KABARIKA.ID — PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bersama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT Pupuk Indonesia (Persero) memperkuat langkah dekarbonisasi industri nasional melalui pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kolaborasi lintas sektor tersebut diproyeksikan menjadi fondasi penting dalam pengembangan amonia rendah karbon sekaligus mempercepat target transisi energi Indonesia menuju net zero emission.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Joint Study Agreement (JSA) antara PT Pertamina (Persero), PHE, PGN, dan Pupuk Indonesia di sela gelaran Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex).

Melalui kerja sama ini, emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari fasilitas produksi amonia milik Pupuk Indonesia dan afiliasinya akan ditangkap untuk kemudian diangkut dan diinjeksikan secara aman ke dalam formasi geologi di wilayah kerja Pertamina yang memiliki potensi sebagai lokasi penyimpanan karbon permanen atau carbon sink.

Kolaborasi tersebut juga menjadi upaya mengintegrasikan pengurangan emisi sektor industri pupuk dengan kemampuan penyimpanan karbon yang dimiliki sektor hulu minyak dan gas bumi.

Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro, mengatakan kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam membangun ekosistem CCS yang terintegrasi di Indonesia.

“Kerja sama lintas sektor ini menunjukkan komitmen bersama dalam menghadirkan solusi dekarbonisasi yang nyata untuk industri strategis nasional. Sinergi ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan CCS yang lebih luas sekaligus mendukung target net zero emission Indonesia,” ujar Dannif kepada wartawan Sabtu (30/5/2026).

Dalam studi bersama tersebut, para pihak akan mengeksplorasi seluruh rantai nilai CCS secara komprehensif. Kajian meliputi aspek teknis penangkapan emisi karbon di fasilitas industri, sistem transportasi karbon yang efisien, hingga proses penginjeksian karbon ke reservoir bawah permukaan.

Selain itu, studi juga akan mengkaji pengembangan fasilitas produksi amonia rendah karbon pada aset-aset eksisting yang dioperasikan Pupuk Indonesia dan afiliasinya.

Berdasarkan rencana awal, kelebihan volume CO2 dari fasilitas industri akan dipelajari untuk disalurkan ke sejumlah lokasi penyimpanan potensial di Jawa Barat dan Jawa Timur. Kedua wilayah tersebut dinilai strategis karena dekat dengan pusat industri serta memiliki struktur geologi yang mendukung implementasi CCS.

Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti, menilai pengembangan CCS untuk amonia rendah karbon menjadi bagian penting dalam strategi penguatan implementasi teknologi rendah karbon di sektor industri nasional.

“Studi bersama ini merupakan wujud sinergi antarentitas dalam Pertamina Group dan mitra strategis nasional untuk mengembangkan rantai nilai karbon yang terintegrasi. Melalui pemanfaatan teknologi CCS, kami berharap dapat mendukung pengembangan produk rendah karbon seperti amonia, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional dalam menghadapi transisi energi global,” kata Hana.

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina Hana Timoti, Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE Dannif Utojo Danusaputro, PTH Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Hery Murahmanta, serta Direktur Teknik dan Pengembangan Bisnis Pupuk Indonesia Jamsaton Nababan.

Kesepakatan tersebut turut disaksikan VP Business Support SKK Migas Firera, Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza, dan Direktur Utama PHE Awang Lazuardi.

Melalui kemitraan strategis ini, PHE bersama para mitra optimistis implementasi dan komersialisasi teknologi CCS di Indonesia dapat dipercepat. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat portofolio bisnis rendah karbon nasional sekaligus mendorong posisi Indonesia sebagai salah satu pemain regional dalam penyediaan solusi energi berkelanjutan di Asia Tenggara.

Sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan, PHE menegaskan seluruh operasional dan pengembangan bisnis hulu migas dijalankan berdasarkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Perusahaan juga menerapkan kebijakan Zero Tolerance on Bribery melalui Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah tersertifikasi ISO 37001:2016. (*)