Idul Kurban dan Pil Sabar Mentan

(Catatan Ringan di Sela Kunjungan Kerja Menteri Pertanian RI)

Berita, Opini1132 Dilihat

Ahmad Musa Said
Pengurus Pusat Ikatan Alumni (IKA) UNHAS

Foto: Dok. pribadi

 

IDUL Kurban adalah momen pendekatan penuh keikhlasan bagi seorang hamba kepada Allah sang Maha Pencipta. Pada Idul Kurban kali ini Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman (AAS) berkurban sebanyak 88 ekor sapi.

Sebanyak 22 ekor penyembelihannya dilakukan di Head Office (HO) Tiran Group, sedangkan 66 lainnya disalurkan melalui berbagai Ormas keagamaan, kepemudaan, pesantren, kerabat dan kolega, baik di Makassar maupun wilayah lainnya, seperti Jakarta dan Bone.

Ketika dikonfirmasi apa makna jumlah 88 ini, Mentan AAS menyatakan ini secara spontanitas saja, mengingat dirinya adalah angkatan 88 di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas).

Adapun 22 ekor di HO Tiran Group mungkin hanya sebagai simbol kesyukuran atas kemenangan calon nomor 2 (Prabowo Subianto) dari Partai nomor urut 2 (Gerindra) di Pilpres kemarin. Atau sebagai bentuk syukur atas terpilihnya putra pertama beliau, Andi Amar Ma’ruf Sulaiman sebagai anggota DPR RI periode 2024-2029 dari Dapil Sulsel 2, dari Partai nomor urut 2, dan caleg nomor 2.

Namun, tentu yang terpenting adalah tercapainya tujuan kurban sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Perintah berkurban ini sendiri sesuai QS. Al Kautsar [108] ayat 1-3 sebagai wujud syukur atas nikmat Allah yang tak terkira jumlahnya.

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.

Spirit kurban ini juga menguatkan jjwa karena adanya jaminan, bahwa bagi pekurban yang betul-betul ikhlas karena Allah, maka Allah akan menjadi pelindungnya, dan bahwa siapa yang membenci hamba Allah yang telah berkurban dengan benar, maka sesungguhnya dialah yang terputus dari rahmat Allah SWT.

Pil Sabar

Sikap tawakkal ini yang tampaknya semakin dijiwai oleh Ketua Umum IKA Unhas ini. Pil Sabar, ini yang disebut AAS dalam arahannya di Palangkaraya, Jumat 14 Juni lalu.

“Menjadi Mentan itu kiri-kanan diserang, harga naik konsumen teriak, harga turun petani teriak. Jadi saya konsumsi obat paten, Pil Sabar, agar terus berusaha memberikan yang terbaik, meski tak pernah memuaskan semua pihak secara bersamaan,” ujar Mentan AAS.

Begitu pula sejak menjabat untuk kedua kalinya sebagai Menteri Pertanian, AAS dinilai lebih bijak oleh ASN di lingkup Kementerian Pertanian. Kalau pada periode lalu dia sempat mengganti 11 eselon I dalam sehari, kali ini pria kelahiran Bakunge, Bone, itu tampak lebih soft dalam menakhodai Kementerian strategis ini.

Dalam perhatian beberapa stafnya, kali ini Mentan AAS lebih banyak menegur stafnya dengan cara bercanda, jadi terbawa untuk tertawa, namun pesannya akan tertanam dalam bagi yang diingatkan.

Hati yang Baik akan Mencari yang Baik-baik Juga

Tentu butuh kepekaan yang tinggi bagi bawahan untuk mengerti pesan-pesan seperti ini. Istilah beliau adalah bahasa kalbu, jika hati yang berbicara, kita akan tersambung walau berbeda bahasa.

Sebagai tokoh publik, dengan berbagai karunia yang didapatkannya termasuk jabatan publik saat ini, tentu mata publik juga akan tersorot kepada sosok pecinta utti barangang ini.

Mata publik itu tergantung hatinya, kalau hatinya baik tentu akan melihat dan mencari yang baik-baik, namun jika hatinya buruk, akan mencari yang buruk juga.

Mulut publik menguliti mulai jabatan, bisnis, bahkan hal-hal yang bersifat pribadi pun diurusi. Bahkan terkadang sudah mengarah kepada fitnah yang melecehkan.

Ketika dikonfirmasi terkait berita-berita fitnah tersebut, salah satu kerabat AAS menyatakan bahwa Mentan justru berusaha menenangkan keluarga, kerabat dan sahabat dekatnya yang sangat tersinggung dengan fitnah-fitnah murahan tersebut.

Salah satu keluarga AAS ketika meminta arahan apakah perlu membuat counter opini ketika ada fitnah malah ditanya balik, apa gunanya? Kalau hati orang sudah busuk, mau bukti berapapun kamu sampaikan tidak akan mengubah pendapatnya, seperti lalat, kamu tawari parfum dan sampah, pasti dia pilih sampah.

Sekarang yang terpenting adalah perbanyak ibadah, perbaiki diri, tingkatkan amal saleh, dan amal sosial. “Apa sih yang kita cari di hidup ini? Ujung-ujungnya kita akan mati semua, jadi simpan dan hematkan energimu untuk hal positif, jangan buang waktu dan umur untuk membahas hal yang tak penting,” tegas AAS.

Sikap santainya dalam menghadapi fitnah yang sering menyerangnya memang terkadang membuat gemas keluarga yang tak terima kalau AAS difitnah, tapi mereka juga tak dapat bertindak kalau AAS tidak mengizinkan. Makanya, pihak keluarga inti lebih banyak diam.

Beda Jalan bukan Berarti Bermusuhan

Begitu pula ketika ditanya terkait pencalonan Andi Iwan Aras yang tengah digadang-gadang akan menjadi calon gubernur Sulawesi Selatan menjadi kompetitor adiknya.

AAS menjelaskan bahwa Gerindra adalah partai besar dan sangat diperhitungkan dalam peta politik nasional dan lokal. Jika Gerindra mencalonkan kadernya, tentu itu adalah hak prerogatif partai yang harus kita hormati bersama.

“Tentu saya akan menyarankan adik saya untuk tetap menjalin komunikasi dengan Gerindra Sulsel, namun jika harus berbeda jalan, tentu bukan berarti bermusuhan. Bagaimanapun, anak saya adalah Gerindra, kita semua keluarga, dan Andi Iwan Aras adalah keluarga dan sahabat yang sangat saya banggakan. AIA adalah salah satu model politisi yang elegan dan santun dalam berpolitik. Kami sering komunikasi, baik via telepon maupun bertemu langsung, tentu persahabatan dan persaudaraan kami tak akan rusak hanya karena urusan politik,” tandas AAS.

Rasa hormat AAS pada tokoh-tokoh besar Sulsel memang sering diungkapkan, baik terhadap Jusuf Kalla, Syahrul Yasin Limpo yang hari ini sedang diuji, bahkan Ilham Arief Sirajuddin yang diketahui kemungkinan akan jadi lawan tanding adiknya di Pilgub Sulsel yang akan datang.

AAS bahkan menyatakan, pak IAS itu tokoh yang matang dalam politik, rasa hormat saya pada beliau tak akan pernah hilang walau mungkin akan berbeda pilihan. Ya, tokoh yang disapa IAS tersebut memang pernah terlihat bergandengan tangan dengan Andi Asman Sulaiman, adik dari Andi Sudirman Sulaiman, calon kompetitornya.

Di bawah foto yang mengabadikan momen tersebut ada kalimat berbunyi, “Bersaing dalam politik adalah sebuah keniscayaan, tapi bermusuhan, itu pilihan”. Tak salah jika Mentan AAS menaruh hormat pada seniornya di Pertanian Unhas yang akrab disapa Aco ini.

Ketika dikonfirmasi apakah kabar akan majunya AIA pertanda bahwa AAS ditinggalkan oleh Haji Isam, ponakannya yang diketahui banyak membantu dalam Pilgub 2019 lalu.

Mentan Amran tertawa besar, sambil berkata: “Ada-ada saja kamu, sembarang saja kamu hubung-hubungkan,” ujarnya.

Ya, dalam beberapa kali pertemuan dengan Haji Isam, kami menyaksikan bagaimana Haji Isam begitu takzim pada pamannya dan AAS pun begitu sayang pada ponakannya. Meskipun AAS sering berkata saya sangat menjaga perasaan ponakan saya jangan sampai tersinggung, tapi dalam interaksinya terlihat begitu cair, santai dan lepas, tak jarang AAS menggoda Jhoni, putra Haji Isam terkait berapa jumlah pacarnya, yang membuat Haji Isam pun ikut tertawa lepas.

Sayangnya momen-momen tersebut tak pernah kami dokumentasikan demi menjaga privasi dan tak ingin kenyamanan pertemuan keluarga tersebut terganggu.

Maka mulai saat ini mari kita ikut tersenyum, hargai dinamika yang berkembang, perbaiki niat, jangan salah niat, dan jangan sampai persahabatan dan persaudaraan rusak hanya karena politik. Jangan lupa, senyum itu sedekah. Tabe Lompo, Selamat Iduladha, Wassalam. (*/rs)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *