Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Banyak yang mencarinya karena ia menghadirkan sejuta cerita. Tentang gunung, tanah, petani, leluhur, dan aroma yang tidak mudah dipindahkan ke tempat lain. Pulu Mandoti. Sebuah cerita dari Enrekang, Sulawesi Selatan. Ia seperti puisi yang ditulis alam dengan tinta tanah dan diwariskan dari tangan ke tangan.
Pulu Mandoti bukan sekadar ketan wangi. Ia adalah varietas lokal yang keistimewaannya sangat terkait dengan lingkungan tempat ia tumbuh. Kawasan Salukanan dan Kendenan di Kecamatan Baraka, Enrekang, selama bertahun-tahun menjadi rumah bagi beras ini. Sebuah ruang ekologis dimana tanah, ketinggian, air, iklim, benih, dan pengetahuan petani bertemu dalam komposisi yang sulit ditiru. Karena itu, memindahkan benihnya belum tentu berarti memindahkan seluruh keistimewaannya.
Di sinilah ilmu pertanian bertemu dengan kearifan leluhur. Mungkin ada yang berpikir : benih hanyalah benda kecil yang dapat dibawa ke mana saja. Padahal, sebuah varietas lokal dapat menyimpan hubungan yang jauh lebih rumit dengan ekosistemnya. Karena di sana ada mikroklimat, tanah, tata air, pola budidaya, hingga pengetahuan manusia yang merawatnya. Pulu Mandoti seakan berbisik bahwa dalam pertanian, tempat bukan sekadar lokasi; tempat adalah bagian dari rasa.
Negara telah memberikan pengakuan terhadap keunikan tersebut. Beras Pulu’ Mandoti Enrekang telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis, sebuah pengakuan bahwa karakter, reputasi, dan kualitas produk memiliki hubungan dengan wilayah asalnya. Bagi kita, sertifikat itu seharusnya tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi menjadi pintu masuk menuju perlindungan petani, penguatan merek, pengendalian mutu, dan peningkatan nilai tambah di tingkat lokal.
Pulu Mandoti mengajak kita melihat sisi lain bahwa di balik produksi padinya yang besar, Indonesia juga memiliki pangan-pangan kecil yang menyimpan nilai luar biasa besar.
Menariknya, harga Pulu Mandoti dapat mencapai puluhan ribu rupiah untuk ukuran yang relatif kecil, jauh di atas beras konsumsi biasa. Harga itu memang menggoda untuk disebut sebagai keberhasilan. Namun, harga tinggi belum otomatis berarti kesejahteraan tinggi bagi petani. Di antara sawah dan meja konsumen terdapat biaya produksi, waktu tanam yang panjang, risiko gagal panen, pengolahan, pengemasan, transportasi, perdagangan, dan margin berbagai mata rantai.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah: “Mengapa Pulu Mandoti mahal?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Mengapa petani yang menjaga beras mahal ini tidak boleh menjadi pihak yang paling menikmati nilainya?” Di sinilah pembangunan pangan harus bergerak dari sekadar mengejar produksi menuju pembangunan ekosistem nilai.
Kita membutuhkan model yang sederhana tetapi nyata. Kelompok petani perlu diperkuat sebagai pemilik bersama mutu dan merek; benih harus dijaga kemurniannya; standar produksi dan pascapanen perlu diperbaiki; pengeringan, penyimpanan, dan pengemasan harus memenuhi standar; sementara pemasaran dapat dilakukan melalui koperasi atau badan usaha lokal agar posisi tawar petani tidak terlalu lemah. Petani tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah; petani harus naik kelas menjadi pemilik nilai.
Teknologi digital dapat menjadi jembatan baru. Setiap kemasan Pulu Mandoti premium, misalnya, dapat dilengkapi kode yang memungkinkan konsumen mengetahui asal wilayah, kelompok tani, musim panen, proses pengolahan, dan standar mutu. Sederhana, tetapi penting: konsumen tidak sekadar membeli 500 gram atau satu kilogram beras; mereka membeli keaslian yang dapat dipercaya.
Pemerintah daerah dan perguruan tinggi perlu menjadikan Pulu Mandoti sebagai laboratorium hidup bagi inovasi pangan lokal. Riset tidak hanya diarahkan pada produksi dan produktivitas, tetapi juga pada konservasi varietas, kualitas tanah, efisiensi air, pengendalian hama yang ramah lingkungan, pascapanen, desain kemasan, ekonomi petani, hingga pengembangan kuliner. Dengan begitu, ilmu pengetahuan tidak berdiri jauh di atas sawah, tetapi turun menyentuh lumpur, akar, tangan petani, dan kebutuhan pasar.
Ada pula pekerjaan yang tak kalah pentingnya: regenerasi petani. Anak muda Salukanan dan Kendenan harus melihat bahwa menjadi petani Pulu Mandoti bukan berarti kembali ke masa lalu. Justru mereka dapat menjadi generasi baru yang menggabungkan sawah dengan teknologi, tradisi dengan desain, benih dengan branding, dan pertanian dengan pariwisata serta ekonomi kreatif.
Pulu Mandoti juga mengingatkan, agar tidak terjebak pada logika produksi massal. Tidak semua pangan harus dibuat sebanyak-banyaknya. Ada produk yang justru menjadi bernilai karena keterbatasan wilayah tumbuh, kekhasan aroma, proses budidaya, dan sejarah panjang yang menyertainya. Kelangkaan yang dijaga dengan baik dapat menjadi kekuatan ekonomi; kelangkaan yang dieksploitasi tanpa kendali justru dapat menjadi awal kehancuran.
Maka, strategi terbaik mungkin bukan menjadikan Pulu Mandoti sebagai “beras biasa yang mahal”, tetapi menjadikannya pangan premium berbasis wilayah. Pemerintah dapat memperkuat perlindungan Indikasi Geografis, kelompok tani menjaga standar, pelaku usaha membangun hilirisasi, perguruan tinggi memperkuat riset, dan generasi muda mengembangkan pasar digital. Semua bergerak dalam satu arah: menjaga keaslian sambil meningkatkan kesejahteraan.
Di tengah Indonesia memperkuat ketahanan pangan, kisah Pulu Mandoti menawarkan pengertian yang lebih luas. Ketahanan pangan bukan hanya tentang kemampuan menghasilkan jutaan ton beras, tetapi juga kemampuan menjaga agar varietas lokal tidak hilang, pengetahuan petani tidak putus, dan kekayaan pangan Nusantara tidak berubah menjadi sekadar cerita masa lalu. Pulu Mandoti mengingatkan bahwa kekuatan pangan Indonesia juga berada pada keragaman yang tidak selalu terlihat dalam angka produksi nasional.
Barangkali karena itu, kita perlu belajar melihat sebutir beras dengan cara yang berbeda. Di dalamnya ada tanah yang diam tetapi bekerja, air yang mengalir tanpa banyak bicara, matahari yang memberi tenaga, petani yang menanam dengan kesabaran, dan waktu yang tidak pernah dapat dipercepat sesuka manusia. Ketika nasi telah tersaji di atas piring, yang hadir sesungguhnya bukan hanya makanan, melainkan pertemuan panjang antara alam, manusia, kebudayaan, dan kasih Tuhan.
Pulu Mandoti akhirnya bukan hanya cerita tentang beras yang mahal. Ia adalah cerita tentang nilai—bahwa sesuatu menjadi bernilai ketika kita mampu mengenali keunikannya, menjaganya dengan amanah, dan membagikan manfaatnya secara adil.
Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa makna; tugas manusia bukan sekadar mengambil hasilnya, tetapi membaca tanda-tanda kebesaran-Nya dan merawatnya.
Tanah yang dijaga akan memberi kehidupan, tradisi yang dirawat akan memberi identitas, dan pangan yang dihargai dengan adil akan menghidupkan manusia yang menanamnya.
__________
Muliadi Saleh: ” Menulis Makna, Membangun Peradaban “.
