Oleh Suharman Usman, S.S., S.E., M.M.

Alumni Sastra Universitas Hasanuddin Angkatan 1989

TAHUN 1994, dengan mesin ketik tua, saya mencatat di Desa Madello, Barru, sebuah paseng (pesan leluhur) yang nyaris punah: Pitu Lise’ Dapureng. Pengantin perempuan Bugis diminta mengelilingi dapur sebanyak tujuh kali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tulisan itu belakangan viral. Banyak yang bertanya, “Apakah hanya orang Bugis yang memuliakan dapur?” Jawabannya: tidak.

Dan di situlah letak kehebatannya. Apa yang dilakukan orang Bugis ternyata punya kembaran di seluruh Nusantara. Hanya bahasanya yang berbeda.

Berikut pesan leluhur Bugis yang ternyata sangat universal, dan sangat kita butuhkan di tahun 2026 ini.

Dapur Itu Singgasana, Bukan Tempat Buangan

Leluhur Bugis berpesan: Dapureng iyanaritu pattudangeng alebbireng (dapur adalah tempat duduknya kemuliaan). Bandingkan dengan tradisi lain. Orang Jawa menyebut dapur sebagai pawon, tempat yang awu-awu atau hangat, pusat rumah.

Orang Minang menyebutnya dapua mangkonyo karajo induak (dapur adalah mahkota pekerjaan ibu). Orang Toraja menyebut pa’dapo sebagai pusat tongkonan, yang apinya tidak boleh padam.

Leluhur kita tidak pernah merendahkan perempuan dengan menempatkannya di dapur. Justru mereka menitipkan kunci kehormatan rumah di tangannya. Siapa yang memegang dapur, ia memegang siri’ (harga diri) keluarga.

Tujuh Itu Doa, Bukan Sekadar Angka

Kenapa harus tujuh kali? Dalam bahasa Bugis, pitu (tujuh) bunyinya dekat dengan matuju, yang artinya lurus, benar, dan direstui. Ini adalah kecerdasan linguistik leluhur.

Orang Jawa memaknai pitu sebagai pitulungan (pertolongan). Orang Sunda mengikat angka tujuh dengan tujuh hari dan tujuh lapis bumi. Orang Bugis-Islam mengaitkannya dengan tujuh lapis langit.

Pesan leluhur jelas: perkawinan bukan urusan pesta sehari, melainkan urusan pitu hari dalam seminggu, seumur hidup, untuk terus berdoa agar rumah tangga tetap matuju.

Ukuran Menantu Bukan Sompa, Tapi Beras

Ini yang paling menampar kita hari ini. Dahulu, ibu-ibu Bugis tidak menilai calon menantu dari besarnya sompa (mahar) atau mewahnya gedung. Mereka melihat cara calon menantu menata beras di pabbaraseng (tempat beras). Jika rapi, itu tanda ia malempu (jujur) dan macca (cerdas).

Leluhur Bugis meletakkan perkawinan di atas tiga pilar: Siri’ (harga diri), Lempu (kejujuran), dan Acca (kecerdasan mengelola). Bukan sompa, bukan pesta. Tanpa tiga pilar itu, gedung semewah apa pun akan runtuh.

Nasihat Itu di Tempat Sepi, Bukan di Depan Kamera

Pitu Lise’ Dapureng dilakukan setelah pesta usai, saat rumah sudah sepi. Tidak ada kamera, tidak ada penonton. Sama seperti tradisi mangajangi (Makassar) atau tudang sipulung (Bugis).

Ini adalah metode pendidikan karakter. Nasihat meresap karena disampaikan di ruang sunyi, bukan untuk konten. Mungkin di 2026 ini, kita perlu mengembalikan pendidikan perkawinan dari gedung yang bising ke dapur yang sunyi.

Untuk Para Suami: Tugasmu Menjaga, Bukan Menyuruh

Dan ini yang paling banyak dilupakan. Paseng ini sesungguhnya adalah syarat bagi laki-laki.

Leluhur berkata: Iyyapa nawedding mabbaine oroane ede, naullepi makkaluri dapurengnge wekkapitu (seorang laki-laki baru boleh menikah kalau sanggup mengelilingi dapur tujuh kali).

Kata iyyapa berarti syarat mutlak. Dapur adalah simbol ekonomi rumah tangga; tujuh kali adalah simbol tujuh hari dalam seminggu. Artinya, seorang laki-laki baru layak menikah jika sanggup memastikan dapur tetap menyala setiap hari, menafkahi setiap hari.

Jika dapur adalah singgasana kemuliaan, maka tugas suami bukan menyuruh-nyuruh dari ruang tamu. Tugasnya adalah memastikan singgasana itu tetap mulia: berasnya ada, tungkunya menyala, dan istrinya tidak sendirian memikul beban siri’ itu. Itulah makna sibaliperri dan sipurepo yang sesungguhnya.

Apa yang saya temukan di Madello pada 1994 ternyata bukan hanya milik orang Bugis. Dari Sabang sampai Merauke, leluhur kita sepakat dalam satu hal: rumah yang baik tidak diukur dari megahnya ruang tamu, tapi dari hangatnya dapur.

Semoga sebelum suara panci dan paseng ibu-ibu kita benar-benar kalah oleh suara musik DJ di gedung pesta, kita sempat ke dapur. (*/)