Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
MENJELANG pembukaan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo, suasana di kompleks GOR David-Tonny, Limboto, tampak seperti sebuah ladang besar yang sedang menunggu musim panen. Para pekerja merapikan setiap sudut arena, panitia menuntaskan persiapan akhir, sementara ribuan peserta dari berbagai penjuru Nusantara terus berdatangan. Menurut Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, persiapan kegiatan telah mencapai 90 hingga 95 persen. Sebanyak 8.700 peserta telah tiba, dan jumlah itu akan terus bertambah hingga menjelang pembukaan.
Namun sesungguhnya yang sedang dipersiapkan bukan sekadar sebuah acara nasional. Yang sedang disiapkan adalah ruang perjumpaan gagasan, pengalaman, dan harapan. PENAS adalah titik temu antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan teknologi.
Di setiap bulir padi yang menguning, tersimpan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Di setiap jaring yang ditebar nelayan ke lautan, hidup pengalaman panjang yang dibentuk oleh musim, angin, dan gelombang. Tradisi telah menjadi guru yang sabar bagi petani dan nelayan Indonesia selama berabad-abad. Dari sanalah lahir kearifan tentang cara membaca alam, menjaga keseimbangan lingkungan, dan merawat sumber kehidupan.
Namun zaman terus bergerak.
Perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, disrupsi pasar global, dan kebutuhan pangan yang terus meningkat menghadirkan tantangan yang tak bisa dijawab hanya dengan cara-cara lama. Di sinilah teknologi menemukan relevansinya.
Tema PENAS XVII, “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Program Swasembada Pangan guna Mewujudkan Indonesia Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045,” bukan sekadar slogan pembangunan. Ia adalah panggilan untuk menyatukan kebijaksanaan tradisi dengan kekuatan inovasi. Teknologi tidak hadir untuk menggantikan pengalaman petani dan nelayan, melainkan memperkuatnya. Kecerdasan buatan, pertanian presisi, sistem informasi cuaca, digitalisasi pemasaran, hingga inovasi benih dan budidaya hanyalah alat untuk membuat kerja keras mereka lebih produktif dan bermartabat.
Tradisi tanpa inovasi berisiko tertinggal oleh zaman. Sebaliknya, teknologi tanpa akar tradisi dapat kehilangan arah dan merusak keseimbangan yang selama ini dijaga oleh masyarakat agraris dan maritim. Karena itu, masa depan pangan Indonesia tidak terletak pada pertentangan keduanya, melainkan pada kemampuan mempertemukan keduanya dalam satu visi yang sama.
PENAS menjadi ruang dialog yang penting. Di Gorontalo, petani dapat berbicara dengan peneliti. Nelayan dapat berdiskusi dengan pengembang teknologi. Penyuluh, akademisi, pemerintah, dan dunia usaha dapat saling bertukar pengetahuan. Yang dipertemukan bukan hanya manusia, tetapi juga cara pandang. Cara pandang yang menghormati pengalaman masa lalu sekaligus terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.
Lebih dari itu, PENAS mengingatkan kita bahwa swasembada pangan bukan hanya persoalan produksi. Ia adalah soal peradaban. Negara yang kuat bukan hanya negara yang memiliki teknologi canggih, tetapi negara yang mampu menjamin pangan bagi rakyatnya.
Ketahanan pangan adalah ketahanan bangsa.
Karena itu, kehadiran ribuan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia di Gorontalo memiliki makna simbolik yang mendalam. Mereka datang membawa benih pengalaman, cerita keberhasilan, pelajaran kegagalan, dan harapan yang sama: Indonesia yang berdaulat atas pangannya sendiri.
Di tengah berbagai seremoni dan gelar teknologi yang akan berlangsung, ada satu pesan yang patut direnungkan. Masa depan tidak lahir dari penolakan terhadap masa lalu. Masa depan tumbuh ketika tradisi dan teknologi saling bergandengan tangan. Ketika kearifan lokal bertemu ilmu pengetahuan. Ketika cangkul berdialog dengan data. Ketika pengalaman lapangan berpadu dengan inovasi.
Mungkin itulah makna terdalam PENAS XVII. Sebuah perjumpaan besar yang tidak hanya mempertemukan manusia, tetapi juga mempertemukan akar dan sayap. Akar yang membuat bangsa tetap berpijak pada jati dirinya, dan sayap yang membawanya terbang menuju Indonesia Emas 2045.
Dari Gorontalo, kita belajar bahwa pangan bukan sekadar urusan perut. Ia adalah urusan martabat, kedaulatan, dan keberlanjutan peradaban. (*)
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.
