Oleh Adi Maulana
Wakil Rektor Bid. Kerjasama, Inovasi, Bisnis dan Kewirausahaan UNHAS

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Siang itu, saya duduk di rumah Kepala Desa Baderan, Situbondo. Aroma kopi yang baru diproses memenuhi ruangan. Di luar, para petani baru saja kembali dari kebun. Senyum mereka sederhana, tetapi menyimpan harapan besar.

Jujur, sebelum datang ke desa ini saya tidak membayangkan bahwa sebuah inovasi yang lahir di kampus dapat memberikan dampak langsung yang begitu nyata bagi masyarakat.

Di Desa Baderan, salah satu daerah penghasil kopi dilereng Gunung Argopuro, Situbondo Jawa Timur, Universitas Hasanuddin bersama Pemerintah Kabupaten Situbondo sedang menulis sebuah cerita baru tentang kopi Indonesia.

Melalui kolaborasi ini, kami memperkenalkan mesin Ohmic Fermentation, sebuah teknologi hasil karya Prof. Salengke, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin.

Teknologi ini memungkinkan fermentasi kopi berlangsung lebih cepat, lebih terkontrol, dan menghasilkan kualitas rasa yang konsisten.

Yang membuat saya semakin bangga adalah ketika mengetahui bahwa satu unit mesin ini memiliki kapasitas yang setara dengan sekitar 7.500 ekor luwak dalam menghasilkan efek fermentasi kopi premium.

Sebuah lompatan teknologi yang luar biasa.

Hasilnya pun nyata. Kopi yang sebelumnya diproses secara manual kini mengalami peningkatan kualitas yang signifikan.

Nilai jualnya dapat meningkat hingga sekitar Rp50.000 per kilogram dibandingkan kopi yang diolah dengan metode konvensional.

Bagi petani, angka ini bukan sekadar tambahan pendapatan. Ini adalah tambahan biaya sekolah anak, tambahan modal usaha, dan tambahan harapan untuk masa depan keluarga mereka.

Tidak mengherankan jika Bupati Situbondo menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang tinggi kepada Universitas Hasanuddin atas kerja sama ini. Beliau melihat langsung bagaimana teknologi dan inovasi dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kopi di daerahnya.

Bagi saya, inilah makna sesungguhnya dari sebuah universitas berdampak. Ketika riset tidak berhenti di jurnal, ketika inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi hadir di tengah masyarakat dan menjawab kebutuhan nyata mereka.

Sejak tahun 2022, Unhas bertransformasi menjadi kampus berdampak dibawah orkestrasi kebijakan Rektor Prof. Jamaluddin Jompa.

Semua hasil-hasil riset dan inovasi yang punya prospek “dipaksa” untuk bisa dihilirisasi sampai masuk ke “pasar” sehingga punya dampak bagi masyarakat, dunia usaha maupun dunia industri.
Kebijakan ini mulai memberikan dampak, dan mesin fermentasi kopi ini salah satu dari sekian banyak hasil inovasi UNHAS yang “siap” untuk di hilirisasi.

Di Baderan, saya tidak hanya melihat kopi yang lebih berkualitas. Saya melihat bagaimana ilmu pengetahuan dan inovasi dapat mengubah kehidupan.

Dari laboratorium di Makassar menuju kebun kopi di Situbondo, UNHAS kembali membuktikan bahwa perguruan tinggi dapat menjadi jembatan antara inovasi dan kesejahteraan masyarakat.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah universitas bukan hanya berapa banyak publikasi yang dihasilkan, tetapi berapa banyak kehidupan yang berhasil disentuh dan diperbaiki.

Dari Baderan, kami belajar bahwa secangkir kopi yang lebih baik dapat menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik bagi petani Indonesia. (*)