KABARIKA.ID, GAZA — Perang merenggut masa kanak-kanak jauh sebelum merenggut nyawa mereka. Di Gaza, ritme kehidupan masa kecil yang tenang dan sederhana telah digantikan oleh perjuangan keras demi kelangsungan hidup, perut yang lapar, duka atas kehilangan orang tua, serta tubuh yang kehilangan anggota gerak namun terus berjuang untuk bertahan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tiga tahun setelah serangan yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober 2023 memicu serangan Israel ke Gaza, yang kemudian menyebabkan kehancuran sekitar 80 persen infrastruktur dan pemukiman warga Gaza.
Perang telah menyebabkan sekitar 1,9 juta orang mengungsi, banyak di antaranya berulang kali, dan lebih dari 1,2 juta orang kehilangan tempat tinggal, menurut penilaian PBB, Uni Eropa, dan Bank Dunia pada tahun 2026.
Bagi anak-anak, kehancuran ini berarti tumbuh besar di tengah kondisi pengungsian, sekolah yang rusak, layanan kesehatan yang terganggu, serta kehilangan orang tua, kerabat, dan tempat-tempat yang akrab bagi mereka.
Menurut perkiraan UNICEF, terdapat 19.000 anak di Gaza yang hidup tanpa pendamping atau menjadi yatim piatu, karena kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka.
Pada November 2023, pekerja kemanusiaan yang berafiliasi dengan Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas menciptakan akronim WCNSF (wounded child, no surviving family) atau anak terluka, tanpa keluarga yang selamat, karena banyaknya anak yang tiba sendirian di fasilitas medis untuk mencari pertolongan.

MSF melaporkan telah menangani anak-anak dengan cedera parah yang berdampak fatal bagi kondisi fisik mereka, termasuk amputasi, anggota tubuh yang hancur, dan luka bakar hebat, yang memerlukan rehabilitasi jangka panjang serta perawatan spesialis.
Bagi anak-anak yang kehilangan keluarga sekaligus menderita cedera yang mengubah hidup mereka, dampaknya jauh melampaui sekadar penanganan darurat awal.
Sebuah penilaian PBB tahun 2026 memperkirakan bahwa lebih dari 5.000 tindakan amputasi anggota tubuh telah dilakukan di Gaza sejak Oktober 2023, dengan satu dari setiap lima orang yang diamputasi adalah anak-anak.
Penilaian tersebut juga memperkirakan bahwa hingga 56.000 kasus cedera memerlukan rehabilitasi berkelanjutan.
“Banyak dari mereka yang selamat dari cedera ini harus menghadapi dampak fisik seumur hidup. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa lebih dari 43.000 orang di Gaza telah mengalami cedera yang berpotensi mengubah hidup mereka,” ujar juru bicara MSF.
“Kasus cedera seperti ini terus terjadi. Pada bulan Juli 2026 saja, tim MSF menangani 567 orang dengan cedera akibat trauma kekerasan, termasuk cedera akibat ledakan, luka bakar, luka tembak, dan cedera akibat kekerasan fisik,” tambah MSF.
Akibat sistem layanan kesehatan Gaza yang rusak parah karena perang, maka penyediaan perawatan dasar menjadi semakin sulit dilakukan.
Lebih dari separuh rumah sakit di wilayah tersebut tidak beroperasi pada saat penilaian oleh PBB, Uni Eropa, dan Bank Dunia dilakukan pada pertengahan tahun 2026, sementara kelangkaan pasokan medis terus menghambat operasi kemanusiaan.
Namun, bagi banyak anak, selamat dari cedera fisik hanyalah awal dari perjuangan yang jauh lebih panjang, karena dampak psikologis akibat kekerasan dan kehilangan dapat terus membekas lama setelah luka fisik mereka sembuh.
Bagi anak-anak di Gaza, dampak psikologis perang semakin sulit dipisahkan dari kehidupan masa kanak-kanak sehari-hari.
Kekerasan, pengungsian, dan kehilangan telah mengubah cara banyak anak menjalani momen-momen yang biasanya dianggap biasa.
Krisis kemanusiaan terus berlanjut meskipun gencatan senjata telah diumumkan pada Oktober 2025.
Sebagian besar penduduk Gaza masih mengungsi, sementara kepadatan penduduk, infrastruktur yang rusak, serta terbatasnya akses terhadap air, sanitasi, tempat tinggal, dan layanan kesehatan terus mewarnai kehidupan sehari-hari.
Pada September 2026, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), 91 persen rumah tangga yang disurvei mengalami kerawanan air tingkat sedang hingga tinggi.

Save the Children telah mendokumentasikan penurunan drastis dalam kesejahteraan mental anak-anak sejak perang dimulai.
Hasil penilaian organisasi tersebut menunjukkan bahwa banyak anak kesulitan membayangkan masa depan di luar situasi konflik ini.
Organisasi tersebut memperingatkan bahwa pengungsian dan kehilangan yang berulang semakin memperparah tekanan psikologis, sehingga anak-anak hampir tidak memiliki kesempatan untuk kembali mendapatkan stabilitas hidup.
Pada April 2026, LSM tersebut melaporkan bahwa anak-anak mengubah permainan petak umpet menjadi permainan “perang”, berpura-pura saling menembak, melempar rudal, dan berpura-pura mati, sementara anak-anak lainnya menggelar upacara pemakaman untuk boneka mereka.
Sementara itu, organisasi War Child melaporkan kekhawatiran serupa mengenai anak-anak yang terluka, terpisah dari kerabat, atau tidak mendapatkan perawatan yang memadai.
Penilaian mereka pada tahun 2024, yang melibatkan 504 keluarga, menemukan adanya tekanan psikologis yang mendalam pada anak-anak yang sangat rentan ini.
Para pendamping anak menggambarkan kondisi anak-anak yang kesulitan menerima situasi di sekitar mereka dan hidup dengan bayang-bayang kematian yang terus menghantui.
Laporan tersebut menunjukkan bagaimana trauma dapat muncul melalui perilaku ketika anak-anak tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkannya.

Bagi Salma, remaja berusia 14 tahun yang berhasil melarikan diri ke Mesir bersama kerabatnya yang selamat melalui perlintasan Rafah, trauma itu terus membayanginya bahkan setelah keluar dari Gaza.
Ia mengatakan bahwa suara-suara yang muncul tiba-tiba masih membuatnya terkejut.
“Setiap suara keras membuat jantung saya berdegup sangat kencang, terkadang saya kesulitan bernapas dan telapak tangan saya berkeringat. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya tidak merasa seperti ini. Saya bahkan lupa rasanya menjadi tenang,” ujarnya Salma seperti dilansir Arab News.
Salma merasa dirinya berbeda dari teman-teman sekelasnya di sekolahnya di Mesir. Ia menyadari bahwa banyak hal yang dulu dianggapnya lucu kini tidak lagi mampu membuatnya tersenyum.
Ia khawatir teman-teman sekelasnya menganggapnya sebagai sosok yang murung.
“Saya berusaha untuk membaur, saya ingin merasa bahagia, namun ada beban berat yang tidak bisa saya hilangkan. Saya khawatir akan terus seperti ini selamanya. Kehidupan saya sebelum perang terasa seperti mimpi yang jauh,” ungkap Salma.
Menurutnya, kesehatan mental keluarganya telah hancur lebur.
“Saya berusaha membuatnya bahagia, namun apa yang bisa menggantikan kehilangan ibu dan saudara-saudaranya? Bayangan saat melihat jenazah mereka? Dia telah melihat terlalu banyak hal dan mengetahui terlalu banyak. Kenyataan pahit ini seharusnya menjadi sesuatu yang tak terbayangkan bagi seseorang seusianya,” tuturnya Salma.
“Setiap hari adalah perjuangan. Rasanya kami semua sudah mati pada hari ketika bangunan itu runtuh dan menewaskan anggota keluarga kami yang lain. Rasanya seperti kami sudah terkubur, namun belum benar-benar mati.”
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) tetap menjadi salah satu penyedia layanan pendidikan darurat dan dukungan psikososial terbesar di Jalur Gaza.
Antara 7 Oktober 2023 dan 21 September 2026, tim pekerja sosial UNRWA melaporkan telah memberikan layanan kepada 284.998 orang pengungsi, termasuk layanan pertolongan pertama psikologis.
Tim kesehatan UNRWA yang mencakup psikiater, konselor psikososial, dan penyelia, terus memberikan layanan psikososial di Kota Gaza dan wilayah Khan Younis, serta menangani kasus-kasus khusus yang dirujuk dari pusat kesehatan UNRWA dan tempat penampungan darurat kolektif.
James Gordon, seorang psikiater asal Amerika Serikat yang telah mendampingi anak-anak dan orang dewasa yang mengalami trauma di Gaza melalui Center for Mind-Body Medicine selama lebih dari dua dekade, mengatakan bahwa mereka yang mengalami trauma berat pun dapat kembali memiliki kendali atas hidup dan rasa keterhubungan jika diberikan sarana praktis serta dukungan komunitas.
Pendekatan tersebut sangat relevan di Gaza, tempat trauma tidak hanya berasal dari satu peristiwa tunggal.
Anak-anak di sana berulang kali menghadapi pengeboman, pengungsian, serta kehilangan orang-orang dan tempat-tempat yang selama ini memberi mereka rasa aman.
Tantangannya bukanlah membantu anak-anak melupakan apa yang telah terjadi, melainkan membantu mereka merasa cukup aman untuk menjalani hidup melampaui pengalaman pahit tersebut.
Upaya Gordon memberikan secercah harapan, luka psikologis memang bisa pulih, namun pemulihan membutuhkan kondisi yang memungkinkan proses penyembuhan itu terjadi.
Bagi anak-anak di Gaza, hal ini berarti lebih dari sekadar akses ke layanan konseling. Mereka membutuhkan tempat tidur yang stabil, sosok dewasa yang dapat memberikan rasa tenang, sekolah tempat rutinitas bisa kembali berjalan, serta rasa aman yang memadai untuk bermain.
Setelah sebagian besar masa kanak-kanak mereka dihabiskan dalam upaya bertahan hidup, langkah awal menuju pemulihan mungkin adalah memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk membayangkan masa depan yang wajar, dan meyakini bahwa masa depan seperti itu benar-benar bisa mereka miliki. (rus)
