(Tragedi Penyiksaan Sadis di Bandung yang Nyaris Tak Terdeteksi)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Oleh: Munawir Kamaluddin
Ada berita yang hanya lewat di mata, ada berita yang mengusik pikiran. Namun ada pula berita yang mengguncang nurani dan membuat kita bertanya, masih adakah kemanusiaan yang tersisa dalam diri manusia?
Kasus yang menimpa seorang perempuan muda berinisial YTT di Bandung bukan sekadar berita kriminal biasa. Ia adalah cermin retak yang memantulkan wajah masyarakat kita sendiri. Sebuah kisah yang terlalu menyakitkan untuk dibaca sebagai angka statistik, tetapi terlalu penting untuk diabaikan begitu saja.
Bayangkan, Seorang perempuan menghilang selama tiga tahun. Bukan tiga hari, bukan tiga minggu, tiga tahun. Ketika akhirnya ditemukan, ia tidak kembali sebagai sosok yang dahulu dikenal keluarganya. Ia kembali dengan tubuh yang dipenuhi luka, wajah yang rusak, penglihatan yang terganggu, kemampuan bicara yang melemah, dan trauma yang mungkin akan tinggal jauh lebih lama daripada bekas luka di tubuhnya.
Yang lebih menggetarkan, kata pertama yang keluar dari bibirnya ketika mulai mampu berkomunikasi justru bukan kemarahan, bukan kebencian, melainkan permintaan maaf.
Permintaan maaf, Seakan-akan korban merasa dirinya bersalah karena masih hidup. Di titik inilah tragedi ini berhenti menjadi sekadar kasus hukum. Ia berubah menjadi tragedi kemanusiaan.
Pertanyaan besar yang layak diajukan bukan hanya “siapa pelakunya?”, melainkan “bagaimana semua ini bisa terjadi begitu lama tanpa terdeteksi?”
Kita hidup di era kamera pengawas, media sosial, kecerdasan buatan, dan teknologi yang mampu melacak hampir segala sesuatu. Namun seorang perempuan dapat diduga mengalami penyiksaan selama bertahun-tahun tanpa mampu diselamatkan.
Ini menunjukkan bahwa masalah terbesar masyarakat modern bukan kekurangan teknologi, melainkan berkurangnya kepekaan. Kita semakin terhubung secara digital, tetapi semakin jauh secara sosial.
Kita mengetahui konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia, tetapi sering tidak mengetahui jeritan yang terjadi di balik pintu rumah atau kamar kos di sekitar kita.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa kekerasan besar sering kali tidak lahir karena banyaknya orang jahat. Ia bertahan karena terlalu banyak orang memilih diam.
Dalam banyak kasus kekerasan terhadap perempuan, luka pertama memang dibuat oleh pelaku. Namun luka berikutnya sering diperparah oleh ketakutan, pembiaran, ancaman, dan ketidakpedulian lingkungan.
Lebih menyedihkan lagi, banyak korban kekerasan justru mengalami apa yang disebut para psikolog sebagai trauma bonding, yaitu kondisi ketika korban mengalami ketergantungan emosional terhadap pelaku yang menyakitinya. Karena ancaman, manipulasi, rasa takut, dan tekanan psikologis yang berlangsung lama, korban perlahan kehilangan keberanian untuk meminta pertolongan.
Akibatnya, penjara paling mengerikan bukanlah dinding yang mengurung tubuh, melainkan ketakutan yang mengurung jiwa.
Di sinilah kita harus berhenti melihat kasus ini sebagai kisah satu korban dan satu pelaku.
Ini adalah alarm sosial. Alarm bagi keluarga agar tidak menganggap hilangnya komunikasi sebagai sesuatu yang biasa. Alarm bagi masyarakat agar lebih peduli terhadap tanda-tanda kekerasan di sekitar mereka. Alarm bagi negara agar memperkuat sistem perlindungan perempuan dan kelompok rentan. Alarm bagi kita semua agar tidak menjadi generasi yang sibuk mengomentari tragedi setelah terjadi, tetapi abai ketika tragedi sedang berlangsung.
Ironisnya, pelaku kekerasan sering kali tidak muncul dengan wajah menyeramkan sebagaimana dalam film-film. Mereka bisa hadir dengan wajah yang tampak biasa. Bisa datang atas nama cinta. Bisa berbicara dengan bahasa kasih sayang. Bisa menawarkan perlindungan.
Namun ketika cinta berubah menjadi kontrol, ketika perhatian berubah menjadi penguasaan, ketika kedekatan berubah menjadi intimidasi, maka yang tumbuh bukan lagi cinta, melainkan penjara.
Karena cinta yang sehat tidak menghancurkan. Cinta yang sehat tidak menyiksa. Cinta yang sehat tidak membuat seseorang kehilangan kebebasan, harga diri, dan kemanusiaannya.
Kasus ini juga mengingatkan kita pada satu kenyataan yang sering dilupakan, bahwa kekerasan tidak selalu dimulai dengan pukulan. Ia sering dimulai dengan kata-kata yang merendahkan, dengan ancaman kecil, dengan isolasi dari keluarga, denganpengawasan berlebihan, dengan rasa takut yang perlahan ditanamkan. Lalu tumbuh sedikit demi sedikit hingga akhirnya berubah menjadi tragedi besar.
Karena itu, pencegahan kekerasan harus dimulai jauh sebelum luka fisik muncul. Ia harus dimulai dari pendidikan karakter, penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, dan kesadaran bahwa tidak seorang pun berhak menguasai kehidupan orang lain.
Pada akhirnya, kasus YTT bukan hanya tentang seorang perempuan yang kembali dengan wajah hancur. Ini adalah kisah tentang rapuhnya perlindungan sosial ketika kepekaan kemanusiaan mulai memudar.
Dan mungkin pertanyaan paling penting bukan lagi: “Siapa yang bertanggung jawab?”. Karena pelaku tentu harus bertanggung jawab di hadapan hukum. Pertanyaan yang lebih mengusik adalah:” Apakah kita sudah melakukan cukup banyak untuk memastikan tidak ada lagi perempuan lain yang harus mengalami nasib yang sama?”
Sebab ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya pada tingginya gedung, cepatnya internet, atau besarnya pertumbuhan ekonomi. Ukuran kemajuan yang sesungguhnya adalah seberapa aman perempuan dapat hidup, seberapa cepat korban mendapatkan pertolongan, dan seberapa kuat masyarakat berdiri membela mereka yang tidak mampu membela dirinya sendiri.
Jika tragedi ini tidak membuat kita lebih peka, maka sesungguhnya yang terluka bukan hanya korban. Yang terluka adalah kemanusiaan kita sendiri.
#Wallahu A’lam Bishawab🙏
SEMOGA BERMANFAAT
Al-Faqir. Munawir Kamaluddin
