KABARIKA.ID, JAKARTA – Transformasi bisnis yang dijalankan PT Pupuk Indonesia (Persero) mulai menunjukkan hasil nyata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sepanjang semester pertama 2026, BUMN sektor pupuk tersebut berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp8,51 triliun, melonjak 253 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Capaian ini sekaligus menjadi indikator menguatnya kinerja perusahaan setelah menerapkan strategi efisiensi operasional, pengendalian biaya, dan transformasi tata kelola secara menyeluruh.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan peningkatan kinerja keuangan tersebut tidak terlepas dari konsistensi perusahaan dalam menjalankan agenda transformasi bisnis yang didukung pemerintah melalui Danantara.
Menurutnya, penerapan prinsip operational excellence dan cost leadership membuat perusahaan mampu menjaga pertumbuhan secara berkelanjutan, bahkan di tengah dinamika harga komoditas global.
“Berkat dukungan pemerintah melalui Danantara transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil berupa capaian kinerja keuangan yang membanggakan. Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis pertumbuhan ini berkelanjutan,” ujar Rahmad kepada wartawan Jumat (17/7/2026).
Selain mencatat lonjakan laba, Pupuk Indonesia juga membukukan pendapatan sebesar Rp59,67 triliun atau meningkat 51 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, nilai EBITDA perusahaan mencapai Rp14,28 triliun, tumbuh 140 persen, didorong oleh peningkatan volume produksi serta efisiensi biaya operasional.
Peningkatan tersebut merupakan bagian dari transformasi perusahaan yang telah dijalankan dalam beberapa tahun terakhir. Program tersebut meliputi penguatan operasional berbasis digital, penyederhanaan struktur bisnis holding, optimalisasi distribusi pupuk bersubsidi sebagai bagian dari layanan publik, hingga pengembangan sektor komersial.
Dari sisi tata kelola, transformasi diperkuat dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 yang menjadi landasan peningkatan efisiensi operasional perusahaan.
Sejalan dengan kebijakan tersebut, Pupuk Indonesia juga menyiapkan program revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengoptimalkan aset BUMN sesuai arahan Danantara.
Tidak hanya itu, perusahaan juga mulai memperluas portofolio bisnis melalui pengembangan produk bernilai tambah, seperti metanol beserta turunannya, bisnis clean ammonia, hingga sektor industrial support yang diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan baru di masa mendatang.
Transformasi tersebut juga memberikan dampak terhadap pelayanan kepada petani.
Akses terhadap pupuk bersubsidi kini dinilai semakin mudah melalui penerapan sistem digital i-Pubers yang mempercepat proses penebusan pupuk.
Sepanjang 2025, Pupuk Indonesia berhasil menyalurkan 8,11 juta ton pupuk bersubsidi atau meningkat 10,68 persendibandingkan tahun sebelumnya.
Hingga 12 Juli 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 5,13 juta ton, setara 52 persen dari total alokasi pemerintah sebanyak 9,8 juta ton.
Rahmad menegaskan, seluruh agenda transformasi yang dijalankan perusahaan pada akhirnya bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penyediaan pupuk yang lebih mudah diakses petani.
“Sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang didorong Danantara, semua perubahan struktural ini bermuara pada satu hal, pupuk yang terjangkau dan lebih cepat sampai ke petani, dengan cost yang lebih sehat bagi negara serta menjaga ketahanan pangan,” ungkap Rahmad.
Ia menambahkan, perusahaan akan terus mengedepankan efisiensi operasional dan optimalisasi aset sebagai strategi utama menjaga daya saing dalam jangka panjang.
Dengan kapasitas produksi nasional sekitar 14,8 juta ton per tahun, Pupuk Indonesia memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pupuk domestik sekaligus menangkap peluang ekspor tanpa mengganggu pasokan bagi petani di dalam negeri.
“Bagi kami, keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, tapi memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah. Ketahanan bisnis kami bukan hanya soal bertahan dari gejolak industri, tapi juga soal memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani di akar rumput,” pungkas Rahmad. (*)
