Oleh : Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kehidupan tidak pernah tumbuh dalam sekejap. Sebatang padi memerlukan waktu. Sebuah pohon membutuhkan musim. Demikian pula sebuah institusi pendidikan. Ia tidak lahir sebagai pohon rindang, melainkan berawal dari benih yang ditanam dengan keyakinan, dirawat dengan kesabaran, dan diuji oleh zaman.

Di Jalan Perintis Kemerdekaan Km. 10 Tamalanrea, Makassar, berdiri salah satu rumah ilmu yang telah lama menanam benih peradaban pertanian Indonesia. Di sanalah Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin bertumbuh, menorehkan perjalanan panjang yang bukan sekadar kisah administrasi akademik, melainkan kisah tentang bagaimana ilmu pengetahuan dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan bangsa.

Sejarahnya dimulai pada tahun 1962 ketika Fakultas Pertanian menjadi fakultas ketujuh di Universitas Hasanuddin. Saat  Indonesia menjadikan pertanian sebagai tulang punggung kehidupan nasional. Di tengah semangat membangun negeri, lahirlah berbagai jurusan yang diarahkan untuk memperkuat fondasi pembangunan pertanian, termasuk Perusahaan Pertanian dan Penyuluhan Pertanian yang kelak menjadi cikal bakal lahirnya Program Studi Agribisnis.

Perjalanan panjang kemudian membawa berbagai penyesuaian. Tahun 1988, terjadi penggabungan menjadi Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Tahun 1994, nama Sosial Ekonomi Pertanian/Agribisnis mulai digunakan. Hingga akhirnya pada tahun 2007, melalui kebijakan nasional penataan program studi, lahirlah nama yang kini dikenal luas: Program Studi Agribisnis.

Namun sejarah sesungguhnya tidak terletak pada perubahan nama. Sejarah sejati terletak pada kemampuan sebuah institusi untuk terus memperbaiki mutu dirinya. Dari akreditasi “B”, kemudian meningkat menjadi “A”, hingga akhirnya meraih predikat “Unggul” pada tahun 2022. Sebuah capaian yang tidak datang dari keberuntungan, melainkan hasil kerja panjang para dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, dan seluruh pemangku kepentingan yang percaya bahwa pendidikan harus selalu bergerak menuju kualitas yang lebih baik.

Lebih jauh lagi, Program Studi Agribisnis Universitas Hasanuddin tidak berhenti pada pengakuan nasional. Sertifikasi ASEAN University Network–Quality Assurance (AUN-QA) yang diperoleh pada tahun 2018 menjadi penanda bahwa kualitas pendidikan tidak lagi hanya diukur dalam batas-batas geografis Indonesia. Dunia telah menjadi ruang belajar yang terbuka. Dan kampus-kampus Indonesia dituntut mampu berdialog dengan standar internasional tanpa kehilangan akar kebangsaannya.

Urgensi kehadiran Program Studi Agribisnis Universitas Hasanuddin semakin menemukan relevansinya ketika dunia pertanian semakin kompleks dan modern.
Sebagai sistem, pertanian menghubungkan petani, teknologi, pasar, industri pengolahan, logistik, keuangan, hingga konsumen. Dalam bahasa yang lebih sederhana, agribisnis adalah seni mengelola kehidupan dari hulu hingga hilir.

Petani menghasilkan pangan. Pedagang menghubungkan hasil produksi dengan pasar. Industri mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Pemerintah memastikan regulasi berjalan. Akademisi menghadirkan inovasi. Dan konsumen menjadi titik akhir sekaligus awal dari seluruh siklus ekonomi pangan.

Karena itulah Indonesia membutuhkan lebih banyak sarjana agribisnis yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu membaca perubahan zaman. Dunia sedang menghadapi tantangan besar: perubahan iklim, krisis pangan global, disrupsi teknologi, serta meningkatnya kebutuhan penduduk. Dalam situasi seperti ini, sektor pertanian tidak lagi dapat dikelola dengan cara-cara lama.

Kita memerlukan generasi baru yang mampu menghubungkan data dengan tanah, teknologi dengan petani, pasar dengan produksi, dan ilmu pengetahuan dengan kesejahteraan masyarakat. Kampus menjadi tempat persemaian bagi lahirnya generasi tersebut.

Program Studi Agribisnis Universitas Hasanuddin menunjukkan bahwa pendidikan pertanian bukan sekadar menghasilkan lulusan. Ia sedang membentuk arsitek masa depan pangan Indonesia. Mereka yang kelak akan berdiri di antara sawah dan teknologi digital, di antara tradisi lokal dan pasar global, di antara kebutuhan hari ini dan tantangan masa depan.

Di tengah derasnya arus modernisasi, bangsa ini tidak boleh melupakan satu kenyataan mendasar bahwa tidak ada peradaban yang dapat bertahan tanpa pangan. Dan tidak ada ketahanan pangan tanpa sumber daya manusia yang unggul.

Karena itu, ketika sebuah program studi terus meningkatkan kualitasnya, meraih pengakuan nasional dan internasional, sesungguhnya ia sedang melakukan pekerjaan yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi standar akademik. Ia sedang menanam harapan. Ia sedang menyiapkan generasi yang akan menjaga keberlanjutan kehidupan.

Seperti petani yang menanam benih dengan keyakinan bahwa musim panen akan datang, demikian pula kampus menanam ilmu dengan keyakinan bahwa suatu hari pengetahuan itu akan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kemajuan, kesejahteraan, dan peradaban yang lebih baik.

Dan dari Tamalanrea, dari ruang-ruang kuliah yang bersentuhan dengan denyut kehidupan pertanian Indonesia, benih-benih masa depan itu terus ditanam. Tumbuh perlahan. Mengakar kuat. Menjulang tinggi. Menjadi bagian dari ikhtiar panjang bangsa untuk memastikan bahwa Indonesia bukan hanya mampu memberi makan rakyatnya, tetapi juga mampu memimpin masa depan pangan dunia.

Sumber: https://agribusiness.agriculture.unhas.ac.id/
___________
“Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.”