KABARIKA.ID, MAKASSAR — TanggaArt Universitas Hasanuddin (Unhas) mempersiapkan reuni dalam waktu dekan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Panitia telah menyusun sejumlah acara seru yang dikemas secara santai dan akrab. Di antaranya pertunjukan musik akustik, siaran langsung melalui media sosial, aneka permainan, serta kuis berhadiah.

Direktur Acara Reuni TanggaArt, Alauddin Latif—yang akrab disapa Atong—mengungkapkan pilihan konsep akustik dipilih agar suasana tetap rileks dan memberi ruang bagi para alumni untuk berbincang lebih lama.

“Intinya memang temu kangen. Musik akustik bisa jadi latar yang nyaman buat ngobrol,” ujar Atong kepada wartawan Kamis (5/6/2025).

Acara reuni ini akan berlangsung di Enreco Coffee, Makassar. Acara akan disiarkan secara live melalui media sosial.

Alumnus Ilmu Komunikasi angkatan 1995 ini melanjutkan, hal ini disiapkan agar para anggota komunitas yang berada di luar kota atau luar negeri tetap bisa merasakan suasana kebersamaan.

Salah satu contohnya adalah Ashry Sallatu atau Gego, dosen FISIP Unhas yang kini sedang menempuh studi doktoral di Belanda.

“Gego kemungkinan besar tidak bisa hadir karena belum sempat mudik,” tambah Atong.

Sementara itu, Bendahara Panitia Abdul Rahman Tahir—akrab disapa Arman, alumni Ilmu Politik FISIP angkatan 1998—menyebutkan bahwa berbagai hadiah dan souvenir telah disiapkan untuk memeriahkan kegiatan.

“Reuni ini dibuat oleh dan untuk kita. Saatnya bernostalgia dan bersuka cita bersama,” ucapnya.

Komunitas TanggaArt sendiri bermula pada tahun 1996 sebagai wadah mahasiswa lintas fakultas yang ingin berkreasi di lingkungan Kampus Merah. Mereka aktif menggelar diskusi, pertunjukan seni, hingga kegiatan edukatif, dan dikenal dengan pendekatan kreatif dan lintas batas.

Ketua Panitia Reuni, Ali Imran (alumni Sosiologi Unhas 1996), menjelaskan bahwa ini adalah pertama kalinya TanggaArt mengadakan reuni resmi.

“Setelah lulus, teman-teman tersebar ke berbagai daerah, bahkan luar negeri. Sulit untuk berkumpul secara fisik dalam skala besar,” jelasnya.

Biasanya, pertemuan hanya terjadi secara informal dan terbatas di kota-kota tertentu.

Lebaran Idul Adha 2025 dianggap momen tepat karena banyak anggota yang mudik ke Makassar.

Meski komunikasi masih terjalin lewat grup WhatsApp, menurut Ali, ada kerinduan yang besar untuk bertemu langsung.

“Kita masih membayangkan teman-teman seperti dulu. Padahal, tentu banyak yang sudah berubah,” ujarnya.

Irawan, salah satu anggota TanggaArt yang kini tinggal di Jakarta, mengungkapkan hal serupa.

Ia mengaku rindu pada teman-teman seperjuangan semasa kuliah dan menyayangkan jarangnya kesempatan bertemu karena kesibukan dan domisili yang tersebar.

TanggaArt dikenal sebagai komunitas yang penuh kreativitas.

Nama “TanggaArt” terinspirasi dari tangga-tangga kampus yang kerap menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, dan bermain ide. Bahkan saat masih kuliah, mereka kerap disebut “nyeleneh” karena ide-idenya yang tak biasa.

Dr. Handam—dikenal dengan nama Om Ancong—yang kini mengajar di Universitas Muhammadiyah Makassar, mengenang masa itu sebagai momen penuh kebebasan berekspresi.

“Komunitas ini sangat plural, dari berbagai fakultas, organisasi, agama, dan latar belakang sosial. Tapi semua bisa menyatu karena punya semangat yang sama,” kenangnya.

Sekretaris panitia, Hairul Azis alias Bang Elu, menyampaikan bahwa persiapan reuni sudah mencapai 90 persen. “Undangan sudah kami sebar. Insya Allah kita bertemu tanggal 8 di Makassar,” pungkasnya.