Oleh: Prof. Tasrief Surungan, Ph. D.
Plt WR1 Unsulbar Anggota Dewan Profesor dan Senat Unhas
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
KABARIKA.ID, MAJENE — Satu hal, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memang seorang doktor dalam bidang pertanian. Beliau tahu betul seluk beluk bagaimana visi dan misi Presiden Prabowo Subianto dalam bidang pertanian diwujudkan.
Selaku Plt WR1 Unsulbar, saya menjadi bagian dari tuan rumah
saat Pak Mentan tampil memberi kuliah tamu di hadapan Civitas Akademik Unsulbar. Saya sempat berbisik ke Pak Mentan bahwa saya baru sekitar 3 pekan bertugas sebagai PLT di Unsulbar.
Banyak hal yang beliau ulas, mulai dari memotivasi mahasiswa agar benar-benar menjadi agen perubahan, juga tentang hilirisasi di bidang industri pertanian. Dalam hal memotivasi mahasiswa, Pak Mentan adalah seorang motivator ulung. Ini tidak terlepas dari perjalanan hidup Beliau, sejak kecil hingga menjadi Menteri. Semuanya penuh dengan perjuangan dan kerja keras.
Sebagai sesama Alumni Unhas dan sesama dosen dengan homebase Unhas, uraian Beliau terkait Bidang Pertanian mengingatkan saya pada sosok dan gagasan Prof. Ahmad Amiruddin, Rektor Unhas pada pertengahan dekade 70-an hingga awal 80-an. Home-base Beliau adalah FMIPA Institut Teknologi Bandung, Guru Besar Kimia Nuklir.
Usai memimpin Unhas sebagai Rektor, Prof. Ahmad Amiruddin menjadi Gubernur Sulawesi Selatan, pada pertengahan dekade 80-an.
Program Prof. Ahmad Amiruddin yang sangat terkenal ketika itu terdiri atas 3 pilar yaitu Perubahan Pola Pikir (Mind-set), Pengwilayahan Komoditas, dan Petik-Olah-Jual.
Pak Mentan meng-cover tiga hal ini dengan sangat baik, mengembangkannya dan disertai contoh serta bukti nyata.
Perubahan pola pikir menjadi tema yang disampaikan Pak Mentan di awal kuliah. Intinya, mahasiswa harus mampu berpikir progressive dan confidence, atas izin Sang Khaliq, tidak ada yang tidak mungkin (there is nothing impossible), ungkap Pak Mentan.
Kisah hidup Pak Mentan yang dituturkan di mimbar kuliah adalah informasi langsung (tanpa perantara), dan disampaikan secara jegas (jelas dan lugas), apa adanya, dan itu benar-benar menyentuh.
Karena saya duduk menghadap audiensi, bersama Pak Rektor, WR2 dan WR3 serta Wakil Bupati Majene Ibu Andi Ritamariani, saya saksikan sejumlah civitas akademik Unsulbar terhanyut dan banyak yang berlinang air mata, bukan karena kisah sedih, tetapi kegigihan yang luar biasa dan menginspirasi.
Ada foto masa lalu saat Pak Mentan hidup sebagai mahasiswa yang tinggal di Pondokan, berbaring loyo di kamar, karena belajar keras dan mungkin karena asupan yang mungkin lumayan sederhana.
Pesan inti yang terkait dengan perubahan pola pikir yang disampaikan Pak Mentan adalah percaya (yakin) kepada Sang Khaliq. Beliau menyebut tiga aras (tingkatan) keyakinan, dari Ainul Yakin, Ilmul Yaqin hingga Haqqul Yakin.
Jika ingin sukses, Mahasiswa dan Masyarakat harus sampai pada Haqqul Yakin bahwa dengan bekerja dan belajar keras, Insya Allah para pemuda yang kini berstatus mahasiswa akan mampu mengantarkan Indonesia mencapai cita-cita kemerdekaannya.
Dalam kaitan dengan Peng-wilayahan komoditas, kunjungan Kerja Pak Mentan kali ini di Sulbar adalah dalam rangka mewujudkan wilayah Kabupaten Majene sebagai sentra produksi bawang.
Sebab itu, sebelum Kuliah Umum tadi, Pak Mentan didampingi oleh Unsur Pimpinan Daerah (Gubernur dan Para Bupati), melaksanakan kick-off penanaman bawang di salah satu area perkebunan di Kecamatan Banggae Majene.
Jenis Bawang yang akan dikembangkan adalah bawang khas Mandar (Lasuna Mandar), yang aroma dan cita-rasanya khas, perpaduan antara bawang merah biasa dan bawang putih.
Terkait Petik-olah-jual dalam istilah Prof. Ahmad Amiruddin, dimoderenkan dalam bahasa sekarang Hilirisasi.
Pak Mentan menunjukkan Skema Hilirisasi sejumlah hasil bumi di Sulbar, salah satunya ada kelapa. Jika selama ini kelapa di wilayah ini dikelola oleh masyarakat menjadi minyak goreng Mandar, maka dengan program hilirisasi, minyak Mandar akan diproduksi menjadi VCO (Virgin Coconut Oil). Dengan sentuhan riset dan teknologi yang menghasilkan VCO masih dapat didorong untuk menjadi bahan dasar obat dan kosmetik.
Kuliah umum Pak Mentan berlangsung hampir 2 jam, namun karena isinya padat dan menarik, audiens merasakan sangat singkat. Gemuruh tepuk tangan Civitas akademik mengiringi hampir setiap paragraf Pak Mentan.
Kehadiran Beliau di Kampus Unsulbar benar-benar dirasakan seperti Oase di padang pasir, sebab selain memberikan bantuan langsung untuk fakultas Pertanian dan Kehutanan, Fakultas Peternakan dan Perikanan berupa induk Kambing dan Sapi, pak Mentan juga memberi santunan uang kuliah bagi mahasiswa yatim piatu yang hadir.
Menjelang pamit, Pak Mentan sempat menyinggung pengadaan lahan pertanian dan hutan perkebunan bagi Unsulbar.
Yang ini mengingatkan saya pada Hutan Pendidikan Unhas yang ada di Bengo-Bengo Kabupaten Maros. (*)
