahkan migrasi manusia terjadi secara massif.
Tetapi sains saja tidak cukup.
Karena akar persoalan pangan sesungguhnya juga menyentuh wilayah moral manusia.
Kita hidup di zaman ketika manusia mampu merekayasa genetika tanaman, menciptakan kecerdasan buatan, dan mengelola rantai distribusi global. Namun kita masih kesulitan mengalahkan sifat dasar yang pernah menjatuhkan Qabil: ingin memiliki lebih banyak daripada yang dibutuhkan.
Akibatnya, bumi diperas tanpa jeda.
Hutan ditebang berlebihan demi ekspansi industri pangan.
Laut dieksploitasi tanpa batas.
Tanah kehilangan kesuburan karena kerakusan produksi.
Manusia modern tampaknya semakin pandai menaklukkan alam, tetapi perlahan kehilangan kemampuan menaklukkan dirinya sendiri.
Karena itu, Iduladha dan nilai qurban sesungguhnya memiliki relevansi sosial yang sangat besar dalam kehidupan modern.
Qurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan. Ia adalah pendidikan peradaban tentang cara mengendalikan ego kepemilikan.
Nabi Ibrahim diperintahkan mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya: Ismail. Sebuah ujian yang menunjukkan bahwa manusia tidak boleh diperbudak oleh rasa memiliki. Bahwa cinta kepada dunia harus tetap berada di bawah cinta kepada Tuhan dan kemanusiaan.
Dan ketika hewan qurban dibagikan kepada banyak orang, sesungguhnya Islam sedang membangun filosofi distribusi sosial: bahwa rezeki tidak boleh berputar pada kelompok tertentu saja.
Di sana ada nilai solidaritas.
Ada penghormatan kepada kaum lemah.
Ada pengingat bahwa pangan harus menghadirkan keadilan sosial.
Maka qurban sejatinya bukan hanya tentang daging yang dibagikan, melainkan tentang kesediaan manusia memotong keserakahan di dalam dirinya sendiri.
Barangkali itulah sebabnya kisah Habil dan Qabil tetap relevan hingga hari ini.
Ia bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah cermin yang terus memantulkan wajah manusia modern.
Setiap kali pangan diperebutkan tanpa nurani, Qabil sedang hidup di tengah kita.
Setiap kali hasil bumi dikuasai dengan rakus, Qabil sedang berbicara melalui zaman.
Dan setiap kali manusia rela berbagi rezeki dengan tulus, semangat Habil sedang dihidupkan kembali.
Pada akhirnya, masa depan pangan dunia tidak hanya ditentukan oleh teknologi pertanian atau kecanggihan industri. Ia juga ditentukan oleh kualitas hati manusia yang mengelolanya.
Sebab bumi ini sesungguhnya cukup untuk kebutuhan manusia, tetapi mungkin tidak akan pernah cukup bagi keserakahan manusia.
Dan sejak darah Habil jatuh ke tanah untuk pertama kalinya, sejarah tampaknya terus mengingatkan kita tentang satu hal penting:
bahwa peradaban bisa runtuh bukan karena kekurangan pangan, melainkan karena kehilangan kemanusiaan dalam mengelola pangan itu sendiri.
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”
