Muliadi Saleh : Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam waktu yang berdekatan, negeri ini menghadapi berbagai gejala alam dan lingkungan—karhutla di sejumlah wilayah, erupsi gunung api, serta gempa bumi di beberapa kawasan. BNPB pada 5 September 2026 masih melaporkan penanganan karhutla di sejumlah daerah, sementara Badan Geologi mencatat aktivitas erupsi menerus Anak Krakatau. BMKG juga mencatat sejumlah gempa, termasuk gempa M5,4 di selatan Cilacap pada 4 September 2026. Termasuk  gempa bumi Magnitude (M) 7,7 yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/08/2026) lalu.

Bagi bangsa yang hidup di antara hutan, gunung, laut dan patahan bumi, bencana bukan sesuatu yang sepenuhnya dapat dihapus dari kehidupan. Indonesia berada dalam wilayah geologi yang aktif dan memiliki 127 gunung api aktif. Karena itu, yang perlu dibangun bukan angan-angan tentang negeri tanpa bencana, melainkan tentang kesabaran ekologis.  Masyarakat yang semakin cerdas, tangguh dan sabar hidup berdampingan dengan dinamika alam.

Kesabaran ekologis bukan berarti pasrah kepada bencana. Ia justru berarti memahami bahwa alam memiliki hukum, siklus dan waktunya sendiri, sementara manusia memiliki tugas untuk membaca, menghormati dan mengantisipasinya. Dalam menghadapi karhutla, misalnya, kesabaran bisa berarti antisipasi sejak dini, pencegahan, pemantauan titik panas, pengelolaan gambut, pengendalian sumber api dan kesiapsiagaan masyarakat yang dilakukan jauh sebelum asap memenuhi udara. BMKG sejak April 2026 telah menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi risiko karhutla, dan pemerintah kembali menempatkan September sebagai periode krusial pengendalian.

Kesabaran ekologis juga berarti memahami bahwa tidak semua bencana dapat dicegah, tetapi hampir semua risiko dapat dikelola dengan lebih baik. Gempa bumi, misalnya, tidak dapat dihentikan oleh manusia, tetapi bangunan dapat dibuat lebih tahan gempa, jalur evakuasi dapat disiapkan, keluarga dapat dilatih, dan informasi BMKG dapat menjadi dasar pengambilan keputusan. Gempa M5,4 di selatan Cilacap pada 4 September 2026 menjadi pengingat bahwa kewaspadaan harus menjadi kebiasaan, bukan kepanikan sesaat.

Demikian pula dengan gunung api. Erupsi bukan alasan untuk menantang alam, tetapi juga bukan alasan untuk hidup dalam ketakutan. Ketika Badan Geologi menetapkan tingkat aktivitas dan radius bahaya, masyarakat perlu belajar percaya kepada data dan mematuhi batas-batas keselamatan. Pada 31 Agustus 2026, status Sinabung dinaikkan menjadi Level III atau Siaga, sedangkan Anak Krakatau juga terus dipantau dalam aktivitas erupsi yang berlangsung hingga awal September.

Namun ada satu hal yang bisa menjadi renungan bersama bahwa alam tidak hanya membawa bencana. Ia  juga mendatangkan potensi. Abu vulkanik yang hari ini mengganggu pernapasan, dalam perjalanan waktu dapat menjadi bagian dari proses pembentukan tanah; gunung yang menyimpan bahaya juga menyimpan air, mineral, keindahan lanskap dan kesuburan. Hutan yang harus dilindungi bukan hanya karena ia mencegah banjir dan longsor, tetapi karena di dalamnya tersimpan keanekaragaman hayati, air, pangan, obat-obatan dan kehidupan yang tidak ternilai.

Di sinilah kesabaran ekologis menemukan maknanya. Kita tidak boleh terburu-buru mengeksploitasi setiap potensi alam hanya karena melihat nilai ekonominya, sebagaimana kita tidak boleh menyerah ketika alam menghadirkan bencana. Ada waktu untuk memanfaatkan dan ada waktu untuk memulihkan. Ada saat manusia bekerja dan ada saat manusia harus membiarkan bumi beristirahat. Kesabaran adalah kemampuan untuk memahami waktu alam.

Bumi bukan sekadar ruang yang kita tempati, tetapi ayat-ayat Tuhan yang terbentang di hadapan manusia. Api mengajarkan kewaspadaan, gempa mengajarkan kerendahan hati, gunung mengajarkan keteguhan, dan hutan mengajarkan kehidupan yang saling terhubung. Ketika kita membaca semua itu dengan hati yang jernih, bencana tidak hanya menjadi berita tentang kerusakan, tetapi juga undangan untuk memperbaiki cara manusia memperlakukan ciptaan.

Tuhan telah menyiapkan bumi dengan segala hukumnya. Ada hujan yang menyuburkan sekaligus dapat menjadi banjir, ada gunung yang memberi kesuburan sekaligus dapat meletus, ada hutan yang memberi kehidupan tetapi dapat terbakar ketika manusia kehilangan keseimbangan. Takdir alam bukan alasan untuk menyerah; takdir adalah ruang bagi ikhtiar manusia untuk belajar lebih bijaksana.

Maka menghadapi karhutla, erupsi dan gempa secara bersamaan, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar respons darurat. Kita membutuhkan budaya mitigasi, pendidikan kebencanaan, tata ruang berbasis risiko, teknologi pemantauan, masyarakat yang terlatih, pemerintah yang sigap, dan kesadaran ekologis yang tumbuh dari rumah hingga negara. Yang paling penting, kita perlu mengubah cara pandang: dari menaklukkan alam menjadi hidup selaras dengan alam.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak sedang berhadapan dengan bumi yang ingin mengalahkannya. Kita sedang hidup di dalam sebuah sistem kehidupan yang jauh lebih tua dan lebih besar daripada diri kita sendiri. Kesabaran ekologis adalah kesediaan untuk memahami bahwa bumi mempunyai waktunya, Tuhan mempunyai hukum-Nya, dan manusia mempunyai tanggung jawabnya.

“Bencana mengajarkan kita untuk waspada, alam mengajarkan kita untuk bersabar, dan iman mengajarkan kita bahwa di balik setiap ujian selalu ada ruang untuk tumbuh menjadi lebih bijaksana.”
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.