KABARIKA.ID, WASHINGTON — Presiden AS Donald Trump menayangkan unggahan provokatif pada hari Selasa (18/08/2026) di akun Truth Social miliknya. Unggahan tersebut berupa penegaskan bahwa AS akan mengambil alih jalur pelayaran Selat Hormuz yang selama berbulan-bulan gagal ia kuasai dalam perangnya melawan Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Trump mengunggah peta yang menandai (melingkari) Selat Hormuz sebagai wilayah baru AS, mengulangi ancaman yang ia lontarkan pekan lalu di tengah tekanan berkelanjutan terkait status jalur perairan strategis yang menjadi objek sengketa tersebut.

Di dalam negeri, Presiden Trump menghadapi sentimen anti-perang yang kian meningkat di seluruh Amerika, serta kesadaran di Capitol Hill, bahkan di kalangan partainya sendiri, bahwa perang melawan Iran tidak mendapat dukungan publik dan membebani rakyat Amerika dengan biaya tinggi.

Padahal hanya tinggal beberapa minggu lagi sebelum para pemilih menentukan siapa yang akan menguasai Kongres.

Menurut berbagai laporan, Trump sangat ingin menemukan cara untuk melabeli upaya militer tersebut sebagai sebuah kemenangan.

Hal ini terjadi karena negosiasi dengan pemerintah Iran, yang pernah ia klaim akan atau dapat dengan mudah ia gulingkan, telah gagal total, dan AS tampaknya tidak kunjung mencapai kesepakatan untuk membatasi masa depan program nuklir Iran.

Selat Hormuz tetap menjadi zona berbahaya bagi kapal tanker dan kapal lainnya, karena ranjau serta serangan pesawat nirawak (drone) Iran terus mengancam kapal-kapal yang menyimpang dari salah satu dari dua jalur resmi yang ditetapkan di perairan tersebut. Arus lalu lintas kapal pun tetap sangat lambat.

Presiden Trump berbicara kepada wartawan di ruang Oval Gedung Putih pada hari Senin (17/08/2026). (Foto: arabnews)

Dalam sebuah unggahan tanpa keterangan teks di Truth Social pada Selasa pagi, sang presiden melingkari wilayah selat tersebut dan melabelinya sebagai “wilayah baru AS.”

Namun, sejauh ini pasukan AS belum mampu menjamin keamanan pelayaran kapal yang melintasi selat tersebut.

Selain itu, lingkaran yang digambarkan pada peta Trump justru mencakup sebagian wilayah daratan Iran di perbatasan utara selat itu.

Hal ini menyiratkan adanya pendudukan sebagian wilayah Iran oleh AS.

Sang presiden pertama kali melontarkan klaim bahwa selat tersebut akan menjadi “wilayah AS” dalam sebuah acara di New York pekan lalu.

“Tak lama lagi, saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” ujarnya kepada hadirin dalam sebuah rapat umum politik.

Bukan Pertama Kali

Ini bukan kali pertama Trump menyampaikan gertakan bernada pencaplokan wilayah asing, saat menghadapi hambatan kebijakan luar negeri.

Sejak kembali berkuasa pada tahun 2025, ia telah mengancam akan menjadikan Kanada sebagai negara bagian AS ke-51, merebut Greenland dan Kuba.

Bukan hanya itu, Trump bahkan sempat menyinggung soal pengambilalihan kendali atas Jalur Gaza, namun tidak pernah benar-benar mewujudkan ancaman-ancaman tersebut.

Gertakan terbaru adalah klaim Selat Hormuz sebagai wilayah teritorial terbaru AS. Ini dilakukan karena Trump puyeng menghadapi Iran yang tidak bisa ia tundukkan.

Padahal di awal perang, Trump mengatakan akan mengalahkan Iran hanya dalam waktu kurang dari delapan minggu.

Pada hari Senin, Trump telah menunjukkan tanda-tanda frustrasi ketika ia mengancam akan membombardir Oman, negara sekutu AS, jika negara itu ikut campur dalam kesepakatan terkait Selat Hormuz.

Sementara itu, Qatar sebagai mediator utama dalam perundingan AS-Iran yang sempat macet, menyatakan pada hari Selasa, bahwa kesepakatan antara Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz akan mempermudah dimulainya kembali negosiasi untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Iran: Sebuah Khayalan

Menanggapi klaim Trump atas Selat Hormuz itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi menyebut pernyataan Trump itu sebagai sebuah “khayalan”.

Gharibabadi memperingatkan bahwa AS tidak bisa merebut jalur perairan itu hanya melalui “cuitan” ataupun kekuatan militer.

“Selat ini hanya akan dibuka dan ditutup di bawah kendali Iran. Selama Anda tidak menerima kenyataan akan kekalahan dan berhenti memelihara khayalan, Iran akan terus memberlakukan blokade tersebut,” tulis Kazem Gharibabadi di platform X.

Tidak Ada Pembicaraan dengan Iran

Presiden Trump mengatakan pada hari Selasa, bahwa tidak ada pembicaraan dengan Iran yang sedang berlangsung atau dijadwalkan.

“Tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung, atau dijadwalkan, dengan Republik Islam Iran. Blokade Laut tetap berlaku sepenuhnya. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau laut telah disingkirkan atau diledakkan,” tulis Trump di jejaring sosial Truth Social miliknya, pada hari Selasa.

Utusan sekaligus menantu Trump, Jared Kushner, sebelumnya mengatakan pada hari Senin bahwa AS dan Iran sedang melakukan percakapan yang sangat positif dan aktif, namun presiden membantah hal tersebut.

Trump dan Gedung Putih dilaporkan memandang pembukaan kembali Selat Hormuz serta upaya meringankan beban warga AS akibat kenaikan harga BBM, sebagai prioritas utama.

Padahal, tujuan awal operasi militer AS di Iran adalah menghentikan program nuklir negara tersebut dan mengamankan material nuklir yang telah diperkaya.

Namun, tuntutan Presiden Trump menjadi semakin ekstrem dan tidak realistis seiring berlarutnya konflik.

Pekan lalu, ia bahkan bersikeras agar Iran membayar ganti rugi perang atas kematian warga Amerika yang tewas di tangan pasukan Iran selama beberapa dekade terakhir.

Harga BBM rata-rata di seluruh negeri telah melonjak lebih dari $1 per galon sejak perang dimulai pada akhir Februari.

Ketidakpuasan warga Amerika terhadap pemerintah juga dipicu oleh pernyataan berbagai tokoh di lingkaran presiden, serta Trump sendiri, yang sebelumnya menyebut bahwa perang akan berakhir dalam hitungan minggu.

Namun nyatanya, konflik tersebut tinggal seminggu lagi genap enam bulan dan Iran masih mampu membalas serangan AS dengan mematikan, jika AS kembali menyerang. (rus)