Oleh: Munawir Kamaluddin
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kita hidup di zaman ketika manusia begitu sibuk membangun dunia di luar dirinya; rumah, jabatan, harta, gelar, pengaruh, dll. tetapi sering lupa membangun rumah di dalam jiwanya. Kehidupan semakin cepat, kompetisi semakin keras, sementara tekanan, kecemasan, iri hati, konflik, saling menjatuhkan, hingga penyalahgunaan wewenang semakin mudah ditemukan.
Yang retak bukan selalu kehidupan, terkadang jiwa manusialah yang menjalankannya.
Ambisi untuk maju bukanlah kesalahan. Yang berbahaya adalah ketika ambisi kehilangan kendali moral, jabatan menjadi ego, kekuasaan menjadi alat menguasai, materi menjadi ukuran harga diri, dan kompetisi berubah menjadi permusuhan. Manusia akhirnya lebih sibuk bertanya, “Apa yang dapat saya miliki?” daripada “Apa yang dapat saya berikan?”
Materialisme pun perlahan memindahkan materi dari tangan ke hati. Harta yang semestinya menjadi sarana berubah menjadi tujuan, pencapaian melahirkan pencapaian baru, jabatan menuntut jabatan yang lebih tinggi. Perlombaan tidak pernah selesai, sementara kebahagiaan terus ditunda: “Nanti kalau sudah berhasil.” Akhirnya manusia memiliki banyak hal, tetapi kehilangan ketenangan.
Persoalannya bukan kurangnya dunia, melainkan salah menempatkan dunia.
Karena itu, manusia membutuhkan arsitektur jiwa, fondasi iman, ilmu, integritas, akhlak, pengendalian diri, kasih sayang, syukur, dan kesadaran bahwa segala yang dimiliki hanyalah amanah.
Kita mungkin tidak mampu mengubah dunia yang semakin kering, tetapi kita dapat menjaga oase di dalam diri agar tidak mengering.
Oase itu pertama-tama adalah iman, yang mengembalikan hati kepada Tuhan ketika dunia tidak memberi kepastian. Kemudian syukur dan qana’ah, yang mengajarkan bahwa berusaha dan merasa cukup dapat berjalan bersama. Relasi yang sehat, agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan dan kompetisi tidak menghancurkan persaudaraan. Integritas, agar kekuasaan tetap menjadi amanah dan kesempatan tidak berubah menjadi penyimpangan. Refleksi, agar kita berani bertanya: Apa yang sebenarnya sedang saya kejar, dan apakah itu benar-benar membuat saya bahagia? Serta memberi dan menjadi manfaat, karena kebahagiaan sering ditemukan ketika kita berhenti hanya mencari untuk diri sendiri dan mulai menghadirkan kebaikan bagi orang lain.
Kita tidak harus meninggalkan dunia untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya perlu menempatkannya secara proporsional, miliki harta tanpa diperbudak harta, raih jabatan tanpa menjadi hamba jabatan, bangun pengaruh tanpa kehilangan empati, dan berkompetisi tanpa kehilangan persaudaraan.
Sebab hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi kita naik, tetapi seberapa kuat akar moral dan spiritual kita menancap.
Jabatan akan berganti, harta akan berpindah, popularitas akan meredup, dan tubuh akan menua. Yang akhirnya bernilai adalah iman, amal, integritas, kasih sayang, serta jejak kebaikan yang kita tinggalkan.
Maka jangan habiskan hidup untuk mengumpulkan sesuatu yang kelak kita tinggalkan, sementara lupa membangun sesuatu yang akan kita bawa pulang.
Tanah kehidupan boleh kering, tetapi jiwa tidak boleh kehilangan oasenya.
Bangunlah fondasi dengan iman, teduhkan dengan syukur, kokohkan dengan integritas, hidupkan dengan kasih sayang, arahkan dengan ilmu, dan sempurnakan dengan amal.
Sebab kebahagiaan sejati bukan ketika kita memiliki seluruh dunia, melainkan ketika kita mampu menjalani dunia tanpa diperbudak olehnya, berjuang tanpa kehilangan ketenangan, memiliki tanpa keserakahan, berkuasa tanpa kesombongan, dan melepaskan tanpa kehilangan keikhlasan.
Di sanalah hati menemukan Tuhan, jiwa menemukan makna, sesama menemukan kasih, dan manusia menemukan bahagia yang sesungguhnya.🙏(*)
