Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Negeri ini sesungguhnya dianugerahi keberkahan yang tidak dimiliki banyak bangsa. Tanahnya subur, hujannya turun teratur, sungainya mengalir dari pegunungan, dan matahari menyinari hamparan sawah hampir sepanjang tahun. Dari rahim bumi yang kaya itulah padi tumbuh menguning, menghidupi jutaan keluarga dari generasi ke generasi.

Namun bukan hanya tanah yang berjasa. Di balik setiap bulir beras yang hadir di meja makan, ada petani-petani yang sabar. Mereka bangun sebelum fajar, menantang panas dan hujan, menjaga harapan di pematang sawah yang sunyi. Ketika kota-kota sibuk mengejar pertumbuhan, mereka tetap setia menanam kehidupan.

Karena itu, ketika dunia mulai berbicara tentang krisis pangan 2026, sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan sekadar produksi beras atau angka statistik. Yang dipertaruhkan adalah kemampuan manusia menjaga hubungan antara alam, pangan, dan peradaban.

Laporan Global Report on Food Crises 2026 yang diulas Prof. Bayu Krisnamurthi menunjukkan bahwa kelaparan dan krisis pangan global masih terus membayangi dunia. Penyebabnya tidak tunggal: perang, perubahan iklim, dan guncangan ekonomi saling berkelindan membentuk lingkaran krisis yang semakin sulit diputus.

Indonesia memang belum masuk dalam kelompok negara yang mengalami kelaparan akut. Kita patut bersyukur. Tetapi rasa syukur tidak boleh berubah menjadi kelengahan. Sebab krisis pangan tidak datang seperti petir di siang bolong. Ia tumbuh perlahan seperti retakan pada mangkuk tanah liat. Mula-mula nyaris tak terlihat, lalu membesar sedikit demi sedikit hingga suatu hari tak lagi mampu menampung kehidupan.

Kelaparan modern sering hadir dengan wajah yang lebih halus. Ia muncul melalui harga pangan yang naik, pupuk yang mahal, cuaca yang tak menentu, lahan pertanian yang menyusut, dan petani yang semakin menua tanpa cukup generasi penerus.

Di sinilah letak persoalannya. Kita terkadang memandang pangan sebagai urusan sektor pertanian semata. Padahal pangan adalah fondasi peradaban. Sebelum berbicara tentang kecerdasan buatan, hilirisasi industri, atau cita-cita menjadi negara maju, bangsa ini harus memastikan bahwa setiap keluarga dapat mengakses makanan yang cukup, sehat, dan terjangkau.

Sawah bukan sekadar ruang produksi. Ia adalah benteng kedaulatan. Petani bukan sekadar profesi. Mereka adalah penjaga masa depan bangsa.

Karena itu, menjaga pangan berarti menjaga tanah, air, benih, petani, dan seluruh ekosistem kehidupan yang menopangnya. Sebab ketika pangan terganggu, yang terancam bukan hanya ekonomi, melainkan stabilitas sosial, bahkan martabat sebuah bangsa.

Mangkuk kosong dalam ilustrasi krisis pangan itu sesungguhnya adalah sebuah peringatan. Bahwa bangsa yang besar tidak boleh terlena oleh kesuburan yang diwariskan alam. Kemakmuran harus terus ditanam sebelum dipanen.

Sebab sejarah mengajarkan satu hal penting bahwa peradaban bukan runtuh ketika tanah berhenti subur, melainkan ketika manusia berhenti menjaga kesuburannya.
__________
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.