Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)

JudulRefleksi, Dinamika, Reformasi dan Transformasi BEM-U

Penulis: Amran Razak

Penerbitde la macca, Makassar

ISBN : 978-602-263-2511

Cetakan : Pertama, 2026

Tebal± 150 halaman

Saya menerima buku ini dengan perasaan riang tadi malam.

Sensasinya seperti saya menerima dua buku karya kanda Prof Amran (demikian saya kerap menyapanya, karena beliau adalah senior saya di Penerbitan Kampus “Identitas” Unhas, Makassar) sebelumya bertajuk “Demonstran Dari Lorong Kambing”(2015) dan 98-99 – “Catatan Kemahasiswaan Seorang Pembantu Rektor” (2018).

Rasa penasaran yang begitu mendera, membuat saya tak sabar membuka sampul plastik kemasannya kemudian membacanya langsung. Saya lalu melanjutkan menyimak helai demi helai buku tersebut dengan antusias dalam perjalanan saya ke kantor di atas bis Transjakarta dari Cikarang menuju Cawang pagi tadi hingga tuntas.

Dan inilah ulasan sederhana saya atas buku keren yang dalam paparan di halaman belakangnya disebutkan mengajak pembaca menengok kembali romantisme kemahasiswaan dari kampus Baraya ke Tamalanrea yang tak selalu mulus serta dinamika yang terjadi setelahnya.

Buku ini lahir dari percakapan panjang penulis dengan rentetan sejarah di sekitar kampus dan realitas yang terus bergerak.

Meski judulnya terdengar formal, isi buku ini sesungguhnya lebih beraroma catatan perjalanan: semacam memoar kolektif tentang romantisme lembaga kemahasiswaan sepanjang Baraya-Tamalanrea (BARATAMA): dari eksistensi DEMA/Presidium, sekelumit kisah Gerakan Reformasi dari Kampus Tamalanrea, hingga Transformasi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) yang pernah—dan masih—memberi warna pada kehidupan kampus maupun bangsa.

Penulis sendiri menegaskan bahwa buku ini adalah sejenis “memoar” belaka, sekadar sketsa kemahasiswaan, bukan sejarah kemahasiswaan.

Kejujuran posisi ini justru menjadi kekuatan: pembaca diajak menyusuri lorong ingatan seorang aktivis, bukan menghafal kronologi akademik yang kering dan hambar.

Buku ini terbagi menjadi empat bagian besar.

Pada bagian pertama membahas Refleksi dan Dinamika Kemahasiswaan yang mengulas memoar dunia kemahasiswaan yang beragam corak dan masanya, dari kampus lama Baraya ke kampus baru Tamalanrea.

Bagian ini dibuka dengan kisah “Mosaik Sunyi Kelompok Studi Mahasiswa Unhas”. Sejak pembekuan Dewan Mahasiswa (DEMA) dan lahirnya kebijakan NKK/BKK periode 1978–1983, kampus-kampus di Indonesia seperti kehilangan nyawa.

Mahasiswa Unhas yang dikenal sebagai “jago jalanan” tiba-tiba kehilangan arena, lalu mencari ruang-ruang sunyi: di balik kelas, mushalla mini, warkop rakyat pinggiran kampus, hingga kantin fakultas.

Dari situ lahirlah kelompok-kelompok studi—”api kecil yang mereka jaga di tengah kegelapan”—seperti KSP (Kelompok Studi Pembangunan), Koswantara, IKA-Antropologi, Kosindra, MPM, KSWS, KPMP, EcSPRIT, KDB, dan FDT.

Bagian ini juga merekam tonggak pers mahasiswa (SKK Identitas, Buletin BALANCE, Biara Romoromo, MASAPEKA, Tabloid Tamalanrea Post, Channel 9) dan komunitas sastra Baraya-Tamalanrea beserta nama-nama teaterawan-budayawan-sastrawan yang lahir darinya.

Saya mendadak “terpelanting” ke dalam pusaran nostalgia saat di halaman 27 pada bab ini, nama saya muncul sebagai salah satu aktifis pers Mahasiswa di era 90-an yang begitu dinamis.

Benak saya dibayangi kenangan ketika sempat “dikejar” intel masa orde baru lantaran membuat artikel kritis dan sensitif tentang rezim yang berkuasa kala itu di Surat Kabar Mahasiswa “Channel 9” yang diterbitkan Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Unhas.

Di Bagian Dua:  Gerakan Reformasi dari Kampus Tamalanrea, menyajikan sekelumit kisah gerakan reformasi dari “Kampus Merah” Tamalanrea, bagaimana mahasiswa Makassar mengambil bagian dalam gelombang perubahan nasional.

Sementara itu di Bagian Tiga: Transformasi BEM dan Gerakan Mahasiswa mengulas arah gerakan mahasiswa dan gerakan sosial di tengah sistem kekuasaan yang problematik, pupusnya “Rumah Pencerahan”, perdebatan seputar keberadaan BEM Unhas (“BEM Unhas: Adakah?”), dialog generasi dalam “BEM Unhas dan Generasi Strawberry: Celoteh Warkop Enreco”, hingga seruan “BEM Unhas: Saatnya Menyala Lagi, dengan Cara Baru” yang dipersembahkan sebagai kado kecil bagi Rektor terpilih Unhas. Bagian ini ditutup dengan wawancara imajiner bersama Mohammed Ridha: “Menjaga Api yang Nyaris Padam”.

Di bagian akhir/Epilog merangkum narasi, jejak, dan masa depan BEM serta gerakan mahasiswa Makassar, dilengkapi lampiran kliping wacana pembentukan kembali BEM-U Unhas.

Secara umum, buku ini memiliki beberapa kelebihan yang layak diapresiasi.

Pertama, gaya penulisannya reflektif sekaligus hidup. Penulis mampu menghadirkan suasana dengan detail sensorik yang kuat: buku Gunnar Myrdal, Amartya Sen, dan Andre Gunder Frank yang berserakan di meja kantin, diapit kopi tubruk dan rokok filter serta aroma nasi-ikan dan gado-gado. Pembaca seolah ikut duduk dalam diskusi-diskusi panas itu.

Mayoritas tulisan-tulisan buku ini berasal dari pandangan personal Amran di blog amranrazak.com untaian kalimatnya begitu renyah dan memukau menuliskan romantika dunia kemahasiswaan yang senantiasa bergairah dan bergemuruh.

Kedua, buku ini mengisi kekosongan dokumentasi. Sejarah gerakan mahasiswa Indonesia kerap berpusat pada Jakarta, Bandung, atau Yogyakarta. Buku ini memberi panggung pada dinamika kemahasiswaan Makassar dan Unhas dengan segala kekhasannya, lengkap dengan nama-nama pelaku sejarahnya.

Ketiga, kedalaman intelektual tetap terjaga. Diskusi kelompok studi yang direkam bukan sekadar nostalgia, melainkan menyentuh gagasan besar, misalnya pemikiran Amartya Sen dalam Development as Freedom tentang keberhasilan ekonomi yang seharusnya tidak diukur dari angka makro semata, melainkan dari kemampuan setiap manusia hidup bermartabat dan terbebas dari kemiskinan.

Amran menghadirkan dialektika humanis dan menyentuh kesadaran dari ide-ide pemantik diskusi yang disampaikan, yang buat saya, terasa laksana ngobrol santai dengannya di teras depan sebuah cafe bernuansa vintage sembari menikmati kopi pahit dan rekahan senja eksotis yang turun perlahan.

Keempat, pesan lintas generasi. Buku ini tidak berhenti pada masa lalu; ia menyapa “Generasi Strawberry” dan mengajak generasi kini terus menyalakan api perjuangan, dengan cara dan zamannya sendiri.

Metafora penulis tentang BEM-U yang seperti gelombang laut di Pantai Losari—selalu datang kembali, mungkin bentuknya berubah tetapi semangatnya tetap—terasa segar dan membekas.

Kelima, buku ini diperkuat testimoni dari berbagai tokoh, antara lain Qasim Mathar (kolumnis Harian Fajar), Sawedi Muhammad (Dosen Sosiologi Fisipol Unhas), Hidayat Gazali (aktivis 1980-an), dan Muh. Arsyad Rahman (Dosen senior FKM-Unhas, kolumnis Kompas), yang menandakan resonansi tulisan-tulisan penulis di kalangan akademisi dan aktivis.

Sebagai sketsa dan memoar, buku ini secara sadar tidak menghadirkan ketelitian historiografi akademik, tidak ada catatan kaki yang ketat atau verifikasi arsip yang sistematis, sehingga pembaca yang mencari sejarah komprehensif perlu merujuk sumber lain. Selain itu, banyaknya potongan tulisan yang dikumpulkan membuat alur antarbab terasa longgar, lebih menyerupai bunga rampai ketimbang narasi tunggal yang mengalir.

Bagi saya yang pernah meresensi dua buku Amran Razak terdahulu—Demonstran Dari Lorong Kambing (2015) dan 98-99: Catatan Kemahasiswaan Seorang Pembantu Rektor (2018)— buku ini terasa seperti penutup sebuah trilogi tak resmi yang merangkum tiga babak kehidupan sang penulis sekaligus tiga babak sejarah gerakan mahasiswa Makassar.

Demonstran Dari Lorong Kambing adalah babak pertama: autobiografi seorang aktivis militan “kepala angin” yang menantang Orde Baru dari bawah, dari Buletin Balance yang “keras, liar dan nakal” hingga sel tahanan pasca Peristiwa Toko La.

98-99 adalah babak kedua: kisah sang mantan demonstran yang berbalik posisi menjadi Pembantu Rektor III dan justru memasang badan—secara harfiah menantang panser di landasan Bandara Hasanuddin—demi melindungi mahasiswanya di puncak gerakan reformasi.

Buku ketiga ini adalah babak refleksi: sang pelaku kini mundur selangkah, tak lagi bercerita tentang dirinya semata, melainkan merangkai mozaik kolektif tentang lembaga dan komunitas kemahasiswaan itu sendiri, dari kelompok studi era NKK/BKK hingga wacana kebangkitan BEM-U hari ini.

Benang merah yang menjahit ketiganya jelas: kesetiaan pada satu panggung yang sama (Unhas dan Makassar, dari Lorong Kambing–Baraya hingga Tamalanrea), gaya bertutur jurnalistik nan renyah warisan masa aktifnya di SKK Identitas, serta satu tema besar yang tak pernah bergeser: “menjaga api” idealisme mahasiswa agar tetap menyala dari generasi ke generasi.

Jika dua buku pertama menyalakan api itu dari perspektif “aku” sang pelaku, buku ketiga ini mengoper obornya kepada “mereka”: generasi kini yang diharapkan meneruskan perjuangan dengan cara dan zamannya sendiri.

Terlepas dari keterbatasannya, Buku Refleksi, Dinamika, Reformasi dan Transformasi BEM-U adalah dokumentasi berharga tentang denyut kemahasiswaan Unhas dan Makassar dari era pembekuan DEMA hingga wacana kebangkitan kembali BEM-U hari ini.

Seperti harapan penulisnya, sketsa sederhana ini layak menjadi pengingat, bahan diskusi warkop, sekaligus pemantik bagi generasi kini untuk terus menyalakan api perjuangannya.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi mahasiswa, aktivis, alumni Unhas, serta siapa pun yang menaruh minat pada sejarah gerakan mahasiswa Indonesia, khususnya dari timur Nusantara.